123Berita – 08 April 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengungkapkan bahwa dirinya pernah menjadi korban manipulasi video deepfake yang mengubah suara aslinya menjadi terdengar seperti bernyanyi, bahkan dalam bahasa Arab. Penjelasan Prabowo menyoroti ancaman serius yang ditimbulkan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam penyebaran informasi palsu, serta menegaskan pentingnya kesadaran publik terhadap potensi penyalahgunaan media digital.
Dalam sebuah wawancara yang disampaikan pada awal pekan ini, Prabowo menyampaikan bahwa video yang beredar secara online menampilkan dirinya menyanyikan lagu dalam bahasa Arab dengan nada yang tidak sesuai dengan karakter suaranya. “Saya mendengar video tersebut dan langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Suara saya terdengar sangat bagus, bahkan bisa menyanyikan bahasa Arab, padahal saya tidak menguasai bahasa itu,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa video tersebut jelas merupakan hasil rekayasa digital yang memanfaatkan teknik deepfake.
Deepfake, singkatan dari “deep learning” dan “fake,” merupakan teknologi yang menggunakan jaringan saraf tiruan untuk meniru gerakan wajah, suara, atau bahkan gerakan tubuh seseorang dengan tingkat keakuratan yang mengesankan. Seiring dengan perkembangan AI, proses pembuatan deepfake menjadi semakin mudah diakses, memungkinkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menciptakan konten palsu yang sulit dibedakan dari aslinya.
Prabowo menegaskan bahwa manipulasi suara dalam video tersebut tidak hanya sekadar mengubah intonasi, melainkan juga menambahkan lapisan bahasa asing yang tidak pernah ia pelajari secara formal. “Saya belum pernah belajar bahasa Arab secara mendalam, namun video tersebut menampilkan saya menyanyikan lirik dalam bahasa tersebut dengan kefasihan yang tidak mungkin saya miliki,” ujarnya. Ia menyoroti bagaimana teknologi AI dapat meniru kemampuan vokal seseorang secara realistis, sehingga menimbulkan kebingungan dan potensi penyebaran hoaks yang merugikan.
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran publik mengenai penyebaran deepfake di Indonesia. Beberapa contoh sebelumnya melibatkan tokoh politik, selebritas, dan bahkan pejabat pemerintah yang suaranya diputarbalikkan untuk menyampaikan pesan yang tidak sesuai dengan pandangan mereka. Dampak dari penyebaran konten palsu semacam ini dapat menggerogoti kepercayaan masyarakat terhadap institusi serta menimbulkan konflik sosial yang tidak perlu.
Menanggapi hal tersebut, Prabowo menekankan pentingnya edukasi digital bagi semua lapisan masyarakat. “Kita harus mengajarkan kepada generasi muda bagaimana cara memverifikasi informasi, terutama yang berbentuk video atau audio. Teknologi ini tidak boleh menjadi alat untuk memecah belah, melainkan harus dijaga agar tidak disalahgunakan,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa regulasi yang tegas dan penegakan hukum yang konsisten diperlukan untuk menindak para pelaku penyebaran deepfake dengan niat menyesatkan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menyiapkan draft peraturan terkait penyalahgunaan deepfake. Draft tersebut mencakup sanksi pidana bagi individu atau kelompok yang memproduksi atau menyebarkan konten manipulasi digital yang menimbulkan kerugian atau mengancam keamanan nasional. Namun, Prabowo mengakui bahwa tantangan utama bukan hanya pada sisi hukum, melainkan juga pada aspek teknologi itu sendiri.
“Kita perlu mengembangkan alat deteksi yang lebih canggih, sekaligus meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri teknologi. Hanya dengan pendekatan multi‑stakeholder, kita dapat melindungi ekosistem informasi yang sehat,” ujarnya. Prabowo juga menambahkan bahwa dirinya akan bekerja sama dengan lembaga terkait untuk menyebarluaskan contoh-contoh deepfake yang berhasil diidentifikasi, sehingga masyarakat dapat belajar mengenali ciri‑ciri manipulasi.
Selain itu, Prabowo menyoroti potensi positif AI bila dimanfaatkan dengan etika yang tepat. Ia mencontohkan penggunaan AI dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pertanian yang dapat meningkatkan kualitas hidup. “Teknologi tidak intrinsik baik atau buruk; cara kita menggunakannya menentukan dampaknya,” tegasnya. Oleh karena itu, ia menyerukan agar Indonesia mengadopsi kebijakan inovatif yang mendorong riset sekaligus mengatur batasan penyalahgunaan.
Kasus deepfake yang menimpa Prabowo menjadi peringatan bagi seluruh warga negara bahwa tidak semua yang terlihat atau terdengar di internet dapat dipercaya begitu saja. Dengan meningkatnya kemampuan AI, ancaman manipulasi digital akan terus berkembang, menuntut kesadaran kolektif dan tindakan proaktif dari pemerintah, sektor swasta, serta individu.
Di akhir wawancara, Prabowo menegaskan komitmennya untuk terus melawan penyebaran hoaks dan deepfake, serta mengajak semua pihak untuk bersikap kritis dalam mengonsumsi konten digital. “Kita tidak boleh menjadi korban kebodohan yang dipicu oleh teknologi. Sebaliknya, mari kita jadikan teknologi sebagai alat untuk memperkuat kebenaran dan persatuan,” tutupnya dengan tegas.