123Berita – 08 April 2026 | Dalam upaya menjawab ancaman krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang kian mengkhawatirkan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil mengembangkan bahan bakar alternatif berbahan dasar minyak sawit. Produk inovatif ini diberi nama “Benwit“, singkatan dari Bensin dari Minyak Sawit, yang telah melewati serangkaian uji laboratorium dan demonstrasi di lapangan.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Ir. Rudi Hartono, M.Sc., dosen Teknik Kimia ITS, memanfaatkan proses transesterifikasi lanjutan yang mengubah trigliserida pada minyak kelapa sawit menjadi fraksi hidrokarbon ringan yang memiliki karakteristik mirip bensin konvensional. Menurut tim riset, proses tersebut tidak memerlukan bahan kimia berbahaya dan dapat dijalankan pada skala industri dengan biaya yang kompetitif.
“Kami memulai riset ini sejak 2021, melihat ketergantungan Indonesia pada impor minyak bumi yang mencapai lebih dari 60 persen. Dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal, yaitu kelapa sawit yang melimpah, kami berharap dapat mengurangi ketergantungan energi luar negeri sekaligus memberikan nilai tambah bagi petani sawit,” ungkap Dr. Rudi dalam sebuah konferensi pers di kampus ITS.
Uji coba pertama Benwit dilakukan pada sebuah mesin diesel konversi di laboratorium ITS, menghasilkan output energi yang setara dengan bensin RON 92. Selanjutnya, tim melakukan uji jalan pada sebuah mobil sedan berkapasitas 1,5 liter, yang menunjukkan performa akselerasi dan konsumsi bahan bakar serupa dengan bensin standar. Hasil tersebut kemudian diverifikasi oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan dinyatakan memenuhi standar emisi gas buang yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Keberhasilan ini menarik perhatian sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Asosiasi Pengusaha Minyak dan Gas Bumi (APMGB), serta perusahaan-perusahaan pengolahan kelapa sawit. Pemerintah berencana menyusun kebijakan insentif bagi produsen bahan bakar alternatif berbasis biomassa, sekaligus menyiapkan regulasi yang mempermudah perizinan produksi dan distribusi Benwit.
Berikut beberapa keunggulan utama Benwit yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan BBM nasional:
- Sumber bahan baku melimpah: Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dengan produksi tahunan lebih dari 55 juta ton.
- Rendah emisi karbon: Proses produksi Benwit menghasilkan jejak karbon yang jauh lebih kecil dibandingkan bensin fosil, sejalan dengan komitmen Indonesia pada Perjanjian Paris.
- Kemandirian energi: Mengurangi ketergantungan impor minyak bumi, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
- Potensi ekonomi: Membuka peluang usaha baru bagi petani dan industri pengolahan kelapa sawit, serta menciptakan lapangan kerja di sektor energi terbarukan.
Meskipun prospek Benwit tampak menjanjikan, sejumlah tantangan masih harus diatasi. Pertama, skala produksi komersial memerlukan investasi besar pada fasilitas pengolahan kimia yang mampu menangani volume tinggi minyak sawit. Kedua, standar kualitas bahan bakar harus dipertahankan secara konsisten untuk menghindari kerusakan pada mesin kendaraan. Ketiga, aspek keberlanjutan harus tetap menjadi prioritas, mengingat kritik internasional terhadap deforestasi dan penggunaan lahan untuk perkebunan sawit.
Untuk menanggapi hal tersebut, tim ITS bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan sejumlah universitas lain dalam program riset lanjutan yang mencakup optimasi proses katalis, pemanfaatan limbah padat, serta analisis siklus hidup (life cycle assessment) Benwit. Hasil studi awal menunjukkan bahwa dengan menggunakan katalis berbasis zeolit yang dapat didaur ulang, efisiensi konversi dapat naik hingga 92 persen, sementara produksi limbah cair dapat diminimalisir.
Selain itu, pemerintah daerah Surabaya dan Kabupaten Gresik telah menyiapkan zona industri khusus untuk produksi bahan bakar berbasis biomassa. Zona ini dilengkapi infrastruktur pendukung, termasuk jaringan pipa transportasi minyak sawit mentah, fasilitas penyimpanan, serta sistem distribusi akhir ke stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) yang akan melayani Benwit secara eksklusif.
Jika implementasi Benwit berhasil di tingkat nasional, dampaknya akan meluas ke sektor transportasi, industri, dan bahkan rumah tangga. Kendaraan bermotor berbahan bakar Benwit dapat mengurangi biaya operasional, sementara pabrik-pabrik yang beralih ke bahan bakar ini akan menurunkan beban biaya energi dan emisi karbon. Di sisi lain, konsumen akan memperoleh alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan performa kendaraan.
Pentingnya inovasi ini juga tercermin dalam agenda kebijakan energi jangka panjang Indonesia, yang menargetkan 23 persen bauran energi terbarukan pada tahun 2025. Benwit berpotensi menjadi salah satu pilar utama dalam mencapai target tersebut, bersama dengan energi listrik dari PLTS dan bioetanol.
Secara keseluruhan, pencapaian tim ITS dalam mengubah minyak sawit menjadi bensin menunjukkan bahwa solusi lokal dapat mengatasi tantangan global, asalkan didukung oleh sinergi antara dunia riset, pemerintah, dan industri. Langkah selanjutnya meliputi skala pilot produksi, sertifikasi standar internasional, serta edukasi publik mengenai manfaat dan keamanan penggunaan Benwit.
Dengan komitmen bersama, Benwit tidak hanya menjadi alternatif bahan bakar, tetapi juga simbol kemandirian energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik dunia.