123Berita – 04 April 2026 | Jakarta – Sutradara Kuntz Agus kembali mempersembahkan drama keluarga berjudul Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?, produksi perdana rumah film Five Elements Pictures bekerja sama dengan Kults Creative. Film ini mengangkat dinamika hubungan antara anak dan orang tua yang secara fisik masih akrab namun secara emosional mulai terasa terjauh. Cerita diadaptasi dari novel bestseller karya Khoirul Trian, yang sebelumnya menjadi bacaan populer di kalangan pembaca Indonesia.
Jadwal penayangan serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia dimulai pada 9 April 2026, menandai debut Five Elements Pictures di layar lebar. Produser Soemijato Muin dan Ody Mulya Hidayat menegaskan bahwa adaptasi ini memiliki potensi kuat untuk mengekspresikan kegelisahan emosional yang terpendam dalam relasi ayah‑anak, sekaligus menyoroti pentingnya peran Kuntz Agus yang dianggap mampu menyalurkan nuansa hangat dan haru pada setiap adegan.
Pemeran utama, Mawar de Jongh, menghidupkan karakter Dira, seorang perempuan yang tumbuh bersama saudara kembarnya, Darin (diperankan Rey Bong), dalam lingkungan keluarga yang tampak harmonis. Namun seiring berjalannya waktu, mereka menyadari perubahan sikap ayah mereka, Yudi (Dwi Sasono), yang dulu selalu hadir secara fisik namun kini semakin sukar dijangkau secara batin. Konflik internal Dira menjadi titik fokus utama, mengingat karakternya digambarkan sebagai pribadi pendiam yang cenderung menahan perasaannya.
Mawar de Jongh mengaku bahwa memerankan Dira menantang karena harus menampilkan perasaan yang tidak selalu tampak secara eksplisit. “Karakter Dira memang memiliki kesulitan dalam mengekspresikan emosinya, ia lebih banyak memendam perasaan. Namun berkat dukungan tim yang luar biasa, proses pengerjaan menjadi lebih mudah,” ungkapnya dalam sebuah wawancara. Ia menambahkan bahwa adegan-adegan emosional dalam film ini cukup panjang dan intens, sehingga pada saat pertama kali membaca naskah, ia sempat merasakan kegugupan yang luar biasa.
Selain Mawar de Jongh, Rey Bong, Dwi Sasono, dan Unique Priscilla, deretan pemain lain seperti Baskara Mahendra, Kiara Mckenna, Dinda Kanyadewi, serta Azami Syauqi turut memperkaya lapisan cerita. Keberagaman pemain ini memberikan dimensi realistis pada drama keluarga yang berusaha meniru dinamika keseharian masyarakat Indonesia.
Kuntz Agus menegaskan bahwa film ini bukan sekadar kisah anak‑ayah, melainkan dialog dua arah yang mengungkapkan perasaan masing‑masing pihak. “Film ini adalah ungkapan hati, tidak hanya dari anak kepada ayah, tetapi juga sebaliknya. Kami berharap penonton dapat menemukan ruang untuk mendengarkan, memahami, dan memaafkan dalam konteks keluarga mereka,” ujarnya.
Alur cerita mencapai puncaknya ketika sebuah kecelakaan tragis menimpa Lia, ibu yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Kejadian ini memaksa Dira dan Darin menghadapi realitas pahit terkait hutang, ketidakpastian hidup, dan retaknya hubungan keluarga yang selama ini terjaga. Konflik ini menambah kedalaman naratif, menjadikan film bukan hanya sekadar drama emosional, tetapi juga cermin realita sosial ekonomi yang sering kali tersembunyi di balik senyuman keluarga.
Penggunaan latar Jakarta sebagai setting utama memperkuat nuansa urban yang menjadi saksi bisu perubahan generasi. Penonton diharapkan dapat merasakan keintiman ruang keluarga modern, sekaligus menyadari bahwa tekanan eksternal seperti beban finansial dapat memengaruhi keutuhan ikatan emosional.
Secara sinematografi, Kuntz Agus memilih pendekatan visual yang lembut namun tajam, menyoroti momen-momen kecil seperti tatapan, sentuhan tangan, dan jeda diam yang menambah berat emosional tiap adegan. Musik latar, meskipun tidak diuraikan secara detail dalam sumber, diperkirakan akan menyatu dengan tema sentral, memperkuat atmosfer haru dan harapan.
Film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? diharapkan menjadi titik tolak diskusi publik mengenai pentingnya komunikasi terbuka dalam keluarga. Dengan mengangkat tema yang relevan bagi banyak generasi, serta menampilkan pemeran muda yang tengah naik daun, produksi ini berpotensi menjadi salah satu film Indonesia paling dibicarakan pada tahun 2026.
Keseluruhan, karya ini menegaskan kembali peran sinema sebagai cermin sosial yang mampu mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam. Jika berhasil menyentuh hati penonton, film ini tidak hanya akan mencetak angka penjualan tiket yang mengesankan, tetapi juga menginspirasi perubahan pola pikir dalam hubungan keluarga di seluruh negeri.





