123Berita – 04 April 2026 | Jakarta – Kawasan Ragunan yang kini dikenal luas sebagai taman rekreasi dan kebun binatang publik ternyata memiliki jejak sejarah yang jauh lebih artistik. Sebelum menjadi ruang hijau bagi warga, tanah seluas beberapa hektar itu pernah menjadi milik sang maestro lukisan Romantis, Raden Saleh (1807-1880). Sejarah kepemilikan ini baru terungkap secara publik setelah penelitian arsip kolonial dan catatan pribadi sang seniman.
Raden Saleh, yang sering dijuluki “Bapak Lukisan Romantis Indonesia“, menempuh pendidikan seni di Eropa pada abad ke-19 dan kembali ke tanah air dengan koleksi lukisan serta visi kebudayaan yang progresif. Pada masa itu, ia membeli sebidang lahan di selatan Jakarta, yang kemudian dijuluki “Kebun Raden Saleh”. Lahan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal dan studio, tetapi juga sebagai taman pribadi tempat ia menumbuhkan tanaman eksotis, memelihara hewan, serta menggelar pertemuan seni dengan tokoh-tokoh terkemuka pada masa itu.
Setelah wafatnya Raden Saleh pada tahun 1880, kepemilikan tanah tersebut beralih kepada pemerintah kolonial Belanda. Pada awal abad ke-20, area itu dijadikan sebagai kebun binatang pertama di Jakarta, yang kemudian dikenal dengan nama Kebun Binatang Ragunan. Selama lebih dari satu abad, Ragunan menjadi destinasi utama bagi keluarga dan pelajar yang ingin menikmati keindahan alam serta berinteraksi dengan satwa.
Namun, pada akhir 1990-an, muncul desakan kuat dari masyarakat pecinta seni dan sejarah untuk mengembalikan penghargaan terhadap warisan Raden Saleh. Kelompok aktivis budaya bersama akademisi mengajukan usulan agar sebagian area Ragunan dijadikan ruang publik yang menampilkan jejak seni sang pelukis. Usulan tersebut akhirnya mendapat respon positif dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta.
Pada tahun 2020, sebagian wilayah kebun binatang yang tidak lagi diperlukan untuk penampungan satwa dialokasikan kembali menjadi taman terbuka dengan nama resmi Taman Raden Saleh. Taman ini dirancang untuk menampilkan elemen-elemen estetika yang terinspirasi dari karya dan gaya hidup sang pelukis, termasuk patung-patung kecil, jalur jalan setapak bergaya kolonial, serta galeri outdoor yang menampilkan reproduksi lukisan Raden Saleh.
Berikut beberapa fakta menarik tentang transformasi Ragunan menjadi Taman Raden Saleh:
- Luas taman: Sekitar 15 hektar dari total area Ragunan dialokasikan untuk taman seni.
- Fasilitas: Terdapat area piknik, studio seni terbuka, serta ruang edukasi tentang sejarah seni Indonesia.
- Kegiatan rutin: Workshop melukis, pertunjukan musik klasik, dan tur sejarah dipandu oleh kurator profesional.
- Konservasi: Meskipun sebagian area kini bersifat rekreasi, kebijakan pelestarian satwa tetap dijaga di bagian kebun binatang utama.
Keputusan ini tidak hanya menambah nilai estetika kawasan, tetapi juga mengangkat kembali profil Raden Saleh sebagai pionir seni lukis di tanah air. Pengunjung kini dapat menikmati suasana hijau sekaligus menyerap inspirasi dari karya seni yang telah menjadi bagian penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia.
Para pengamat budaya menilai langkah ini sebagai contoh sinergi antara pelestarian alam dan kebudayaan. “Mengintegrasikan warisan seni ke dalam ruang publik memberi peluang bagi generasi muda untuk lebih mengenal tokoh-tokoh penting dalam sejarah Indonesia, sambil tetap menikmati lingkungan yang asri,” ujar Dr. Anwar Setiawan, dosen Sejarah Seni di Universitas Indonesia.
Selain menambah dimensi edukatif, Taman Raden Saleh juga menjadi magnet wisata baru di Jakarta. Data statistik yang dirilis oleh Dinas Pariwisata DKI menunjukkan peningkatan kunjungan wisatawan domestik sebesar 12% dalam enam bulan pertama sejak pembukaan taman. Hal ini berdampak positif pada ekonomi sekitar, terutama bagi pedagang makanan dan suvenir yang beroperasi di sekitar pintu masuk taman.
Secara keseluruhan, transformasi Ragunan menjadi Taman Raden Saleh mencerminkan upaya kota untuk menggabungkan sejarah, seni, dan rekreasi dalam satu paket yang menarik. Dengan mengangkat kembali kisah sang pelukis, Jakarta tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menyediakan ruang terbuka hijau yang edukatif dan inspiratif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ke depan, pihak pengelola berencana menambah koleksi patung dan instalasi seni kontemporer yang berhubungan dengan tema alam dan seni, sekaligus memperluas program edukasi bagi sekolah-sekolah. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran Taman Raden Saleh sebagai pusat kebudayaan sekaligus ruang hijau yang ramah lingkungan di tengah metropolitan Jakarta.
Dengan demikian, sejarah Ragunan yang dulunya merupakan kebun pribadi sang maestro kini menjadi simbol integrasi antara warisan budaya dan kebutuhan publik, menjadikan taman ini sebagai destinasi yang wajib dikunjungi bagi pecinta sejarah, seni, maupun alam.





