Manufaktur Indonesia Tetap Berkembang di Tengah Gejolak Global, Ungkap Menperin

Manufaktur Indonesia Tetap Berkembang di Tengah Gejolak Global, Ungkap Menperin
Manufaktur Indonesia Tetap Berkembang di Tengah Gejolak Global, Ungkap Menperin

123Berita – 04 April 2026 | Jakarta, 4 April 2026 – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa sektor manufaktur Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif meski kondisi ekonomi dunia berada dalam fase yang penuh ketidakpastian. Pernyataan tersebut menjadi sorotan publik karena menegaskan kemampuan ekonomi nasional untuk beradaptasi dan tetap ekspansif di tengah gejolak geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta gangguan rantai pasok global.

Beberapa faktor utama yang mendukung ekspansi tersebut antara lain:

Bacaan Lainnya
  • Kebijakan Insentif Pajak: Pemerintah melanjutkan program pengurangan tarif pajak bagi perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi ramah lingkungan dan otomatisasi.
  • Peningkatan Investasi Asing: Penanaman modal asing (FDI) di sektor manufaktur mencapai US$ 2,8 miliar pada 2025, naik 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja: Program pelatihan vokasi yang didanai pemerintah berhasil menurunkan tingkat pengangguran terampil dari 7,5 persen menjadi 5,9 persen.

Agus Gumiwang menambahkan bahwa ketahanan industri tidak hanya terletak pada faktor-faktor ekonomi semata, melainkan juga pada kemampuan adaptasi teknologi. “Digitalisasi proses produksi, adopsi Internet of Things (IoT), serta penggunaan kecerdasan buatan telah mempercepat siklus produksi dan menurunkan biaya operasional,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta.

Di samping itu, Menteri Perindustrian menyoroti peran penting sektor manufaktur dalam meningkatkan neraca perdagangan. Pada 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan barang manufaktur sebesar US$ 3,5 miliar, yang membantu menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar valuta asing. Surplus ini didorong oleh peningkatan ekspor produk elektronik, mesin, serta barang konsumsi menengah ke atas.

Namun, tidak semua tantangan dapat diabaikan. Menperin mengakui adanya beberapa kendala, antara lain:

  1. Kenaikan biaya energi yang dipicu oleh fluktuasi harga minyak dunia.
  2. Keterbatasan infrastruktur logistik di beberapa wilayah kepulauan, yang masih mempengaruhi kecepatan distribusi barang.
  3. Kesenjangan digital antara perusahaan besar dan UMKM, yang dapat memperlebar jurang produktivitas.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah merencanakan serangkaian langkah strategis, antara lain:

  • Pembangunan pembangkit listrik tenaga terbarukan di wilayah Sumatera dan Kalimantan untuk menurunkan ketergantungan pada energi fosil.
  • Peningkatan jaringan transportasi laut dan darat melalui program revitalisasi pelabuhan dan pembangunan jalur kereta api barang.
  • Pengembangan ekosistem digital bagi UMKM, termasuk penyediaan platform e-commerce dan pelatihan penggunaan teknologi informasi.

Para pengamat ekonomi menilai bahwa strategi yang diusung Menperin sejalan dengan agenda “Indonesia 2030”, yang menargetkan peningkatan kontribusi manufaktur terhadap PDB menjadi 25 persen. “Jika kebijakan fiskal dan regulasi tetap konsisten, serta dukungan infrastruktur terwujud, prospek manufaktur Indonesia sangat menjanjikan,” kata Dr. Siti Nurhaliza, ekonom senior di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Kebijakan.

Secara keseluruhan, pernyataan Menperin menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya bertahan, melainkan mampu menavigasi turbulensi global dengan langkah-langkah proaktif. Keberlanjutan pertumbuhan manufaktur menjadi indikator kuat bahwa ekonomi nasional memiliki fondasi yang solid untuk menanggapi dinamika eksternal, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi regional yang kompetitif.

Dengan komitmen pemerintah yang terus mendorong inovasi, investasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, sektor manufaktur diharapkan tetap menjadi motor penggerak utama dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan nasional, dan memperkuat posisi Indonesia di kancah perdagangan dunia.

Pos terkait