123Berita – 04 April 2026 | Selama berabad-abad, gerakan berputar yang dipopulerkan oleh Jalaluddin Rumi, dikenal sebagai Whirling Dervishes, telah menjadi simbol spiritualitas dalam tradisi Tasawuf. Di era modern, temuan ilmiah mulai menguak fakta bahwa tarian ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan memiliki dampak biologis yang signifikan pada fungsi otak dan kesejahteraan mental manusia.
Pada sebuah sesi publik bertajuk “Between Brain and Soul: A Psychiatrist’s Perspective on Tasawuf and Mental Health,” Prof. Dr. Nevzat Tarhan, seorang psikiater terkemuka, memaparkan hasil penelitiannya yang dipublikasikan pada tahun 2014. Penelitian tersebut menelusuri bagaimana praktik tari Rumi memengaruhi aktivitas otak, khususnya pada wilayah prefrontal cortex yang berperan sebagai pusat regulasi emosi, pengambilan keputusan, dan interaksi sosial.
Filosofi Gerakan dan Respon Saraf
Setiap elemen gerakan dalam tarian Rumi memiliki korelasi neurologis yang jelas:
- Putaran dari kiri ke kanan – Gerakan melingkar dimulai dari arah hati, melambangkan perjalanan spiritual menuju Tuhan. Ritme berulang membantu menurunkan aktivitas sistem saraf simpatik, sehingga mengurangi ketegangan fisiologis.
- Tangan kanan mengangkat, tangan kiri menurunkan – Simbol penerimaan rahmat Ilahi yang kemudian disalurkan kepada sesama. Dari sudut psikologis, gestur ini menumbuhkan rasa makna dan keterhubungan sosial, dua faktor utama dalam pencapaian kebahagiaan autentik.
- Kepala menunduk – Representasi tawadhu atau kerendahan hati. Penurunan kepala memicu refleks relaksasi pada otot-otot leher dan mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan kontrol ego, membantu mengurangi stres berlebih.
- Melepaskan “jubah hitam” atau ikat pinggang – Simbol penyucian diri dari nafsu. Proses simbolik ini memfasilitasi penurunan aktivitas amigdala, pusat pengolahan rasa takut, sehingga mengurangi kecemasan.
Prof. Tarhan menegaskan bahwa mekanisme tersebut bukan sekadar metafora mistik, melainkan refleksi nyata dari perubahan neurokimia. Ketika ego berkurang, jaringan konektivitas antar‑bagian otak menjadi lebih efisien, memungkinkan munculnya kondisi “flow” yang sering dijelaskan sebagai kebahagiaan tanpa gangguan.
Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa tarian berputar meningkatkan produksi faktor neurotropik yang mendukung pertumbuhan sel saraf baru (neurogenesis). Dengan demikian, praktik rutin dapat berkontribusi pada pencegahan gangguan depresi serta meningkatkan kapasitas kognitif pada usia lanjut.
Berikut rangkaian gerakan dasar yang sering dipraktikkan dalam sesi latihan Whirling Dervishes, beserta manfaat neurofisiologinya:
- Persiapan berdiri tegak, kedua kaki sejajar, napas dalam – menstabilkan sistem vestibular.
- Mulai putaran perlahan, fokus pada titik di depan untuk mengurangi vertigo, sambil mengarahkan perhatian pada sensasi tubuh.
- Setelah beberapa putaran, naikkan tangan kanan ke atas, kiri ke bawah, sambil mengucapkan niat menerima rahmat.
- Turunkan kepala secara bertahap, menandakan penyerahan diri pada kekuatan yang lebih tinggi.
- Akhiri dengan menghentikan putaran secara gradual, menurunkan napas, dan melepaskan jubah atau ikat sebagai simbol penyucian.
Praktik tersebut tidak hanya memperkuat keseimbangan fisik, tetapi juga melatih regulasi emosional melalui umpan balik sensorik yang konsisten. Dalam konteks terapi modern, pendekatan ini dapat melengkapi teknik kognitif‑perilaku, memberikan alternatif non‑farmakologis bagi pasien yang mengalami gangguan kecemasan atau depresi ringan.
Secara keseluruhan, temuan Prof. Tarhan menegaskan relevansi ajaran Sufi Rumi yang berusia lebih dari tujuh abad sebagai alat terapeutik kontemporer. Integrasi antara akal dan spiritualitas membuka peluang baru bagi bidang psikiatri untuk mengadopsi praktik tradisional yang terbukti memiliki basis ilmiah.
Dengan menggabungkan gerakan ritmis, niat spiritual, dan pemahaman neurobiologis, Whirling Dervishes menjadi contoh konkret bagaimana tradisi kuno dapat berkontribusi pada kesehatan mental masyarakat modern. Kebahagiaan yang dirasakan bukan semata‑mata hasil kepercayaan, melainkan hasil interaksi kompleks antara otak, hormon, dan pengalaman spiritual yang terstruktur.