Prof Jiang Xueqin Prediksi Krisis Minyak Global: Pasokan Mungkin Habis Pertengahan April

Prof Jiang Xueqin Prediksi Krisis Minyak Global: Pasokan Mungkin Habis Pertengahan April
Prof Jiang Xueqin Prediksi Krisis Minyak Global: Pasokan Mungkin Habis Pertengahan April

123Berita – 07 April 2026 | Profesor Jiang Xueqin, pakar energi terkemuka asal Tiongkok, kembali menjadi sorotan publik setelah mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan kegelisahan di kalangan pelaku pasar energi dunia. Dalam sebuah wawancara yang disebarluaskan melalui media sosial, Jiang menegaskan bahwa konflik yang semakin memanas antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi menimbulkan gangguan besar pada rantai pasokan minyak mentah internasional, sehingga stok minyak global dapat menipis pada pertengahan April 2024.

Jiang menyoroti tiga faktor utama yang berkontribusi pada potensi krisis pasokan ini. Pertama, penurunan produksi minyak Iran yang diperkirakan mencapai 20-30 persen dari kapasitas normal akibat pemeliharaan fasilitas yang terhambat dan sanksi yang membatasi akses ke teknologi dan peralatan penting. Kedua, gangguan pada jalur transportasi laut, terutama Selat Hormuz, yang menjadi titik krusial bagi 20 persen perdagangan minyak dunia. Setiap insiden militer atau blokade di selat ini dapat menunda pengiriman ribuan tong minyak per hari. Ketiga, penurunan cadangan minyak strategis di negara-negara konsumen utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang, yang kini berada pada level terendah dalam satu dekade karena permintaan yang terus meningkat.

Bacaan Lainnya

Data yang dikumpulkan oleh International Energy Agency (IEA) mendukung kekhawatiran Jiang. Laporan terbaru menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah global hanya cukup untuk menutupi permintaan selama 83 hari, turun dari 101 hari pada awal tahun. Jika konflik Iran-AS berlanjut dan mengakibatkan penutupan tambahan pada fasilitas produksi atau jalur pengiriman, perkiraan cadangan dapat menyusut menjadi kurang dari 70 hari, yang secara historis menandai ambang batas krisis energi.

Reaksi pasar segera terasa setelah pernyataan Jiang tersebar luas. Harga minyak Brent mengalami lonjakan hampir 5 persen dalam hitungan jam, sementara futures minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan serupa. Investor institusional dan hedge fund mulai menyesuaikan portofolio mereka dengan menambah posisi long pada kontrak minyak, mengantisipasi potensi kekurangan pasokan.

Para pengamat ekonomi menilai bahwa dampak potensial dari krisis minyak tidak terbatas pada sektor energi saja. Kenaikan harga minyak akan meningkatkan biaya transportasi, yang pada gilirannya dapat mendorong inflasi di hampir semua negara. Negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor minyak berisiko mengalami tekanan fiskal, sementara negara-negara produsen minyak akan melihat pendapatan naik, menimbulkan ketidakseimbangan geopolitik yang lebih tajam.

Dalam upaya meredam ketegangan, sejumlah negara berusaha menjadi perantara diplomatik. Uni Emirat Arab dan Qatar, yang memiliki hubungan relatif baik dengan kedua belah pihak, mengusulkan dialog multilateral yang melibatkan Organisasi Negara‑Negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta lembaga keuangan internasional. Namun, hingga kini belum ada kemajuan signifikan, mengingat posisi keras masing‑masing pihak dalam menegakkan kepentingan strategis mereka.

Di dalam negeri, pemerintah Tiongkok menanggapi pernyataan Jiang dengan menegaskan kesiapan untuk memperkuat cadangan strategis minyak (strategic petroleum reserve) serta meningkatkan diversifikasi sumber energi, termasuk mempercepat transisi ke energi terbarukan. Menteri Energi Tiongkok menambahkan bahwa kebijakan ini bersifat preventif dan tidak dimaksudkan sebagai respons terhadap satu negara saja, melainkan sebagai langkah jangka panjang menghadapi volatilitas pasar energi global.

Apapun skenario yang terjadi, pernyataan Jiang Xueqin menyoroti betapa rapuhnya jaringan pasokan minyak dunia di tengah dinamika geopolitik yang tidak menentu. Pengawasan terus‑menerus terhadap perkembangan situasi di Teluk Persia, serta koordinasi antara negara‑negara konsumen dan produsen, menjadi kunci untuk menghindari krisis energi yang dapat mengguncang perekonomian global.

Seiring berjalannya waktu, para pemangku kepentingan diharapkan dapat mengadopsi strategi mitigasi yang komprehensif, termasuk memperkuat cadangan strategis, meningkatkan efisiensi konsumsi energi, serta mempercepat investasi pada energi bersih. Hanya dengan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, dunia dapat mengantisipasi kemungkinan terburuk dan menjaga stabilitas pasokan energi yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi global.

Pos terkait