123Berita – 08 April 2026 | Praktik kebersihan mulut yang kurang tepat masih menjadi masalah kesehatan publik di Indonesia. Data terbaru dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan mengungkap bahwa hanya 2,8 persen penduduk yang menerapkan cara menyikat gigi sesuai rekomendasi profesional. Sementara itu, sekitar 96 persen masyarakat tidak mengunjungi dokter gigi dalam satu tahun terakhir, menandakan kesenjangan pengetahuan dan akses layanan kesehatan mulut.
Berikut beberapa kesalahan umum yang teridentifikasi dalam riset tersebut:
- Menekan sikat gigi terlalu keras, yang dapat mengikis lapisan pelindung gigi.
- Menyikat gigi secara horizontal selama terlalu lama, meningkatkan risiko retakan pada enamel.
- Tidak mengganti sikat gigi secara rutin, sehingga bakteri tetap tertinggal pada bulu sikat.
- Menggunakan pasta gigi dengan kadar fluoride yang tidak sesuai, atau malah menghindari fluoride sama sekali.
- Menyikat gigi hanya pada satu sisi mulut, mengabaikan bagian belakang gigi dan area antara gigi.
Selain teknik yang keliru, faktor psikologis dan sosial juga berperan. Banyak orang menganggap kunjungan ke dokter gigi sebagai prosedur yang mahal atau menakutkan, sehingga menunda pemeriksaan rutin. Padahal, deteksi dini masalah gigi seperti karies atau penyakit periodontal dapat mencegah komplikasi serius, termasuk infeksi yang menyebar ke organ vital.
Penelitian juga menyoroti perbedaan perilaku antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Penduduk di kota besar cenderung lebih sadar akan pentingnya kebersihan mulut, namun masih kurang dalam penerapan teknik yang tepat. Sementara di daerah pedesaan, keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan dan kurangnya edukasi kesehatan mulut memperparah tingkat kesalahan.
Upaya pemerintah untuk meningkatkan kesadaran telah melibatkan kampanye edukasi melalui media massa, program penyuluhan di sekolah, serta penyediaan fasilitas pemeriksaan gratis pada acara kesehatan nasional. Namun, efektivitasnya masih dipertanyakan mengingat angka kunjungan dokter gigi yang tetap rendah.
Beberapa langkah yang dapat diambil masyarakat untuk memperbaiki kebiasaan menyikat gigi antara lain:
- Gunakan sikat gigi dengan bulu lembut dan ganti setiap tiga bulan atau setelah sakit.
- Praktikkan teknik menyikat melingkar selama dua menit, memastikan semua permukaan gigi terjangkau.
- Gunakan pasta gigi berfluoride sesuai rekomendasi dokter gigi.
- Jangan lupa menyikat lidah untuk mengurangi bakteri penyebab bau mulut.
- Lakukan pemeriksaan gigi secara rutin minimal satu kali setahun, bahkan lebih sering bila ada keluhan.
Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menelusuri faktor-faktor penyebab rendahnya kesadaran kunjungan dokter gigi, serta menguji efektivitas program edukasi yang lebih interaktif, seperti pelatihan praktis di komunitas atau penggunaan aplikasi mobile yang memandu teknik menyikat yang benar.
Kesimpulannya, meskipun sebagian besar warga Indonesia telah menyadari pentingnya kebersihan mulut, masih terdapat celah besar antara pengetahuan teoritis dan praktik sehari-hari. Hanya 2,8 persen yang menyikat gigi dengan cara yang benar, sementara hampir seluruh populasi belum melakukan pemeriksaan gigi tahunan. Pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat perlu bersinergi untuk memperbaiki pola kebiasaan, meningkatkan akses layanan, dan menurunkan beban penyakit mulut di masa mendatang.





