123Berita – 04 April 2026 | Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, Sumardji, akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi terkait kontroversi yang dikenal dengan sebutan “paspoortgate“. Isu ini mencuat setelah sejumlah pemain Tim Nasional Indonesia yang berkompetisi di Liga Belanda menjadi sorotan publik akibat dugaan pelanggaran administrasi paspor. Dalam konferensi pers yang digelar di kantor PSSI, Sumardji menegaskan bahwa federasi sepak bola Indonesia telah menyiapkan seluruh bukti dan data yang relevan untuk menjawab pertanyaan media serta publik.
Paspoortgate pertama kali muncul ketika beberapa pemain Timnas Indonesia yang bermain di klub-klub Belanda dilaporkan mengalami kesulitan dalam proses perpanjangan paspor. Media domestik menyoroti adanya perbedaan prosedur antara pemain yang terdaftar resmi dan yang belum memperoleh dokumen lengkap. Isu ini kemudian memicu spekulasi mengenai manajemen administrasi PSSI, menimbulkan kegelisahan di kalangan suporter serta menurunkan kepercayaan terhadap organisasi sepak bola nasional.
Dalam sambutannya, Sumardji menyampaikan bahwa seluruh dokumen terkait proses penerbitan paspor pemain telah dikumpulkan secara sistematis. “Kami telah melakukan audit internal dan mengumpulkan semua data yang diperlukan, mulai dari formulir aplikasi, bukti pembayaran, hingga korespondensi dengan Kedutaan Besar Indonesia di Belanda,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa PSSI siap menyediakan semua dokumen tersebut kepada otoritas terkait dan media yang memintanya.
Sumardji juga menegaskan bahwa tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang atau korupsi dalam proses administrasi paspor pemain. “Setiap langkah kami ambil mengacu pada peraturan yang berlaku, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kami tidak menutup mata terhadap adanya kesalahan, namun kami yakin bahwa fakta yang ada akan membuktikan bahwa tidak ada niat buruk dari pihak PSSI,” jelasnya.
Selain menampilkan transparansi, pernyataan Sumardji juga menyoroti pentingnya kerjasama antara PSSI, Kedutaan Besar Indonesia, serta klub-klub Belanda tempat pemain bernaung. Ia mengapresiasi bantuan konsuler Belanda yang telah membantu mempercepat proses perpanjangan dokumen, namun menegaskan bahwa koordinasi yang lebih baik diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang.
Berita ini mendapat sambutan beragam dari kalangan pengamat sepak bola. Beberapa analis menilai langkah PSSI untuk membuka semua fakta sebagai langkah tepat dalam meredam keresahan publik. Namun, ada pula yang menilai bahwa transparansi tersebut belum cukup jika tidak diikuti dengan perbaikan struktural dalam manajemen administrasi pemain.
Selanjutnya, Sumardji menekankan bahwa federasi tidak akan menutup mata terhadap kritik yang konstruktif. “Kami mengundang semua pihak, termasuk suporter, untuk memberikan masukan yang membangun. Kami percaya bahwa dengan sinergi bersama, kita dapat meningkatkan standar profesionalisme dalam pengelolaan Tim Nasional,” ujarnya.
Langkah selanjutnya yang direncanakan PSSI meliputi revisi prosedur internal, peningkatan pelatihan bagi staf administrasi, serta pembentukan unit khusus yang bertugas memonitor status dokumen pemain yang bertugas di luar negeri. Unit tersebut akan berfungsi sebagai liaison antara pemain, klub, dan Kedutaan Besar, memastikan setiap permohonan diproses secara cepat dan akurat.
Kesimpulannya, pernyataan terbuka Sumardji menandai titik balik dalam penanganan paspoortgate. Dengan mengungkapkan semua fakta, PSSI berupaya memulihkan kepercayaan publik serta menegaskan komitmen terhadap integritas dan profesionalisme. Meskipun tantangan masih ada, langkah transparansi ini diharapkan menjadi fondasi bagi perbaikan sistemik yang lebih luas dalam pengelolaan administrasi sepak bola Indonesia.