123Berita – 05 April 2026 | Roma, Italia – Pada pekan suci menjelang Paskah, Paus Leo XIV kembali menelusuri jejak sejarah keagamaan dengan membawa sebuah salib kayu melintasi lorong-lorong megah Colosseum. Upacara ini menandai kembalinya sebuah ritual yang sempat menghilang selama beberapa dekade, sekaligus menegaskan nilai simbolik perayaan kebangkitan Kristus di jantung kota abadi.
Salib kayu yang dibawa Paus berukuran cukup besar, dipahat dengan detail ornamen tradisional Katolik, dan disandarkan pada tiang-tiang batu kuno Colosseum. Rangkaian prosesi dimulai dari pintu utama Colosseum, lalu dilanjutkan dengan langkah-langkah khidmat menuju arena tengah, tempat Paus menempatkan salib tersebut di atas sebuah batu altar sementara.
Ritual ini, yang pertama kali dilakukan pada abad ke-20 sebelum terhenti pada 1970-an, memiliki akar sejarah yang dalam. Pada masa awal Kekristenan, Colosseum menjadi saksi bisu penganiayaan umat Kristiani, termasuk eksekusi publik. Mengembalikan salib ke arena tersebut tidak sekadar simbolis, melainkan merupakan bentuk rekonsiliasi antara masa lalu kelam dan harapan masa depan.
Paus Leo XIV, yang dikenal dengan pendekatan pastoral yang hangat, memimpin doa bersama dengan para uskup dan tokoh agama lainnya. Doa utama berfokus pada pengampunan, perdamaian, dan kebangkitan spiritual umat Katolik di seluruh dunia. Setelah doa, Paus memegang salib tersebut, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas arena, seolah menegaskan bahwa cahaya Kristus kembali bersinar di tengah reruntuhan masa lalu.
Berikut rangkaian kegiatan prosesi:
- 06.30 WIB – Kedatangan Paus di gerbang utama Colosseum.
- 07.00 WIB – Upacara pembukaan dengan nyanyian gregoria.
- 07.30 WIB – Jalan salib menuju arena tengah.
- 08.00 WIB – Penempatan salib kayu pada altar sementara.
- 08.30 WIB – Doa Paskah bersama umat.
- 09.00 WIB – Penutup dan penyebaran roti serta anggur.
Penggunaan salib kayu, alih-alih bahan logam atau batu, dipilih karena melambangkan penderitaan Kristus yang bersifat organik dan mudah dikenali oleh umat. Paus Leo XIV menegaskan, “Kayu yang sederhana ini mengingatkan kita pada akar penderitaan yang menyatu dengan harapan akan kebangkitan.”
Beberapa ahli sejarah dan arkeologi memberikan komentar positif terhadap inisiatif ini. Dr. Marco Bianchi, pakar sejarah Gereja di Universitas Roma, menyatakan, “Pengembalian simbol salib ke Colosseum memperkaya narasi historis, menambah dimensi spiritual pada situs yang selama ini identik dengan pertunjukan gladiator.”
Selain aspek religius, prosesi ini juga menarik perhatian wisatawan internasional. Hotel-hotel di sekitar Vatikan melaporkan lonjakan reservasi, sementara toko suvenir menjajakan replika salib kayu sebagai memorabilia. Hal ini mencerminkan sinergi antara keagamaan dan pariwisata, memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas lokal.
Namun, tidak semua pihak menyambut baik inisiatif ini. Beberapa kelompok sekuler mengkritik penggunaan ruang publik yang bersifat historis untuk upacara keagamaan, menganggapnya dapat menimbulkan ketegangan antar keyakinan. Sebagai respons, pihak Vatikan menegaskan bahwa acara ini bersifat inklusif, mengundang semua kalangan untuk berpartisipasi dalam semangat kebersamaan.
Dengan berakhirnya prosesi, Paus Leo XIV meninggalkan Colosseum sambil mengucapkan harapan agar semangat Paskah dapat terus menyatu dalam hati umat Katolik di seluruh dunia. “Semoga cahaya kebangkitan Kristus membawa damai bagi setiap jiwa, baik di Roma maupun di pelosok dunia,” tutupnya.
Upacara ini tidak hanya menandai kembalinya tradisi lama, tetapi juga menjadi simbol dialog antara masa lalu dan masa kini, antara sejarah Kekaisaran Romawi dan keyakinan Kristen modern. Keberanian Paus dalam menghidupkan kembali ritual ini memberikan inspirasi bagi umat Katolik untuk menelusuri akar iman mereka, sekaligus mengingatkan dunia akan nilai perdamaian dan rekonsiliasi.
Kesimpulannya, prosesi Paus Leo XIV membawa salib ke Colosseum pada perayaan Paskah menjadi sebuah peristiwa bersejarah yang menggabungkan dimensi spiritual, budaya, dan sosial. Melalui ritual ini, umat Katolik diingatkan akan kebangkitan Kristus yang melampaui batas waktu, sementara Roma menegaskan posisinya sebagai kota yang memelihara warisan iman sekaligus membuka pintu bagi dialog lintas budaya.