Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dorong Pendapatan Pedagang Melon di Pasar Gede Hardjonagoro, Solo

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dorong Pendapatan Pedagang Melon di Pasar Gede Hardjonagoro, Solo
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dorong Pendapatan Pedagang Melon di Pasar Gede Hardjonagoro, Solo

123Berita – 07 April 2026 | Pasar Gede Hardjonagoro di Kota Solo mencatat kenaikan signifikan pada pendapatan pedagang buah, khususnya para penjual melon, sejak peluncuran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digencarkan oleh pemerintah daerah bersama kementerian terkait. Inisiatif ini bukan sekadar distribusi makanan, melainkan strategi terpadu yang menghubungkan kesehatan masyarakat dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi lokal.

Melon menjadi komoditas unggulan di Pasar Gede karena iklim Solo yang mendukung pertumbuhan buah tersebut serta tradisi konsumsi segar di wilayah Jawa Tengah. Sebelum MBG, banyak pedagang menghadapi tantangan penurunan penjualan akibat persaingan harga, fluktuasi pasokan, dan kurangnya akses ke pasar yang lebih luas. Rata‑rata penjualan harian melon berkisar antara tiga hingga lima kilogram, dengan margin keuntungan yang tipis.

Bacaan Lainnya

Program MBG memperkenalkan serangkaian langkah praktis: penyediaan makanan bergizi secara gratis bagi pengunjung pasar, penyuluhan gizi, serta kampanye promosi produk lokal termasuk melon. Selain itu, pemerintah menyediakan subsidi logistik bagi petani dan pedagang, memperbaiki fasilitas penyimpanan, serta meluncurkan sistem informasi harga real‑time yang membantu pedagang menyesuaikan tarif secara kompetitif.

  • Distribusi makanan bergizi meningkatkan jumlah pengunjung pasar secara konsisten.
  • Pelatihan gizi memperluas pengetahuan konsumen tentang manfaat kesehatan melon.
  • Subsidi logistik menurunkan biaya transportasi dan penyimpanan.
  • Sistem informasi harga memberi pedagang data pasar yang akurat.

Data yang dikumpulkan oleh Dinas Perdagangan Solo menunjukkan bahwa sejak Januari 2024, pendapatan rata‑rata pedagang melon di Pasar Gede meningkat sekitar 35 persen. Rata‑rata penjualan harian melon naik menjadi delapan hingga sepuluh kilogram, sementara harga jual per kilogram mengalami stabilisasi di kisaran Rp15.000‑Rp18.000, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berfluktuasi antara Rp12.000‑Rp14.000.

Para pedagang menyambut baik perubahan ini. “Saya dulu hanya menjual sekitar tiga kilogram per hari, namun sejak program MBG mulai berjalan, jumlah pembeli bertambah drastis. Sekarang saya dapat menjual lebih dari sepuluh kilogram dan pendapatan saya hampir dua kali lipat,” ujar Suparno, pedagang melon berusia 45 tahun yang telah berbisnis di pasar tersebut selama lebih dari satu dekade. Sementara itu, petani melon dari daerah sekitar Solo, seperti Budi Santoso, mengaku bahwa subsidi logistik membantu mereka mengirimkan hasil panen tepat waktu dan dengan biaya yang lebih rendah, sehingga keuntungan petani juga meningkat.

Analisis ekonomi lokal mengindikasikan bahwa efek multiplier MBG tidak terbatas pada penjualan melon saja. Peningkatan kunjungan pasar berimbas pada sektor lain seperti penjual sayur, jajanan tradisional, dan layanan transportasi. Penelitian singkat yang dilakukan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret mencatat pertumbuhan omzet pasar secara keseluruhan sebesar 22 persen dalam enam bulan pertama pelaksanaan program. Hal ini memperkuat argumen bahwa intervensi gizi dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi mikro di daerah urban.

Meskipun hasilnya menjanjikan, terdapat tantangan yang masih harus diatasi. Ketersediaan stok melon yang konsisten menjadi isu ketika musim hujan mengurangi produksi. Selain itu, kebutuhan akan edukasi lanjutan bagi konsumen tentang cara penyimpanan dan pengolahan melon masih tinggi. Pemerintah berencana memperluas program MBG ke pasar tradisional lain di Jawa Tengah serta menambah variasi produk pangan bergizi untuk menarik segmen konsumen yang lebih luas.

Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis telah berhasil mengubah dinamika ekonomi pasar tradisional di Solo, khususnya bagi pedagang melon di Pasar Gede Hardjonagoro. Dengan meningkatkan volume penjualan, stabilisasi harga, dan menciptakan efek positif pada sektor terkait, MBG menjadi model kebijakan yang dapat direplikasi di wilayah lain. Keberlanjutan program akan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, petani, dan pelaku pasar dalam mengoptimalkan rantai pasok serta memperkuat edukasi gizi bagi masyarakat.

Pos terkait