123Berita – 07 April 2026 | Jakarta – Nilai tukar rupiah terus menurun tajam pada sesi penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026), menyentuh level Rp17.105 per dolar Amerika Serikat. Penurunan ini menandai salah satu titik terendah dalam tiga tahun terakhir dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, pelaku bisnis, serta pengamat ekonomi.
Penurunan kurs rupiah dipicu oleh sejumlah faktor eksternal dan internal. Di tingkat global, kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat yang terus menguatkan dolar melalui kenaikan suku bunga secara agresif telah memperlebar selisih suku bunga antara dua negara. Selain itu, sentimen risiko dunia masih dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Eropa dan Asia, yang mendorong investor mencari aset safe‑haven seperti dolar.
Di dalam negeri, tekanan pada nilai tukar muncul dari defisit neraca berjalan yang melebar, aliran modal keluar yang meningkat, serta ekspektasi inflasi yang masih berada di atas target Bank Indonesia. Pada minggu terakhir, data inflasi konsumen menunjukkan kenaikan sebesar 3,5 % secara tahunan, lebih tinggi dari perkiraan 3,2 %.
Bank Indonesia (BI) sejak awal bulan April telah menyiapkan paket kebijakan untuk menstabilkan mata uang, termasuk penyesuaian suku bunga acuan dan intervensi di pasar valuta asing. Namun, langkah‑langkah tersebut belum cukup mengimbangi tekanan luar yang kuat.
Berbagai analis pasar memberikan pandangan yang beragam mengenai arah pergerakan rupiah ke depan. Berikut rangkuman prediksi utama yang dikemukakan oleh lima pakar terkemuka:
- Analisis Bank Indonesia: BI memperkirakan kurs rupiah akan tetap berada di kisaran Rp17.000‑Rp17.500 per dolar selama tiga hingga enam bulan ke depan, dengan kemungkinan intervensi tambahan bila nilai tukar melewati batas psikologis Rp18.000.
- David Hartono, Kepala Departemen Riset Ekonomi di Danareksa Sekuritas: Menurutnya, perbaikan fundamental ekonomi makro, termasuk pengendalian inflasi dan peningkatan cadangan devisa, dapat memicu penguatan rupiah menjadi Rp16.800 per dolar dalam jangka menengah.
- Siti Nurhaliza, Ekonom Senior di Bank Mandiri: Mengingat ketidakpastian politik domestik dan volatilitas pasar global, Siti memproyeksikan kurs akan berfluktuasi di antara Rp17.100‑Rp17.900, dengan potensi penurunan tajam jika terjadi gejolak politik.
- Arif Prasetyo, Analis Valas di Bloomberg Indonesia: Arif menekankan bahwa pergerakan dolar AS masih dominan; ia memperkirakan rupiah dapat mencapai Rp18.200 per dolar bila Federal Reserve melanjutkan kenaikan suku bunga tanpa jeda.
- Rina Kurniawan, Peneliti Kebijakan Ekonomi di Universitas Indonesia: Rina menyoroti pentingnya reformasi struktural di sektor energi dan pertanian untuk meningkatkan ekspor. Ia memprediksi bahwa jika reformasi berjalan efektif, rupiah dapat kembali menguat ke level Rp16.500 per dolar dalam dua tahun.
Secara keseluruhan, mayoritas analis sepakat bahwa intervensi kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi penentu utama dalam menahan depresiasi lebih lanjut. Sementara itu, para pelaku bisnis mengantisipasi dampak langsung terhadap biaya produksi, khususnya perusahaan yang mengimpor bahan baku dan barang modal.
Bank Indonesia pada Rabu (8/4/2026) menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan kebijakan likuiditas bila diperlukan, sekaligus menegaskan komitmen untuk menjaga inflasi dalam kisaran target 2‑4 %. Pernyataan tersebut diharapkan dapat menambah kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah juga berupaya memperkuat cadangan devisa melalui penjualan obligasi berdenominasi dolar dan peningkatan pendapatan ekspor non‑migas. Upaya diversifikasi pasar ekspor ke negara‑negara Asia Tenggara serta Afrika menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.
Para pengamat menekankan pentingnya stabilitas politik sebagai faktor penunjang kepercayaan investor. Pemilihan umum yang dijadwalkan pada akhir tahun 2026 menjadi sorotan, karena hasilnya dapat memengaruhi kebijakan fiskal dan iklim investasi secara keseluruhan.
Dengan latar belakang tersebut, pelaku pasar diminta untuk terus memantau indikator utama seperti neraca berjalan, cadangan devisa, serta kebijakan moneter Amerika Serikat. Keterbukaan data dan transparansi kebijakan akan menjadi kunci untuk menurunkan volatilitas dan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah.
Kesimpulannya, meski rupiah berada pada level terendah baru di Rp17.105 per dolar, prospek pergerakannya sangat dipengaruhi oleh kebijakan internal Indonesia serta dinamika ekonomi global. Intervensi yang tepat, reformasi struktural, dan stabilitas politik menjadi pilar utama yang dapat membantu mengembalikan nilai tukar ke jalur yang lebih stabil.