Menko Zulhas Desak 20 Organisasi Pemuda Perkuat Peran Menghadapi Ketidakpastian Global

Menko Zulhas Desak 20 Organisasi Pemuda Perkuat Peran Menghadapi Ketidakpastian Global
Menko Zulhas Desak 20 Organisasi Pemuda Perkuat Peran Menghadapi Ketidakpastian Global

123Berita – 08 April 2026 | Koordinator Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) Zulhas Ardhi menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam mengatasi tantangan global yang semakin dinamis. Dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh dua puluh organisasi kepemudaan terkemuka, Menko Zulhas menyerukan peran aktif pemuda untuk memperkuat ketahanan nasional di tengah ketidakpastian ekonomi, politik, dan lingkungan dunia.

Acara yang berlangsung di Balai Kartini, Jakarta ini menampilkan delegasi dari organisasi seperti Gerakan Pemuda Indonesia (GPI), BEM Fakultas Ekonomi, dan Ikatan Pemuda Islam (IPI). Semua pihak menyambut panggilan Menko Zulhas dengan antusias, mengingat peran strategis generasi muda dalam inovasi, wirausaha, serta advokasi kebijakan publik.

Bacaan Lainnya

“Kami berada di tengah era di mana perubahan terjadi dengan sangat cepat—dari gangguan rantai pasok global hingga fluktuasi harga energi. Pemuda tidak dapat berdiam diri. Mereka harus menjadi agen perubahan yang mampu menggerakkan program strategis negara,” ujar Menko Zulhas dalam sambutannya.

Menko menekankan bahwa percepatan program strategis pemerintah, khususnya swasembada pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi produk, memerlukan dukungan penuh dari semua elemen masyarakat, termasuk pemuda. Ia menambahkan bahwa program-program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, melainkan juga pada peningkatan nilai tambah, efisiensi, dan keberlanjutan.

Berikut poin-poin utama yang disampaikan Menko Zulhas selama pertemuan:

  • Swasembada Pangan: Memperkuat produksi beras, jagung, dan kedelai melalui adopsi teknologi pertanian presisi dan peningkatan akses pembiayaan bagi petani muda.
  • Ketahanan Energi: Mengembangkan sumber energi terbarukan, terutama tenaga surya dan biomassa, serta mempercepat transisi dari bahan bakar fosil.
  • Hilirisasi Industri: Mendorong nilai tambah pada produk domestik, khususnya melalui pengembangan industri manufaktur berteknologi tinggi dan inovasi produk.

Selanjutnya, Menko menyoroti tiga tantangan utama yang harus dihadapi pemuda Indonesia:

  1. Ketidakpastian pasar global yang dipicu oleh kebijakan proteksionis dan konflik geopolitik.
  2. Perubahan iklim yang menimbulkan risiko pada produksi pertanian dan ketersediaan sumber daya alam.
  3. Transformasi digital yang menuntut peningkatan kompetensi dan adaptasi cepat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Menko menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia akademik, dan sektor swasta. Ia mengajak organisasi pemuda untuk menjadi jembatan komunikasi, mengidentifikasi kebutuhan lapangan, serta mengimplementasikan solusi berbasis data dan inovasi.

Seorang perwakilan dari Gerakan Pemuda Indonesia menanggapi dengan optimisme, menyatakan kesiapan anggotanya untuk berkontribusi dalam program swasembada pangan melalui pelatihan pertanian modern dan pengembangan startup agritech. Sementara itu, perwakilan BEM Fakultas Ekonomi menekankan perlunya riset kebijakan yang melibatkan mahasiswa untuk mengkaji dampak kebijakan perdagangan internasional terhadap industri dalam negeri.

Pada akhir pertemuan, Menko Zulhas menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan masing-masing organisasi. Nota tersebut mencakup komitmen bersama untuk:

  • Melaksanakan workshop dan pelatihan teknis secara berkala.
  • Menyusun rekomendasi kebijakan yang bersifat actionable dan berbasis riset.
  • Mengembangkan platform digital untuk berbagi pengetahuan dan best practice antar pemuda di seluruh Indonesia.

Menko menutup acara dengan harapan bahwa kolaborasi ini akan menjadi katalisator bagi terciptanya generasi muda yang tidak hanya siap menghadapi ketidakpastian, tetapi juga mampu menciptakan peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan menempatkan pemuda pada posisi strategis, pemerintah berharap dapat memperkuat fondasi ketahanan nasional serta meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam mengintegrasikan aspirasi dan potensi generasi muda ke dalam agenda pembangunan jangka panjang.

Pos terkait