123Berita – 06 Mei 2026 | PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo bersama beragam pemangku kepentingan baru-baru ini mengumumkan langkah konkret untuk memperkuat sinergi demi percepatan operasional penuh Terminal Kijing. Inisiatif ini menandai fase penting dalam upaya meningkatkan efisiensi logistik laut di wilayah Riau, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi regional yang selama ini masih terhambat oleh keterbatasan infrastruktur pelabuhan.
Terminal Kijing, yang terletak di Pulau Batam, memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang utama arus barang antara Indonesia, Singapura, dan negara‑negara Asia Tenggara lainnya. Dengan kedalaman laut mencapai 12 meter dan area dermaga seluas lebih dari 30.000 meter persegi, terminal ini dirancang untuk menampung kapal kontainer kelas besar serta kapal kargo umum. Namun, realisasi kapasitas optimal belum tercapai karena masih terdapat beberapa kendala operasional, termasuk keterlambatan proses bongkar muat, sistem manajemen data yang terfragmentasi, serta koordinasi lintas unit yang belum terintegrasi.
Untuk mengatasi hal‑hal tersebut, Pelindo menggelar serangkaian pertemuan intensif dengan otoritas pelabuhan, operator logistik, perusahaan pelayaran, serta pemerintah daerah. Tujuan utama pertemuan adalah menyusun roadmap bersama yang menekankan pada tiga pilar utama: infrastruktur, digitalisasi, dan tata kelola. Semua pihak sepakat bahwa sinergi yang terstruktur akan menjadi katalisator utama dalam mengurangi waktu turnaround kapal dan meningkatkan throughput terminal.
Berikut beberapa langkah strategis yang telah disepakati:
- Peningkatan Infrastruktur: Pengadaan alat berat tambahan, perbaikan jalur akses darat, serta perluasan area penyimpanan kontainer.
- Digitalisasi Proses: Implementasi sistem Terminal Operating System (TOS) berbasis cloud untuk memantau pergerakan barang secara real‑time, serta integrasi dengan platform e‑customs milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
- Koordinasi Lintas Unit: Pembentukan tim kerja gabungan yang meliputi perwakilan Pelindo, otoritas pelabuhan, dan operator logistik untuk menyelaraskan jadwal kapal, alokasi slot, serta prosedur keamanan.
Manfaat yang diharapkan dari sinergi ini sangat signifikan. Pertama, waktu tunggu kapal diproyeksikan dapat berkurang hingga 30 persen, yang berarti biaya operasional pelayaran menurun secara substansial. Kedua, peningkatan kapasitas penanganan barang akan memperkuat posisi Terminal Kijing sebagai hub logistik utama, menarik lebih banyak investasi asing, khususnya dalam sektor manufaktur dan perdagangan. Ketiga, dampak ekonomi makro di wilayah Riau diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,2 persen per tahun berkat peningkatan aktivitas ekspor‑impor yang lebih lancar.
Direktur Utama Pelindo, Bapak Joko Sukardi, menyatakan, “Sinergi yang kami bangun dengan semua pemangku kepentingan bukan sekadar kerjasama formal, melainkan sebuah komitmen bersama untuk mengoptimalkan potensi Terminal Kijing. Dengan mempercepat operasional penuh, kami berharap dapat menciptakan ekosistem logistik yang lebih responsif dan kompetitif.” Sementara itu, Gubernur Provinsi Riau, Ibu Nadiem Sanjaya, menambahkan, “Terminal Kijing merupakan aset strategis bagi provinsi kami. Kolaborasi yang ditunjukkan Pelindo dengan pihak terkait akan membuka peluang kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.”
Rencana implementasi telah dijadwalkan secara bertahap. Pada kuartal pertama 2024, fokus utama akan diberikan pada penyelesaian infrastruktur fisik, termasuk penambahan crane dan perbaikan jalan akses. Kuartal kedua akan menjadi momentum peluncuran sistem TOS, dengan pelatihan intensif bagi operator pelabuhan. Pada kuartal ketiga, tim kerja gabungan akan melakukan evaluasi kinerja dan melakukan penyesuaian proses bila diperlukan. Target akhir tahun 2024 adalah mencapai operasional penuh dengan tingkat efisiensi yang sesuai standar internasional.
Secara keseluruhan, upaya sinergi ini mencerminkan komitmen Pelindo untuk tidak hanya meningkatkan kinerja operasional, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dengan mengoptimalkan Terminal Kijing, Indonesia semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat logistik maritim di kawasan Asia‑Pasifik, sekaligus menyediakan platform yang lebih handal bagi pelaku usaha dalam mengakses pasar global.



