Pendapatan Negara Kuartal I 2026 Mencapai Rp574,9 Triliun, Tumbuh 10,5% YoY

Pendapatan Negara Kuartal I 2026 Mencapai Rp574,9 Triliun, Tumbuh 10,5% YoY
Pendapatan Negara Kuartal I 2026 Mencapai Rp574,9 Triliun, Tumbuh 10,5% YoY

123Berita – 06 April 2026 | Jakarta, 6 April 2026Pemerintah mengumumkan pencapaian pendapatan negara yang kuat pada kuartal pertama tahun 2026. Hingga akhir Maret, realisasi pendapatan mencapai Rp574,9 triliun, menandai peningkatan tahunan sebesar 10,5 persen. Angka tersebut sudah menyentuh 18,2 persen dari target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp3,15 kuadriliun.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pertumbuhan pendapatan ini didorong terutama oleh peningkatan signifikan dalam penerimaan pajak. Baik penerimaan pajak bruto maupun netto menunjukkan tren naik yang konsisten, mencerminkan pemulihan ekonomi domestik yang terus berlanjut.

Bacaan Lainnya

Penerimaan perpajakan pada kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp462,7 triliun, naik 14,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Komposisi utama terdiri atas pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai (PPN) serta pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), dan pajak kepabeanan dan cukai.

Kategori Realisasi (Triliun Rp) Pertumbuhan YoY
Penerimaan Pajak 462,7 +14,3%
— PPh Badan 43,3 +5,4%
— PPh Orang Pribadi & PPh 21 61,3 +15,8%
— PPh Final, PPh 22, PPh 26 76,7 +5,1%
— PPN & PPnBM 155,6 +57,7%
Penerimaan Pajak Lainnya 57,9 -5,7%
Penerimaan Kepabeanan & Cukai 67,9 -12,6%
— Bea Masuk 11,5 +0,9%
— Bea Keluar 5,4 -38,9%
— Cukai 51,0 -11,2%

Lonjakan penerimaan PPN dan PPnBM sebesar 57,7 persen mencerminkan peningkatan signifikan dalam konsumsi domestik dan transaksi perdagangan. Kenaikan ini sejalan dengan perbaikan daya beli masyarakat serta kebijakan penyesuaian tarif yang diterapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Sementara itu, sektor kepabeanan dan cukai mencatat penurunan sebesar 12,6 persen. Penurunan utama terjadi pada penerimaan cukai, yang turun 11,2 persen, serta bea keluar yang mengalami penurunan tajam 38,9 persen. Menteri Purbaya menjelaskan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya produksi pada akhir 2025 serta pemanfaatan fasilitas penundaan pembayaran oleh pelaku usaha.

Di sisi lain, bea masuk berhasil tumbuh tipis sebesar 0,9 persen, didorong oleh peningkatan nilai impor. Hal ini menandakan bahwa meskipun terdapat tekanan pada sektor ekspor, permintaan barang impor tetap kuat, mendukung pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Selain penerimaan pajak, pendapatan negara juga didukung oleh Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencapai Rp112,1 triliun serta hibah sebesar Rp100 miliar. Kombinasi sumber-sumber ini memperkuat fondasi fiskal negara pada kuartal pertama, memberikan ruang manuver bagi pemerintah untuk melaksanakan program-program prioritas dalam APBN 2026.

Implementasi sistem Coretax yang semakin efektif menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kepatuhan dan efisiensi pemungutan pajak. Menurut Purbaya, sistem ini memungkinkan integrasi data lintas lembaga, sehingga mengurangi celah kebocoran dan meningkatkan akurasi laporan keuangan negara.

Secara keseluruhan, data kuartal I 2026 menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia berada pada jalur pemulihan yang solid. Peningkatan pendapatan pajak, khususnya dari sektor konsumsi, serta optimalisasi mekanisme perpajakan, memberikan sinyal positif bagi stabilitas fiskal. Pemerintah diharapkan dapat terus memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat struktur pendapatan negara, menurunkan defisit anggaran, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Dengan target APBN 2026 yang ambisius, pencapaian Rp574,9 triliun pada kuartal pertama memberikan landasan yang kuat untuk mencapai keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran negara. Pemerintah akan terus memantau dinamika ekonomi dan menyesuaikan kebijakan fiskal guna memastikan keberlanjutan pertumbuhan dan kesejahteraan rakyat.

Pos terkait