Selat Bab al-Mandeb: Titik Strategis Iran yang Bisa Mengguncang Pasokan Energi Global

Selat Bab al-Mandeb: Titik Strategis Iran yang Bisa Mengguncang Pasokan Energi Global
Selat Bab al-Mandeb: Titik Strategis Iran yang Bisa Mengguncang Pasokan Energi Global

123Berita – 07 April 2026 | Iran kembali menonjolkan ancaman geopolitik yang berpotensi memperburuk krisis energi dunia dengan menyoroti peran strategis Selat Bab al-Mandeb. Selat yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia ini menjadi jalur alternatif utama bila Selat Hormuz—yang selama ini menjadi fokus utama dunia—diganggu. Posisi geografisnya yang sempit namun vital menjadikan Bab al-Mandeb sebagai “senjata” potensial bagi Tehran dalam upaya menekan negara-negara yang bergantung pada ekspor minyak dan gas.

Bab al-Mandeb terletak di antara Yaman dan Djibouti, mengatur aliran hampir 18 juta barel minyak mentah serta produk petrokimia setiap harinya. Sekitar 3,2 juta barel per hari melintasi selat ini, sementara jalur pelayaran tambahan mengangkut barang-barang penting seperti gandum, bahan kimia, dan logistik militer. Jika akses ke selat ini terganggu, dampak logistik tidak hanya terasa pada pasar energi, tetapi juga pada rantai pasokan makanan dan barang industri global.

Bacaan Lainnya

Iran, yang selama beberapa dekade terakhir menggunakan ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai alat tawar menekan Amerika Serikat dan sekutunya, kini memperluas fokusnya. Dengan menyoroti Bab al-Mandeb, Tehran secara tidak langsung mengingatkan dunia bahwa kontrol atas satu titik sempit saja tidak cukup untuk menjamin keamanan energi. Penempatan kapal perang, drone, atau bahkan penambakan kapal niaga di perairan selat dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi yang meluas.

  • Posisi geografis kritis: Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah—yang menjadi jalur utama bagi minyak Timur Tengah menuju Eropa—dengan Samudra Hindia, membuka rute alternatif ke Asia.
  • Volume lalu lintas tinggi: Lebih dari 18 juta barel minyak per hari melintasi selat, menempatkannya sebagai jalur kedua terpenting setelah Hormuz.
  • Kerentanan keamanan: Konflik bersenjata di Yaman, kehadiran kelompok militan, serta kepentingan militer negara-negara Barat meningkatkan risiko gangguan.
  • Dampak ekonomi global: Penutupan atau gangguan di Bab al-Mandeb dapat menaikkan harga minyak, memperparah inflasi, dan menurunkan pertumbuhan ekonomi di negara importir.

Ketegangan di kawasan ini tidak lepas dari dinamika politik Yaman yang masih terpuruk. Perang saudara yang berlangsung sejak 2015 melibatkan koalisi pimpinan Arab Saudi, yang menguasai sebagian besar perairan selat, serta kelompok Houthi yang didukung Iran. Kedekatan geografis antara pangkalan militer Iran di Pulau Qeshm dan titik-titik strategis di Bab al-Mandeb memungkinkan Tehran menempatkan sistem pertahanan anti-kapal atau drone bersenjata yang dapat menembus zona keamanan internasional.

Selain ancaman militer, Iran juga dapat memanfaatkan diplomasi ekonomi. Dengan menekan negara-negara yang bergantung pada minyak Arab, Tehran berpotensi memaksa negosiasi ulang kesepakatan perdagangan atau menuntut pengurangan sanksi. Mekanisme ini mirip dengan taktik yang pernah diterapkan pada tahun 2019 ketika Iran mengancam menutup selat Hormuz sebagai respons atas tekanan sanksi Barat.

Para analis energi menilai bahwa gangguan di Bab al-Mandeb akan menambah beban pada pasar minyak yang sudah rapuh. Pada awal 2024, harga Brent sudah berfluktuasi di atas $90 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah. Jika selat ini terganggu, skenario kenaikan harga mencapai $110–$120 per barel tidak dapat dikesampingkan. Kenaikan ini akan menambah beban pada konsumen di Eropa dan Asia, memperlambat pemulihan ekonomi pasca pandemi, serta meningkatkan tekanan inflasi.

Negara-negara pengguna energi utama, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa, telah menyiapkan rencana kontinjensi yang meliputi peningkatan stok cadangan minyak strategis, diversifikasi jalur pasokan, dan percepatan transisi ke energi terbarukan. Namun, kemampuan mereka untuk mengalihkan aliran minyak secara signifikan dalam jangka pendek masih terbatas. Oleh karena itu, keamanan Bab al-Mandeb tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas pasar energi global.

Pemerintah Amerika Serikat dan sekutunya terus meningkatkan kehadiran militer di sekitar selat, termasuk penempatan kapal perusak dan pesawat patroli maritim. Upaya ini bertujuan mencegah eskalasi yang dapat mengganggu perdagangan internasional. Di sisi lain, Iran menegaskan haknya untuk melindungi kepentingan nasional, termasuk mengklaim bahwa penutupan selat merupakan respons sah terhadap tindakan provokatif oleh negara-negara Barat.

Secara historis, Bab al-Mandeb telah menjadi saksi berbagai konflik maritim, mulai dari Perang Dunia I hingga operasi militer koalisi melawan terorisme di awal 2000-an. Keberadaan fasilitas pelabuhan di Djibouti yang menjadi pangkalan NATO, China, serta Jepang menambah kompleksitas geopolitik di wilayah ini. Setiap gangguan pada selat tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga dapat memicu krisis kemanusiaan di Yaman, yang sudah mengalami kelaparan massal.

Kesimpulannya, ancaman Iran terhadap Selat Bab al-Mandeb menambah dimensi baru dalam persaingan geopolitik energi. Dengan volume perdagangan yang signifikan, posisi geografis yang menghubungkan dua laut utama, serta ketegangan politik yang terus memanas, selat ini berpotensi menjadi titik lemah yang dapat mengguncang pasokan energi dunia. Pemerintah internasional dan pelaku pasar harus memantau perkembangan secara cermat, mengembangkan strategi diversifikasi, serta memperkuat keamanan maritim untuk mencegah dampak ekonomi yang luas.

Pos terkait