Semangat Sumpah Pemuda Dorong Indonesia Bertahan dan Berprestasi di Tengah Gejolak Global

123Berita – 10 April 2026 | Jakarta – Dalam sebuah pidato yang menyoroti peran nilai kebangsaan, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda menjadi landasan kuat bagi Indonesia untuk tetap bertahan dan meraih prestasi meski berada dalam situasi geopolitik yang penuh tantangan. Prabowo menekankan bahwa pemerintah saat ini tengah menavigasi bangsa melalui berbagai bahaya yang muncul dari konflik global, sambil menjaga stabilitas dalam negeri.

Pidato tersebut disampaikan di sebuah forum kebangsaan yang memperingati peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Prabowo mengingatkan bahwa ikrar para pemuda pada tahun 1928 – “Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa” – tetap relevan sebagai pendorong persatuan dan ketahanan nasional. Menurutnya, semangat itu tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga menjadi motor penggerak kebijakan strategis pemerintah dalam menghadapi dinamika internasional.

Bacaan Lainnya

Dalam konteks konflik global yang melibatkan perang di Eropa, ketegangan di Asia-Pasifik, serta krisis energi dan pangan, Prabowo menilai bahwa Indonesia telah menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Pemerintah, ia katakan, telah mengimplementasikan kebijakan diversifikasi sumber energi, memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan produksi dalam negeri, serta meningkatkan diplomasi multilateral untuk melindungi kepentingan nasional.

Prabowo menambahkan bahwa pencapaian Indonesia di berbagai bidang, termasuk ekonomi, teknologi, dan olahraga, merupakan bukti nyata bahwa semangat kebangsaan dapat memicu inovasi. “Kita telah menjadi salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memproduksi barang teknologi tinggi, serta meraih medali di ajang internasional,” ujarnya. Ia menyoroti prestasi atlet muda yang mengangkat nama Indonesia di kompetisi dunia, serta perusahaan teknologi lokal yang berhasil menembus pasar global.

Namun, Prabowo tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih mengintai. Ia mengingatkan bahwa ancaman siber, perubahan iklim, serta ketidakpastian pasar global dapat menguji ketahanan bangsa. Untuk itu, pemerintah harus terus memperkuat sektor pertahanan, memperluas kerja sama strategis dengan negara sahabat, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan berbasis nilai kebangsaan.

Dalam menanggapi pernyataan tersebut, beberapa pakar politik menilai bahwa retorika kebangsaan memang penting untuk memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah di tengah gejolak dunia. Namun, mereka juga menekankan perlunya kebijakan yang transparan dan berbasis data untuk memastikan bahwa semangat kebangsaan tidak menjadi sekadar slogan, melainkan menjadi kebijakan yang efektif.

Pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menyatakan bahwa Indonesia telah berhasil menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menurunkan inflasi meski tekanan eksternal tetap tinggi. Di sektor pertahanan, anggaran pertahanan meningkat untuk memperkuat alutsista dan meningkatkan kemampuan militer dalam menghadapi ancaman non-konvensional.

Di bidang pendidikan, program integrasi nilai-nilai Pancasila dan Sumpah Pemuda ke dalam kurikulum diupayakan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan yang mendalam. Selain itu, beasiswa bagi mahasiswa berprestasi di bidang sains dan teknologi turut didorong untuk menyiapkan generasi yang mampu bersaing secara global.

Secara keseluruhan, pesan Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus tetap optimis namun realistis dalam menghadapi konflik global. Dengan mengedepankan semangat kebangsaan, meningkatkan ketahanan ekonomi, pertahanan, dan sumber daya manusia, Indonesia dapat terus bertahan dan berprestasi di panggung dunia.

Ke depan, tantangan tetap akan muncul, namun dengan fondasi yang kuat pada nilai-nilai kebangsaan, Indonesia diharapkan dapat menavigasi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Sebagaimana yang diungkapkan Prabowo, “Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berinovasi, berprestasi, dan menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain di dunia.”

Pos terkait