123Berita – 04 April 2026 | Kenaikan harga pangan global yang signifikan pada Maret 2026 menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen, produsen, dan pembuat kebijakan. Lonjakan tersebut dipicu oleh tekanan berkelanjutan pada pasar energi, yang mengakibatkan biaya produksi dan transportasi komoditas makanan melonjak tajam. Salah satu contoh paling menonjol adalah harga minyak sawit, yang pada pekan ini mencapai level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Krisis energi yang berlarut‑larut sejak akhir 2022 menjadi penggerak utama tekanan inflasi pangan. Harga minyak mentah global berada di atas US$110 per barel, memaksa produsen makanan meningkatkan biaya bahan bakar dan listrik dalam proses pengolahan. Di samping itu, kebijakan pengekangan ekspor energi oleh beberapa negara penghasil menyebabkan kelangkaan bahan bakar di wilayah Asia‑Pasifik, memperparah beban biaya logistik.
Berbagai komoditas mengalami lonjakan harga yang signifikan, antara lain:
- Susu: naik lebih dari 15 persen karena biaya transportasi dan pakan ternak yang lebih tinggi.
- Gula: tercatat kenaikan 13 persen setelah pemasok utama di Brasil menghadapi curah hujan tidak menentu.
- Beras: harga beras meningkat 9 persen akibat penurunan produksi di beberapa negara Asia.
- Minyak kelapa sawit: mencapai level tertinggi sejak 2015, dengan kenaikan harga hampir 20 persen dalam enam bulan terakhir.
Harga minyak sawit, yang menjadi bahan baku penting bagi industri makanan olahan dan biofuel, kini berada pada kisaran US$1.200 per ton, menembus rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Peningkatan ini memberi tekanan besar pada petani Indonesia, negara penghasil sawit terbesar di dunia, yang harus menanggung biaya produksi yang melonjak akibat harga pupuk dan diesel yang lebih tinggi. Sementara itu, pembeli utama di India, Tiongkok, dan Uni Eropa menyiapkan anggaran tambahan untuk mengakomodasi biaya impor yang lebih mahal.
Pemerintah Indonesia merespons dengan memperkuat kebijakan subsidi energi bagi sektor pertanian dan menyiapkan paket bantuan bagi petani kecil. Selain itu, Kementerian Perdagangan tengah merundingkan kembali kontrak ekspor sawit dengan mitra utama untuk menstabilkan fluktuasi harga. Pada tingkat internasional, FAO bersama dengan Organisasi Negara‑Negara Pengekspor Minyak Sawit (RSPO) berupaya menggalakkan penggunaan teknologi ramah energi serta diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber energi.
Secara keseluruhan, kombinasi krisis energi, gangguan iklim, dan dinamika pasar global menciptakan tantangan berat bagi stabilitas harga pangan. Jika tekanan energi tidak terkendali, kenaikan harga pangan dapat berlanjut, mengancam daya beli konsumen terutama di negara‑negara berkembang. Upaya koordinasi kebijakan energi, agrikultur, dan perdagangan menjadi kunci untuk menurunkan volatilitas dan memastikan pasokan makanan yang terjangkau bagi seluruh dunia.