123Berita – 10 April 2026 | Masalah pengangguran masih menjadi tantangan utama di banyak daerah Indonesia, termasuk di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Keterbatasan lapangan kerja formal memaksa lulusan perguruan tinggi untuk mencari alternatif sumber penghidupan yang lebih realistis. Di tengah dinamika tersebut, muncul kisah inspiratif seorang sarjana teknik informatika yang memilih kembali ke akar pertanian tradisional sebagai jalan hidup.
Marten, lulusan teknik informatika yang berasal dari Sumba Timur, memutuskan tiga tahun lalu untuk menapaki profesi petani jagung di Desa Kuta, Kecamatan Kanatang. Selama ini, ia mengelola lahan seluas satu hektar secara mandiri, menanam jagung yang kemudian dijual, dikonsumsi, maupun diolah menjadi pakan ternak. Keputusan Marten bukan sekadar soal kebutuhan ekonomi pribadi, melainkan juga upaya memanfaatkan potensi agraria yang selama ini belum tergarap optimal.
- Penghasilan tambahan dari penjualan jagung meningkatkan kesejahteraan keluarga.
- Hasil panen dapat dijadikan pakan ternak, memperluas rantai nilai pertanian.
- Tabungan dari usaha pertanian menjadi modal bagi diversifikasi usaha, misalnya peternakan.
Keluarga Marten turut serta dalam setiap fase produksi, mulai dari penanaman hingga pengolahan pasca panen. Keterlibatan anggota keluarga tidak hanya mempercepat proses kerja, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Pendapatan yang dihasilkan dari pertanian menjadi sumber utama bagi mereka, sekaligus menjadi tabungan yang dapat diinvestasikan kembali ke dalam usaha lain.
Berikut ini ringkasan data mengenai potensi dan pemanfaatan lahan jagung di Sumba Timur:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Luas lahan potensial jagung | 15.000 hektare |
| Persentase pemanfaatan saat ini | Kurang dari 50% |
| Kebutuhan jagung daerah | Terus meningkat (data tahunan) |
| Persentase pasokan luar daerah | Signifikan |
Data tersebut menegaskan adanya ruang gerak yang luas bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha pertanian. Marten mengaku bahwa sektor pertanian kini menawarkan peluang yang tidak kalah menarik dibandingkan dengan pekerjaan di bidang teknologi informasi, terutama bila didukung dengan inovasi seperti penggunaan pupuk organik, sistem irigasi sederhana, dan pelatihan manajemen kebun.
Di tingkat kebijakan, pemerintah daerah telah mulai menyadari pentingnya mengoptimalkan lahan pertanian. Beberapa program bantuan bibit, pelatihan agribisnis, serta akses permodalan mikro telah diluncurkan untuk mendorong partisipasi petani muda. Namun, tantangan tetap ada, antara lain keterbatasan infrastruktur pemasaran, akses informasi harga pasar, dan kebutuhan akan teknologi yang ramah lingkungan.
Keberhasilan Marten dalam mengubah profesi menjadi petani jagung memberikan contoh konkret bahwa pendidikan tinggi tidak harus selalu berakhir pada karier di kantor atau industri modern. Dengan menggabungkan pengetahuan akademik dan kearifan lokal, para lulusan dapat menciptakan model usaha yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Secara keseluruhan, peralihan karier dari sektor teknologi ke pertanian di Sumba Timur mencerminkan dinamika adaptasi tenaga kerja muda terhadap realitas lapangan kerja yang terbatas. Melalui pemanfaatan lahan yang belum optimal, dukungan kebijakan, serta semangat kewirausahaan, generasi sarjana dapat menjadi agen perubahan yang menghidupkan kembali sektor pertanian tradisional, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi seluruh komunitas.