Rupiah Merosot ke Rp17.100 per Dolar, Menko Airlangga Soroti Dampak pada Mata Uang Lain

Rupiah Merosot ke Rp17.100 per Dolar, Menko Airlangga Soroti Dampak pada Mata Uang Lain
Rupiah Merosot ke Rp17.100 per Dolar, Menko Airlangga Soroti Dampak pada Mata Uang Lain

123Berita – 08 April 2026 | Nilai tukar rupiah Indonesia kembali menurun tajam, menembus level Rp17.100 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan hari ini. Penurunan ini menandai titik terendah yang belum tercapai sejak awal 2022, dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar serta kebijakan fiskal. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko) Airlangga Hartarto memberikan penjelasan terkait dinamika kurs tersebut dan menyinggung implikasinya terhadap mata uang negara tetangga.

Menko Airlangga menanggapi situasi tersebut dalam sebuah konferensi pers yang diadakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Ia menyatakan, “Kita mengamati pergerakan nilai tukar yang cukup signifikan. Kondisi ini memang wajar mengingat tekanan global, namun pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui koordinasi dengan Bank Indonesia dan kebijakan fiskal yang prudensial.” Airlangga menambahkan bahwa pemerintah sedang memperkuat cadangan devisa dan mempercepat reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing ekonomi.

Bacaan Lainnya

Selain menyoroti rupiah, Airlangga juga menyinggung pergerakan mata uang lain di kawasan Asia Tenggara. Ia mencatat bahwa baht Thailand, ringgit Malaysia, dan peso Filipina juga mengalami tekanan serupa, meski dengan intensitas yang bervariasi. Menurutnya, “Kita tidak berada dalam isolasi; fluktuasi mata uang regional saling memengaruhi. Oleh karena itu, kerjasama regional dalam kebijakan moneter dan fiskal menjadi semakin penting.”

Berbagai analis pasar menilai bahwa penurunan rupiah dapat menambah beban impor, terutama pada barang-barang kebutuhan pokok dan energi. Namun, mereka juga menekankan bahwa depresiasi rupiah dapat memberikan dorongan bagi sektor ekspor, terutama komoditas yang harganya tetap kompetitif di pasar internasional.

Berikut ini beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa minggu terakhir:

  • Kebijakan Federal Reserve: Kenaikan suku bunga AS meningkatkan daya tarik dolar, memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang.
  • Harga Komoditas: Penurunan harga minyak mentah dan batu bara mengurangi pendapatan devisa Indonesia.
  • Sentimen Risiko Global: Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi memperkuat permintaan aset safe‑haven seperti dolar dan yen.
  • Aliran Modal: Penurunan aliran masuk portofolio ke pasar ekuitas Indonesia menambah tekanan pada rupiah.

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar terbuka dan penyesuaian suku bunga kebijakan bila diperlukan. Sementara itu, Kementerian Keuangan terus mengoptimalkan penerimaan pajak dan memperkuat pengelolaan utang publik untuk mendukung kebijakan fiskal yang berkelanjutan.

Di tengah tekanan nilai tukar, pemerintah juga mempercepat program reformasi struktural, termasuk peningkatan efisiensi birokrasi, pengembangan infrastruktur, dan diversifikasi ekspor non‑komoditas. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada komoditas tradisional.

Secara keseluruhan, meskipun nilai tukar rupiah berada pada level yang menantang, menurunnya kurs tidak serta‑merta menandakan krisis ekonomi. Pemerintah dan otoritas moneter tetap memiliki ruang kebijakan yang luas untuk menstabilkan pasar, sambil memanfaatkan depresiasi sebagai stimulus bagi sektor ekspor.

Dengan koordinasi yang kuat antara kementerian, Bank Indonesia, serta sektor swasta, Indonesia berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Situasi ini akan terus dipantau secara intensif, terutama mengingat dinamika global yang terus berubah.

Pos terkait