123Berita – 04 April 2026 | Petani di India kini berada dalam kondisi panik setelah menghadapi kekurangan pupuk yang dipicu oleh konflik yang berlangsung di Iran. Kekhawatiran ini menambah beban pada sektor pertanian negara dengan populasi terbesar kedua di dunia, yang sudah berjuang melawan kenaikan biaya produksi dan ketidakpastian pasar.
Seorang petani dari negara bagian Punjab, yang menolak disebutkan namanya demi keamanan, mengaku bahwa biaya pupuk kini hampir setara dengan harga jual hasil panen. “Jika saya menanam padi dengan pupuk yang mahal, margin keuntungan saya akan menghilang. Saya bahkan berpikir untuk tidak menanam sama sekali,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan media internasional. Pernyataan ini mencerminkan keresahan luas di kalangan petani, khususnya di wilayah agraris utama India seperti Punjab, Haryana, dan Uttar Pradesh.
Kenaikan biaya pupuk tidak hanya berdampak pada keputusan penanaman, tetapi juga berpotensi menurunkan produktivitas tanaman. Tanpa pemupukan yang memadai, hasil panen dapat berkurang antara 10 hingga 20 persen, tergantung pada jenis tanaman dan kondisi tanah. Penurunan produksi ini berpotensi memperburuk ketahanan pangan nasional, mengingat India mengandalkan produksi domestik untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi lebih dari 1,3 miliar penduduk.
Selain kelangkaan pupuk, petani juga menghadapi kenaikan biaya energi. Kenaikan harga bahan bakar, yang dilaporkan oleh majalah pertanian lokal, menambah beban operasional pada traktor dan mesin pertanian lainnya. Kombinasi antara biaya pupuk yang melambung dan biaya energi yang tinggi menimbulkan tekanan keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di sektor pertanian India.
Pemerintah India telah mengumumkan serangkaian langkah untuk menstabilkan pasar pupuk, termasuk subsidi tambahan dan pembatasan ekspor bahan baku kimia. Namun, para ahli menilai bahwa upaya ini belum cukup untuk mengatasi gangguan jangka pendek yang diakibatkan oleh konflik geopolitik di Timur Tengah. “Krisis ini menunjukkan betapa tergantungnya rantai pasokan pertanian global pada satu wilayah,” kata Dr. Ananya Singh, pakar kebijakan pertanian di Universitas Delhi. “Jika tidak ada diversifikasi sumber bahan baku, gangguan seperti ini akan terus mengancam stabilitas pangan dunia.
Ketegangan di pasar internasional juga menimbulkan kenaikan harga makanan pokok, seperti beras dan gandum. Analisis dari sebuah lembaga keuangan global mengindikasikan bahwa harga beras dunia telah naik lebih dari 15 persen dalam enam bulan terakhir, sebagian besar disebabkan oleh gangguan pasokan pupuk dan energi. Kenaikan ini dirasakan oleh konsumen di India, di mana inflasi makanan telah mendekati level tertinggi dalam dekade terakhir.
Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, pemerintah India sejak beberapa tahun terakhir mendorong produksi pupuk domestik melalui program “Make in India”. Meskipun demikian, kapasitas produksi dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan nasional, yang mencapai lebih dari 70 juta ton per tahun. Upaya meningkatkan kapasitas pabrik pupuk domestik memerlukan investasi besar dan waktu, sehingga tidak dapat segera mengatasi kekurangan yang terjadi saat ini.
Para petani, yang sebagian besar mengandalkan pinjaman bank untuk biaya produksi, kini menghadapi risiko gagal bayar yang meningkat. Bank-bank pertanian melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah permohonan restrukturisasi kredit. Jika kegagalan panen terjadi, dampaknya tidak hanya pada sektor pertanian, tetapi juga pada stabilitas keuangan rural dan kesejahteraan keluarga petani.
Dalam rangka mengurangi dampak sosial, sejumlah organisasi non-pemerintah meluncurkan program bantuan darurat, termasuk distribusi pupuk bersubsidi dan pelatihan penggunaan teknik pertanian berkelanjutan yang mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Namun, skala bantuan masih terbatas dibandingkan dengan jumlah petani yang membutuhkan.
Secara keseluruhan, kombinasi antara konflik geopolitik, kenaikan biaya energi, dan ketergantungan pada impor bahan baku kimia menimbulkan ancaman serius bagi ketahanan pangan India. Jika tidak ditangani secara cepat dan terkoordinasi, situasi ini dapat berujung pada krisis pangan yang meluas, menambah beban pada pemerintah dan masyarakat luas.
Kesimpulannya, kelangkaan pupuk akibat perang Iran menambah tekanan pada petani India yang sudah berada dalam kondisi rentan. Pemerintah, sektor swasta, dan lembaga internasional perlu berkolaborasi untuk mempercepat diversifikasi sumber bahan baku, meningkatkan produksi pupuk domestik, serta memberikan dukungan finansial dan teknis kepada petani. Hanya dengan langkah-langkah komprehensif ini India dapat menghindari skenario terburuk berupa krisis pangan yang meluas.



