123Berita – 08 April 2026 | Angin kencang yang berubah menjadi puting beliung melanda permukiman warga di Desa Perbarakan, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara pada sore hari Kemis, 4 April 2024. Badai berkecepatan tinggi menghancurkan atap, merobohkan dinding, serta mengangkat barang‑barang rumah tangga, meninggalkan puing‑puing berserakan di jalan‑jalan desa.
Desa Perbarakan terletak sekitar 30 kilometer sebelah timur Kota Medan, dikelilingi lahan pertanian dan pemukiman yang padat. Pada pukul 15.30 WIB, awan gelap berkumpul di atas wilayah tersebut dan secara mendadak berubah menjadi puting beliung dengan diameter sekitar 150 meter. Fenomena ini menimbulkan tekanan angin yang cukup kuat untuk melibas atap rumah-rumah tradisional berbahan genteng dan kayu.
Kerusakan yang terjadi meliputi:
- Atap rumah hancur total atau sebagian, mengakibatkan kebocoran dan masuknya air hujan.
- Dinding kayu terkelupas atau runtuh, mengurangi kestabilan struktural bangunan.
- Perabotan rumah tangga, kendaraan, dan tanaman hias terbawa angin hingga terdampar di lokasi yang jauh dari semula.
- Jalan desa mengalami penutupan sementara karena puing‑puing dan pohon tumbang.
Tim Penanggulangan Bencana Daerah (TPBD) Deli Serbadang segera dikerahkan setelah laporan masuk. Tim penyelamat mengevakuasi tiga puluh empat warga yang terperangkap, memberikan pertolongan pertama, serta menyiapkan posko sementara di balai desa. Posko tersebut dilengkapi dengan kebutuhan pokok seperti beras, air bersih, dan pakaian ganti.
Warga yang terdampak, seperti Bapak Ahmad Hidayat (45 tahun), mengaku terkejut dengan kekuatan putung beliung. “Saya hanya mendengar suara gemuruh dan tiba‑tiba angin berputar‑putar. Rumah saya terbangkan atapnya, dan kami harus berlari ke luar untuk menyelamatkan diri,” ujarnya dengan nada masih bergetar. Ia menambahkan bahwa keluarga harus menginap di rumah tetangga karena rumahnya tidak layak huni lagi.
Sekretaris Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Dr. Hendra Pratama, menyatakan bahwa pihak berwenang akan melakukan evaluasi kerusakan secara menyeluruh. “Kami berkomitmen memberikan bantuan darurat, termasuk distribusi bantuan sosial dan perbaikan infrastruktur kritis. Selain itu, kami akan mengajukan permohonan bantuan dana dari Pemerintah Provinsi dan pusat untuk mempercepat proses rehabilitasi,” katanya.
Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa kejadian puting beliung ini dipicu oleh perbedaan suhu yang tajam antara daratan dan laut pada sore hari, serta kelembaban tinggi yang mendukung terbentuknya pusaran angin yang kuat. Perubahan iklim global diprediksi meningkatkan frekuensi dan intensitas fenomena cuaca ekstrim seperti ini di wilayah Indonesia, khususnya di daerah pesisir dan dataran rendah.
Untuk mengurangi risiko di masa mendatang, Dinas Penanggulangan Bencana Kabupaten Deli Serdang berencana mengadakan sosialisasi tentang langkah‑langkah mitigasi, termasuk pemasangan penahan angin pada atap, penataan ruang terbuka hijau, serta pembuatan jalur evakuasi yang jelas. Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk meningkatkan sistem peringatan dini di daerah rawan.
Sejauh ini, total korban luka ringan tercatat sebanyak lima orang, sementara tidak ada laporan korban jiwa. Tim medis setempat memberikan perawatan pertama dan merujuk kasus yang memerlukan penanganan lanjutan ke rumah sakit terdekat di Kota Medan.
Dengan kerusakan yang meluas, perkiraan waktu pemulihan penuh diperkirakan memakan waktu antara tiga hingga enam bulan, tergantung pada alokasi anggaran dan kecepatan pelaksanaan program rehabilitasi. Sementara itu, warga diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem berikutnya, serta mematuhi arahan resmi dari otoritas setempat.
Puting beliung yang menimpa Desa Perbarakan menjadi pengingat keras akan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana alam. Upaya bersama antara pemerintah, lembaga penanggulangan, dan warga harus terus digalakkan untuk mengurangi dampak serupa di masa yang akan datang.