123Berita – 04 April 2026 | Sejumlah survei terbaru menunjukkan bahwa popularitas mantan presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah merosot ke level terendah dalam sejarah kepresidenannya, menimbulkan kegelisahan di kalangan elit Partai Republik. Data yang dirilis oleh lembaga-lembaga survei terkemuka menegaskan bahwa persetujuan publik terhadap Trump berada di bawah angka yang pernah dicapai oleh Presiden Joe Biden pada titik terendahnya, menandai perubahan signifikan dalam dinamika politik internal GOP.
Penurunan persetujuan tidak terbatas pada isu kebijakan umum, melainkan juga merambah ke bidang ekonomi dan lapangan kerja. Survei yang dilakukan oleh CNN memperlihatkan bahwa penilaian publik terhadap kinerja ekonomi Trump berada pada level terendah, dengan hanya 30 persen responden yang menilai ekonomi berada di jalur yang tepat di bawah kepemimpinannya. Sementara itu, YouGov mencatat catatan terendah dalam persetujuan pekerjaan (job approval), yang turun ke angka 28 persen, menandai rekor terendah dalam sejarah survei tersebut.
Data tambahan yang dipublikasikan oleh The Independent menyoroti komentar seorang pakar data yang menyamakan tingkat persetujuan Trump dengan kondisi ekstrem di Death Valley, menggambarkan keparahan penurunan dukungan publik. Kombinasi dari penurunan persetujuan dalam bidang kebijakan umum, ekonomi, dan lapangan kerja menimbulkan pertanyaan mendasar tentang kemampuan Partai Republik untuk memanfaatkan popularitas Trump dalam strategi pemilihan 2024.
Berikut rangkuman singkat hasil survei utama yang relevan:
- Financial Times: Persetujuan Trump 35-38 persen.
- The Economist: Persetujuan Trump menyamai titik terendah Biden, sekitar 36 persen.
- CNN: Penilaian ekonomi Trump paling rendah, hanya 30 persen mendukung.
- YouGov: Persetujuan pekerjaan Trump turun ke 28 persen, rekor terendah.
- The Independent: Komentar pakar data menyamakan rating dengan kondisi Death Valley.
Reaksi dari dalam Partai Republik beragam. Beberapa tokoh senior, termasuk mantan gubernur dan senator, mengingatkan bahwa Trump masih memegang peran penting sebagai figur simbolik yang mampu menggalang basis pemilih konservatif. Namun, analis politik memperingatkan bahwa ketergantungan berlebih pada tokoh yang mengalami penurunan popularitas dapat berisiko menurunkan peluang Partai Republik dalam pemilihan umum, terutama di negara bagian swing yang menjadi penentu kemenangan.
Strategi kampanye GOP kini berada pada persimpangan. Di satu sisi, ada dorongan untuk tetap menempatkan Trump sebagai kandidat utama, mengingat dukungan kuat di antara basis pemilih yang setia. Di sisi lain, ada seruan untuk mencari alternatif yang lebih moderat, yang dapat menarik pemilih tengah dan independen. Beberapa calon potensial, seperti gubernur Florida Ron DeSantis dan senator Texas Ted Cruz, telah meningkatkan visibilitas mereka sebagai opsi alternatif, sambil tetap mengakui pengaruh politik Trump.
Para pengamat menilai bahwa penurunan tajam dalam persetujuan publik dapat mempengaruhi proses primary. Survei internal yang belum dipublikasikan menunjukkan bahwa pemilih Republik di beberapa negara bagian utama, termasuk Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin, semakin terbuka terhadap kandidat selain Trump. Jika tren ini berlanjut, kemungkinan terjadinya pertarungan primary yang kompetitif meningkat, yang pada gilirannya dapat memecah basis pemilih tradisional GOP.
Selain dampak domestik, penurunan persetujuan Trump juga memiliki implikasi bagi posisi Amerika Serikat di kancah internasional. Ketidakstabilan politik dalam partai yang memegang mayoritas di Kongres dapat memengaruhi kebijakan luar negeri, termasuk hubungan dengan sekutu NATO, kebijakan perdagangan, dan peran Amerika dalam mengatasi perubahan iklim. Kepercayaan global terhadap kepemimpinan Amerika dapat terpengaruh oleh persepsi bahwa partai penguasa berada dalam kondisi internal yang rapuh.
Secara keseluruhan, data survei terbaru menandai fase kritis bagi Partai Republik. Penurunan persetujuan Trump di hampir semua bidang – kebijakan umum, ekonomi, dan lapangan kerja – menimbulkan pertanyaan serius tentang strategi pemilihan yang akan diambil menjelang pemilihan presiden 2024. Partai tersebut dihadapkan pada pilihan sulit: tetap mengandalkan tokoh yang kini berada pada level popularitas terendah dalam sejarahnya, atau beralih ke kandidat baru yang dapat memulihkan kepercayaan pemilih moderat tanpa mengorbankan basis konservatif. Keputusan yang diambil dalam beberapa minggu mendatang akan menentukan arah politik Amerika selama empat tahun ke depan.