Minum Oli Jadi Tren Mematikan di Media Sosial: Dokter Ungkap Bahaya Fatal yang Mengancam Kesehatan

123Berita – 09 April 2026 | Dalam beberapa minggu terakhir, aksi meneguk oli motor muncul sebagai fenomena viral di platform media sosial Indonesia. Video‑video pendek yang menampilkan remaja dan dewasa mengonsumsi oli cair tanpa filter menimbulkan kegemparan publik, sekaligus menimbulkan pertanyaan serius tentang motivasi di balik tren berbahaya tersebut.

Berbeda dengan tantangan yang biasanya bersifat ringan, aksi ini menempatkan konsumsi zat yang secara kimiawi setara dengan racun industri ke dalam lingkaran eksposur publik. Dokter spesialis kedokteran internal, Dicky Budiman, yang menjadi narasumber utama, menegaskan bahwa menelan oli motor dapat menyebabkan kerusakan organ secara cepat dan berpotensi berujung pada kematian.

Bacaan Lainnya

Oli motor mengandung campuran kompleks yang dirancang khusus untuk melumasi mesin, bukan untuk dikonsumsi manusia. Komponen utama meliputi hidrokarbon berat, anti‑oksidan, serta bahan aditif kimia seperti zat anti‑karat dan deterjen mesin. Ketika zat‑zat ini masuk ke dalam sistem pencernaan, tubuh tidak memiliki mekanisme alami untuk memetabolisme atau mengeluarkannya secara aman.

  • Kerusakan saluran pencernaan: Minyak kental dapat melapisi dinding lambung dan usus, menyebabkan iritasi, luka bakar kimia, serta perdarahan internal.
  • Toksisitas hati: Hati berperan mengurai zat berbahaya, namun komposisi oli motor melebihi kapasitas detoksifikasi, memicu hepatitis akut hingga nekrosis sel hati.
  • Gangguan ginjal: Produk sampingan metabolisme oli dapat menyumbat tubulus ginjal, mengakibatkan gagal ginjal akut.
  • Kerusakan sistem saraf: Beberapa aditif mengandung senyawa neurotoksik yang dapat menurunkan fungsi otak, menyebabkan kebingungan, kejang, atau koma.
  • Risiko kematian: Kombinasi kerusakan multi‑organ dalam waktu singkat dapat menyebabkan shock septik dan kematian bila tidak ditangani secara medis segera.

“Tidak ada dosis aman untuk mengonsumsi oli. Bahkan sekadar menelan sedikit saja sudah cukup menimbulkan kerusakan permanen pada organ vital,” ujar Dr. Budiman dalam wawancara. “Kita harus mengedukasi generasi muda bahwa apa yang tampak ‘seru’ di media sosial belum tentu aman, apalagi bila melibatkan bahan kimia berbahaya.”

Pihak berwenang, termasuk Kementerian Kesehatan dan Badan Penanggulangan Narkotika dan Psikotropika, telah mengeluarkan peringatan resmi. Mereka menegaskan bahwa tindakan meniru aksi tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum terkait penyalahgunaan bahan kimia berbahaya.

Respons masyarakat pun beragam. Sebagian besar netizen menyuarakan keprihatinan dan menyerukan tindakan tegas terhadap pencipta tren tersebut, sementara beberapa masih mencoba meniru dengan menambahkan disclaimer “hanya untuk hiburan”. Namun, risiko kesehatan tetap menjadi prioritas utama.

Untuk mencegah kejadian serupa, para ahli menyarankan langkah-langkah berikut:

  1. Menumbuhkan literasi digital yang menekankan pada verifikasi keamanan konten sebelum menirunya.
  2. Mendorong sekolah dan organisasi pemuda untuk mengadakan sosialisasi tentang bahaya zat kimia industri.
  3. Memberikan sanksi tegas bagi akun yang menyebarkan tantangan berbahaya tanpa disclaimer medis.
  4. Meningkatkan akses informasi kesehatan melalui kampanye media massa dan platform digital.

Dengan meningkatnya tren tantangan berbahaya di dunia maya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga kesehatan, dan platform media sosial menjadi sangat penting. Upaya edukasi yang berkelanjutan dapat mengurangi antusiasme publik terhadap aksi‑aksi berisiko tinggi dan melindungi generasi mendatang dari konsekuensi fatal.

Secara keseluruhan, aksi minum oli yang kini beredar di media sosial bukan sekadar fenomena hiburan semata, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan publik. Dokter menegaskan bahwa konsekuensi yang dapat timbul meliputi kerusakan organ kritis hingga kematian, sehingga tindakan pencegahan dan edukasi harus menjadi fokus utama dalam menanggulangi tren berbahaya ini.

Pos terkait