123Berita – 05 April 2026 | Larantuka, sebuah kota kecil di ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, kembali menjadi magnet spiritual setiap tahunnya ketika ribuan peziarah berkumpul untuk merayakan Semana Santa. Perayaan sakral ini tidak hanya menampilkan prosesi keagamaan yang khidmat, melainkan juga menyoroti sebuah tradisi eksklusif yang hanya terjadi satu kali dalam setahun: pembukaan kembali pintu Kapela Tuan Ma.
Kapela Tuan Ma, yang berdiri megah di kawasan Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus, merupakan warisan arsitektur religius yang dibangun pada abad ke-19 oleh para misionaris Portugis. Selama lebih dari satu abad, kapela ini tetap terkunci rapat, hanya dapat diakses pada momen-momen khusus yang ditetapkan oleh otoritas gereja. Kebijakan ini mencerminkan nilai sakral dan simbolik yang mendalam, menjadikan pembukaan pintunya sebagai puncak spiritual bagi seluruh umat Katolik di wilayah tersebut.
Pada pekan menjelang Minggu Palma, warga Larantuka dan peziarah dari berbagai daerah bersiap menyambut hari pembukaan Kapela Tuan Ma. Upacara dimulai dengan misa pembukaan di gereja utama, diikuti oleh prosesi lilin yang melintasi jalanan berbatu kota. Ribuan lilin menyala, menciptakan lautan cahaya yang mengiringi langkah para peziarah menuju kapela yang kini terbuka.
Berikut adalah rangkaian kegiatan utama selama pembukaan Kapela Tuan Ma:
- Misa Pembukaan: Dipimpin oleh uskup setempat, misa ini menandai dimulainya perayaan Semana Santa dan memberikan berkat khusus bagi kapela.
- Prosesi Lilin: Peziarah membawa lilin berwarna putih, melambangkan kemurnian iman, sambil menyanyikan himne tradisional Katolik.
- Pembacaan Doa Khusus: Doa-doa kuno yang diwariskan turun-temurun dibacakan di dalam kapela, menambah nuansa mistik.
- Penampilan Musik Tradisional: Koor gereja dan grup musik daerah menyajikan nyanyian liturgi yang menggabungkan melodi Barat dan unsur musik Flores.
- Doa Penutup dan Penguncian Kembali: Setelah serangkaian ibadah, kapela ditutup kembali dengan ritual khusus, menandai akhir perayaan tahunan.
Partisipasi aktif masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan tradisi ini. Penduduk Larantuka secara sukarela membantu menyiapkan dekorasi, mengatur alur prosesi, serta menyediakan makanan tradisional bagi para peziarah. Kehadiran tokoh agama, termasuk uskup Keuskupan Larantuka, menegaskan pentingnya kapela sebagai simbol persatuan spiritual.
Secara ekonomi, perayaan Semana Santa dan pembukaan Kapela Tuan Ma memberikan dampak positif yang signifikan. Hotel, warung makan, dan pedagang suvenir melaporkan peningkatan pendapatan hingga 40 persen selama periode tersebut. Selain itu, wisatawan domestik dan mancanegara yang tertarik pada warisan budaya religius turut memperkaya keragaman pengalaman di Nusa Tenggara Timur.
“Kapela Tuan Ma bukan sekadar bangunan, melainkan saksi bisu perjalanan iman komunitas kami,” ujar Bupati Larantuka, Dr. Imanuel L. Ginting, dalam sebuah wawancara. “Setiap kali pintu kapela dibuka, kami merasakan kebersamaan yang melampaui batas geografis dan generasi. Ini adalah momentum untuk mengingatkan diri kita akan nilai-nilai toleransi, pengorbanan, dan harapan yang terkandung dalam ajaran Kristus.”
Para peziarah juga menyampaikan kesan mendalam mereka. Seorang pengunjung dari Jakarta, Rina Suryani, menuturkan, “Saya terharu melihat ribuan lilin menyala, dan saat kapela terbuka, terasa seperti cahaya iman yang menembus hati. Pengalaman ini menguatkan keyakinan saya dan menambah rasa kebanggaan terhadap kebudayaan Indonesia yang beragam.”
Tradisi pembukaan Kapela Tuan Ma memang terikat pada kalender liturgi, namun esensinya melampaui ritual religius semata. Ia menjadi wadah pelestarian budaya, memperkuat identitas lokal, dan mempererat jaringan sosial antarwarga. Keunikan praktik ini menegaskan Larantuka sebagai salah satu destinasi spiritual terpenting di kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, otoritas gereja berencana untuk memperluas program edukasi mengenai sejarah kapela, termasuk mengadakan pameran foto dan dokumen arsip yang dapat diakses oleh generasi muda. Upaya ini diharapkan dapat menjaga agar tradisi membuka kapela sekali setahun tetap hidup, sekaligus menginspirasi generasi berikutnya untuk menjaga warisan spiritual yang tak ternilai.
Dengan ribuan langkah kaki yang mengiringi lilin, nyanyian yang mengalun, serta doa-doa yang menggetarkan, pembukaan Kapela Tuan Ma setiap tahun tetap menjadi momen puncak yang menyatukan keimanan, budaya, dan ekonomi. Tradisi ini menegaskan bahwa dalam kesederhanaan sebuah pintu yang terbuka, terdapat kekuatan untuk menghubungkan hati ribuan orang, menyalakan harapan, serta melestarikan identitas religius yang telah mengakar kuat di tanah Larantuka.
Kesimpulannya, tradisi Semana Santa di Larantuka, khususnya pembukaan Kapela Tuan Ma, tidak hanya memperkaya khazanah keagamaan Indonesia, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan sosial dan ekonomi daerah. Keberlanjutan ritual ini menuntut sinergi antara pemuka agama, pemerintah daerah, dan masyarakat luas, sehingga nilai spiritual dan budaya dapat terus dirayakan oleh generasi mendatang.





