123Berita – 06 April 2026 | Ketua Umum Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, pada Rabu (6) mengungkapkan duka yang mendalam atas jatuhnya tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) di wilayah Lebanon. Dalam sebuah pernyataan resmi, beliau mengajak seluruh umat Nahdlatul Ulama untuk bersama‑sama melaksanakan Salat Gaib sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa bagi para pahlawan yang mengorbankan nyawa demi kepentingan bangsa.
Insiden tersebut terjadi ketika tiga anggota TNI yang ditempatkan dalam misi perdamaian Uni Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Lebanon tewas dalam sebuah serangan yang menimpa pos keamanan mereka. Identitas prajurit tersebut belum dipublikasikan secara resmi, namun mereka dikenal sebagai bagian dari unit yang bertugas menjaga stabilitas wilayah konflik di kawasan Timur Tengah.
KH Yahya menyampaikan rasa simpati yang tulus kepada keluarga korban, rekan‑rekan prajurit, serta seluruh elemen TNI. “Kami turut berduka cita yang sedalam‑dalamnya atas kehilangan tiga prajurit terbaik kami. Mereka adalah contoh nyata pengabdian tanpa pamrih untuk negara,” ujar beliau. Selanjutnya, KH Yahya menegaskan pentingnya solidaritas umat beragama dalam momen duka, dengan mengajak seluruh anggota PBNU di seluruh Indonesia melaksanakan Salat Gaib pada hari Kamis (7) pukul 20.00 WIB.
Salat Gaib, yang merupakan salat jenazah kolektif, biasanya dilakukan ketika jenazah tidak dapat dihadirkan secara fisik. Dalam konteks ini, KH Yahya menekankan bahwa doa bersama menjadi sarana spiritual untuk menenangkan hati keluarga dan menguatkan semangat kebangsaan. “Melalui Salat Gaib, kita mengirimkan doa kepada mereka yang telah tiada, sekaligus menunjukkan kepedulian kita sebagai umat beriman kepada mereka yang berjuang di medan perang,” ujarnya.
Selain seruan doa, KH Yahya juga menekankan pentingnya dukungan moral kepada keluarga korban. Beliau mengingatkan bahwa keluarga prajurit yang kehilangan anggota keluarga harus diberikan bantuan tidak hanya secara material, tetapi juga secara psikologis. “Kita tidak boleh melupakan mereka yang tinggal di belakang, yang kini harus menanggung beban kehilangan. Komunitas Nahdlatul Ulama siap memberikan bantuan dan pendampingan,” tegasnya.
Reaksi masyarakat luas tampak positif. Banyak umat NU yang menyatakan kesediaannya mengikuti ajakan Salat Gaib, baik secara daring maupun melalui jaringan masjid dan mushola di lingkungan mereka. Beberapa tokoh agama lain juga mengapresiasi langkah KH Yahya, menyatakan bahwa doa bersama dapat memperkuat persatuan antar‑umat dalam menghadapi tragedi.
Di sisi lain, pihak militer Indonesia menyampaikan penghargaan atas dukungan spiritual yang diberikan oleh organisasi keagamaan. Komandan Pusat Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) menegaskan kembali komitmen TNI untuk melanjutkan misi di Lebanon, meski dengan penyesuaian taktis demi mengurangi risiko serangan selanjutnya. “Kami berterima kasih atas doa dan dukungan yang diberikan. Hal itu menjadi sumber kekuatan bagi prajurit kami yang masih berada di lapangan,” kata juru bicara TNI.
Pentingnya peran PBNU dalam konteks nasional tidak dapat diabaikan. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, PBNU memiliki jaringan luas yang mencakup ribuan masjid, pesantren, dan lembaga sosial. Dengan menggerakkan jutaan umat untuk berdoa, organisasi ini dapat menciptakan efek psikologis yang signifikan bagi keluarga korban serta menumbuhkan rasa kebersamaan di antara warga negara.
Berita ini juga menyoroti dinamika geopolitik di Timur Tengah, di mana kehadiran pasukan perdamaian internasional kerap berada di tengah konflik bersenjata yang kompleks. Meskipun misi UNIFIL bertujuan menjaga gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, ancaman serangan sporadis tetap tinggi. Kematian tiga prajurit TNI menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi para tentara Indonesia dalam melaksanakan tugas penjagaan perdamaian.
Dalam upaya menghormati para pahlawan yang gugur, KH Yahya menutup pernyataannya dengan harapan bahwa doa Salat Gaib dapat menjadi sumber ketenangan bagi keluarga dan memperkuat tekad bangsa untuk terus mendukung pasukan yang sedang bertugas di luar negeri. “Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi mereka di sisi-Nya, serta memberikan kesabaran dan keikhlasan kepada yang ditinggalkan,” tutupnya.
Dengan mengajak umat untuk melaksanakan Salat Gaib, PBNU tidak hanya menegaskan peran religiusnya, tetapi juga mengukuhkan posisi organisasi sebagai pilar moral dalam mengatasi krisis kemanusiaan. Kesatuan doa ini diharapkan dapat menjadi lentera harapan di tengah duka, sekaligus memperkokoh rasa kebangsaan yang menghubungkan setiap elemen masyarakat Indonesia, baik di dalam negeri maupun di medan perang internasional.