Nyak Sandang Tutup Usia 100 Tahun, Penggerak Utama Pesawat Seulawah yang Menjadi Simbol Awal Penerbangan Indonesia

123Berita – 10 April 2026 | Indonesia kehilangan seorang tokoh legendaris pada usia seratus tahun. Teungku Nyak Sandang, sosok yang tak asing bagi sejarah penerbangan nusantara, resmi meninggal dunia pada hari ini. Kehilangan ini membuka kembali lembaran panjang perjuangan seorang pria Aceh yang berperan penting dalam pembuatan pesawat pertama Indonesia, Seulawah, serta menorehkan jejak heroik dalam era kemerdekaan dan pembangunan nasional.

Nyak Sandang lahir pada tahun 1926 di sebuah desa kecil di Aceh Besar. Sejak masa mudanya, ia sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia teknik dan transportasi. Pada masa penjajahan Belanda, ia aktif dalam gerakan kemerdekaan dan sekaligus menyerap pengetahuan tentang mesin serta konstruksi pesawat melalui jaringan informal para insinyur dan pilot yang berkumpul di Aceh. Keterbukaan dan rasa ingin tahunya membuatnya menjadi salah satu tokoh penting dalam upaya menggalang dukungan material dan moral bagi proyek penerbangan pertama Indonesia.

Bacaan Lainnya

Setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, pemerintah Republik Indonesia bertekad mengembangkan armada udara yang mandiri. Namun, keterbatasan sumber daya, terutama suku cadang dan dana, menjadi hambatan utama. Di sinilah Nyak Sandang masuk sebagai “pahlawan belakang layar”. Ia berperan sebagai penghubung antara pemerintah, militer, serta para pengusaha lokal yang bersedia menyumbangkan bahan baku. Melalui jaringan keluarganya yang tersebar di wilayah Sumatera, ia berhasil mengamankan kayu jati, logam, serta komponen lain yang dibutuhkan untuk merakit pesawat.

Proyek pesawat Seulawah, yang dinamai sesuai dengan nama pegunungan di Aceh, menjadi simbol kebanggaan nasional. Dirancang oleh insinyur terkemuka pada era itu, pesawat tersebut membutuhkan ribuan kilogram material, yang sebagian besar dipasok oleh Nyak Sandang. Ia mengatur pengiriman kayu jati dari hutan Aceh ke bengkel perakitan di Bandung, serta mengkoordinasikan transportasi logam ringan melalui jalur laut yang berisiko. Tanpa upaya logistiknya, proses perakitan akan terhambat lama.

Peran Nyak Sandang tidak hanya terbatas pada penyediaan material. Ia juga menjadi penasihat teknis bagi tim perakit, memberikan masukan berdasarkan pengalamannya dalam perawatan kapal dan kendaraan darat. Pengetahuannya tentang kekuatan struktural kayu serta kemampuan menyesuaikan desain agar cocok dengan kondisi iklim tropis menjadi nilai tambah yang tak ternilai. Pada akhirnya, pada bulan Agustus 1949, pesawat Seulawah berhasil melakukan penerbangan perdana, menandai tonggak bersejarah bagi industri dirgantara Indonesia.

Setelah keberhasilan Seulawah, Nyak Sandang tidak berhenti berkontribusi. Ia terus aktif dalam pengembangan infrastruktur penerbangan di Aceh, termasuk membantu pendirian landasan udara pertama di wilayah tersebut. Ia juga terlibat dalam pelatihan generasi muda yang tertarik pada bidang teknik dan penerbangan, menjadikan dirinya sebagai mentor bagi banyak insinyur yang kemudian berperan dalam program pesawat tempur dan transportasi sipil di era 1960-an.

Penghargaan-penghargaan bergengsi pun tak luput menghampiri Nyak Sandang. Pada tahun 1975, Presiden Indonesia memberikan Bintang Jasa Utama sebagai apresiasi atas jasa-jasanya dalam memajukan penerbangan nasional. Beberapa dekade kemudian, ia kembali diundang sebagai narasumber dalam seminar sejarah penerbangan di Universitas Gadjah Mada, di mana ia membagikan kisah perjuangan dan tantangan teknis yang dihadapi pada masa awal.

Kematian Nyak Sandang di usia seratus tahun mengingatkan kita pada nilai ketekunan, kerja keras, dan semangat kebangsaan. Ia tidak hanya menjadi saksi perubahan zaman, melainkan juga agen perubahan yang memengaruhi arah perkembangan teknologi di tanah air. Keluarga, sahabat, serta rekan-rekan seprofesi memberikan penghormatan terakhir dengan upacara yang sederhana namun penuh makna, mencerminkan kerendahan hati sang tokoh.

Warisan Nyak Sandang tetap hidup melalui pesawat-pesawat yang terus terbang di angkasa Indonesia, serta melalui generasi insinyur muda yang terinspirasi oleh kisahnya. Pemerintah daerah Aceh berencana mendirikan monumen peringatan di situs kelahiran Nyak Sandang, sekaligus menyelenggarakan program beasiswa teknik penerbangan atas nama beliau. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat rasa kebanggaan lokal sekaligus menumbuhkan semangat inovasi pada pemuda Aceh.

Seiring berjalannya waktu, nama Nyak Sandang akan selalu diukir dalam buku sejarah penerbangan Indonesia. Keberanian dan dedikasinya dalam mengatasi keterbatasan sumber daya, serta kemampuan menggalang solidaritas antar‑wilayah, menjadi contoh nyata bagaimana semangat kebangsaan dapat mengubah tantangan menjadi prestasi. Dalam era digital yang semakin maju, kisahnya tetap relevan sebagai pengingat bahwa inovasi tidak hanya lahir dari teknologi canggih, tetapi juga dari tekad dan kerja keras manusia yang bersedia mengorbankan waktunya demi kemajuan bangsa.

Kesimpulannya, kepergian Nyak Sandang di usia seratus tahun menutup sebuah bab penting dalam sejarah penerbangan Indonesia, namun membuka peluang bagi generasi selanjutnya untuk melanjutkan warisan semangat kebangsaan dan inovasi yang telah ditanamkan olehnya.

Pos terkait