123Berita – 09 April 2026 | Seorang anggota Kopassus yang dikenal dengan julukan “Mardi Rambo” baru-baru ini mengungkapkan serangkaian pengalaman menegangkan selama menjalankan operasi khusus di luar negeri. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Rambo mengisahkan bagaimana ia melakukan empat belas kali terjun bebas serta menghadapi kondisi keras yang memaksa dirinya mengandalkan metode survival yang tak biasa, termasuk meminum air bekas kuda.
Operasi yang dijalankan oleh pasukan khusus Indonesia ini tidak diungkapkan secara detail, namun diketahui melibatkan penempatan pasukan di wilayah yang rawan konflik dan lingkungan yang sangat menantang. Dalam proses persiapan, tim Kopassus harus melewati serangkaian pelatihan intensif, mulai dari teknik infiltrasi hingga kemampuan bertahan hidup di alam liar. “Kami dilatih untuk mampu beradaptasi dengan segala situasi, bahkan ketika sumber daya sangat terbatas,” ujar Rambo.
Selama misi, Rambo dan rekan-rekannya melakukan empat belas kali terjun bebas dari ketinggian lebih dari 3.000 meter. Setiap lompatan menuntut koordinasi yang presisi, pengendalian parasut yang tepat, serta kemampuan mengatasi rasa takut yang intens. “Setiap kali terjun, kami harus memastikan bahwa semua peralatan berfungsi sempurna dan rute pendaratan sudah dipetakan dengan akurat,” jelasnya. Keberhasilan terjun tersebut menjadi bukti keahlian tinggi pasukan Kopassus dalam operasi airborne.
Namun, tantangan tidak berakhir di udara. Sesampainya di lokasi operasi, tim menghadapi kondisi medan yang keras, suhu ekstrem, serta keterbatasan logistik. Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah kekurangan air bersih. Dalam situasi darurat, Rambo mengungkapkan bahwa mereka harus mengandalkan air bekas kuda yang tersedia di sekitar kamp militer. “Air bekas kuda memang tidak ideal, tetapi dalam keadaan terpaksa kami memprosesnya dengan metode sterilisasi sederhana, seperti memanaskan air hingga mendidih selama minimal lima menit,” ujarnya.
Metode tersebut memang terdengar ekstrem, namun terbukti menjadi penyeimbang antara risiko dehidrasi dan potensi kontaminasi. Rambo menambahkan bahwa setiap anggota tim dilatih untuk mengenali tanda-tanda dehidrasi serta cara mengolah air alternatif secara cepat. “Kami tidak hanya mengandalkan teknologi modern, melainkan juga kearifan lokal dan pengetahuan dasar survival yang telah diajarkan sejak pelatihan dasar Kopassus,” kata dia.
Berikut langkah-langkah yang diambil tim Rambo dalam mengolah air bekas kuda menjadi layak konsumsi:
- Pengumpulan air bekas kuda dari tempat pembuangan yang bersih.
- Penyaringan kasar menggunakan kain bersih untuk menghilangkan partikel besar.
- Penyaringan lanjutan dengan bahan filter portable (misalnya, filter keramik atau karbon aktif).
- Perebusan air selama minimal lima menit untuk membunuh bakteri dan virus.
- Pendinginan air secara alami sebelum diminum, untuk mengurangi risiko iritasi pada tenggorokan.
Selain aspek teknis, Rambo menekankan pentingnya mental yang kuat dalam menghadapi situasi ekstrem. “Kekuatan mental adalah senjata utama kami. Tanpa keberanian dan ketahanan mental, semua teknik survival akan sia-sia,” tegasnya. Ia menuturkan bahwa selama misi, timnya harus terus memantau kondisi psikologis masing-masing anggota, saling memberi dukungan, dan menjaga semangat kebersamaan.
Pengalaman ini juga menyoroti pentingnya kesiapan logistik dalam operasi militer lintas negara. Ketersediaan sumber daya dasar seperti air bersih, makanan, dan perlengkapan medis menjadi faktor krusial yang dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu misi. Menurut Rambo, setelah kembali ke Indonesia, mereka menyampaikan temuan tersebut kepada komando untuk memperbaiki prosedur logistik di masa depan.
Keberanian dan dedikasi Mardi Rambo serta tim Kopassusnya tidak hanya mencerminkan profesionalisme pasukan khusus Indonesia, tetapi juga menegaskan komitmen negara dalam menjaga kepentingan nasional di arena internasional. Pengalaman mengonsumsi air bekas kuda menjadi bukti nyata bahwa dalam situasi paling menantang sekalipun, pasukan kami tetap dapat beradaptasi dan bertahan.
Dengan empat belas kali terjun bebas yang sukses dan kemampuan survival yang luar biasa, kisah Rambo menjadi inspirasi bagi generasi muda yang bercita‑cita menjadi anggota TNI atau pasukan khusus. Ia menutup wawancara dengan pesan motivasi, “Jangan pernah menyerah pada keadaan sulit. Setiap rintangan adalah kesempatan untuk mengasah kemampuan dan membuktikan bahwa kita mampu mengatasi segala tantangan.”
Secara keseluruhan, kisah ini menegaskan bahwa ketangguhan, inovasi, serta kerja sama tim menjadi fondasi utama dalam menyelesaikan misi berbahaya di luar negeri. Pengalaman unik mengolah air bekas kuda menjadi contoh konkret bahwa kreativitas dalam bertahan hidup dapat menjadi penyelamat nyawa di medan perang yang tidak terduga.