123Berita – 04 Mei 2026 | Ketua Komisi Nasional (Komnas) Haji, Mustolih Siradj, menyoroti peningkatan signifikan jumlah koper calon jemaah haji 2026 yang dilaporkan rusak saat tiba di Tanah Suci Makkah. Menurut data yang dihimpun oleh Komnas Haji, kasus kerusakan koper meningkat sekitar 30 persen dibandingkan dengan periode haji tahun lalu, menimbulkan kekhawatiran akan kualitas layanan logistik selama ibadah.
Siradj menyampaikan bahwa selama tiga hari pertama kedatangan jemaah di Makkah, tim inspeksi menemukan lebih dari 1.800 koper yang mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan seperti goresan hingga kerusakan berat yang mengakibatkan barang di dalamnya tidak dapat dipertanggungjawabkan. “Koper jemaah haji merupakan aset penting yang berisi perlengkapan ibadah, pakaian, serta obat-obatan. Kerusakan ini tidak hanya merugikan secara material, tetapi juga menambah beban psikologis jemaah,” ujarnya dalam konferensi pers di kantor Komnas Haji, Jakarta.
Penelusuran awal menunjukkan bahwa sebagian besar kerusakan terjadi pada fase transportasi darat di Arab Saudi, khususnya pada proses pemindahan dari bandara ke hotel dan ke tempat ibadah. Beberapa faktor yang diidentifikasi meliputi penanganan yang tidak standar, penggunaan peralatan pengangkat yang usang, serta kurangnya pelatihan bagi tenaga kerja yang menangani koper.
- Kurangnya standarisasi prosedur: Tidak ada protokol baku yang mengatur cara penanganan koper selama transit.
- Fasilitas penyimpanan yang tidak memadai: Gudang sementara di beberapa bandara tidak dilengkapi dengan sistem pengaman yang cukup.
- Kurangnya pengawasan: Pengawasan secara real‑time terhadap kondisi koper selama proses pemindahan masih minim.
Komnas Haji menuntut agar otoritas penyelenggara haji di Arab Saudi segera mengambil langkah perbaikan. Siradj menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga, termasuk Kementerian Agama, Badan Pengelola Haji Khusus (BPHK), serta mitra logistik internasional yang terlibat dalam rantai pasok koper.
“Kami berharap ada evaluasi menyeluruh dan penerapan SOP (Standard Operating Procedure) yang tegas. Selain itu, harus ada mekanisme kompensasi bagi jemaah yang mengalami kerugian akibat kerusakan koper,” tambah Siradj.
Sementara itu, para jemaah haji 2026 yang telah mengalami kerusakan koper melaporkan dampak yang beragam. Beberapa menyatakan barang penting seperti obat diabetes, perlengkapan ibadah, dan pakaian ihram hilang atau tidak dapat digunakan. Salah satu jemaah, Abdul Rahman (41 tahun) dari Jawa Barat, mengaku harus membeli pakaian ihram baru di Makkah karena kopernya rusak parah saat tiba.
Menanggapi keluhan tersebut, perwakilan biro logistik Saudi, Fahad Al‑Mansour, menyatakan bahwa mereka sedang melakukan audit internal dan berjanji akan meningkatkan standar keamanan. “Kami berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik. Audit ini akan mencakup pelatihan ulang staf, penggantian peralatan, serta penambahan pengawasan CCTV pada area penanganan koper,” katanya.
Dalam upaya memperbaiki situasi, Komnas Haji juga mengusulkan beberapa rekomendasi kebijakan:
- Pembentukan tim khusus inspeksi koper yang beroperasi 24 jam selama periode haji.
- Penggunaan label RFID pada setiap koper untuk memantau pergerakan secara real‑time.
- Penerapan standar internasional untuk kemasan koper, termasuk penggunaan bahan pelindung yang lebih kuat.
- Penyediaan layanan asuransi koper khusus haji dengan premi yang terjangkau.
Jika rekomendasi tersebut diimplementasikan, diharapkan jumlah kasus kerusakan koper dapat ditekan secara signifikan, sehingga jemaah dapat fokus pada ibadah tanpa harus khawatir akan kehilangan barang berharga.
Komnas Haji menegaskan bahwa tugas utama mereka adalah melindungi hak dan kepentingan jemaah. Oleh karena itu, setiap temuan yang mengindikasikan kelemahan dalam penyelenggaraan haji akan terus dipantau dan dilaporkan kepada pemerintah serta otoritas terkait.
Dengan meningkatnya jumlah jemaah haji setiap tahunnya, penanganan logistik, termasuk pengelolaan koper, menjadi tantangan kritis. Diharapkan sinergi antara pemerintah Indonesia, otoritas Saudi, dan pelaku industri logistik dapat menghasilkan solusi yang berkelanjutan, memastikan pengalaman ibadah yang aman, nyaman, dan tanpa hambatan.
Kesimpulannya, sorotan Komnas Haji terhadap koper jemaah haji yang rusak menandakan perlunya reformasi mendalam dalam rantai pasok logistik haji. Implementasi rekomendasi yang disampaikan dapat menjadi langkah strategis untuk menurunkan risiko kerusakan, meningkatkan kepuasan jemaah, serta memperkuat citra penyelenggaraan haji Indonesia di mata dunia.





