Keir Starmer Ungkap Hubungan dengan Donald Trump Mungkin Tak Bisa Dipulihkan

Keir Starmer Ungkap Hubungan dengan Donald Trump Mungkin Tak Bisa Dipulihkan
Keir Starmer Ungkap Hubungan dengan Donald Trump Mungkin Tak Bisa Dipulihkan

123Berita – 04 April 2026 | Ketua Partai Buruh Inggris, Keir Starmer, dalam sebuah wawancara eksklusif mengungkapkan bahwa hubungan antara Inggris dan pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sudah berada di titik yang sangat sulit untuk diperbaiki. Menurut Starmer, serangkaian tindakan dan komentar provokatif yang dilontarkan oleh Trump selama masa jabatannya telah menimbulkan ketegangan diplomatik yang melampaui sekadar perbedaan kebijakan, hingga menyentuh aspek kepercayaan dan rasa hormat antar pemimpin negara.

Starmer menegaskan bahwa hubungan bilateral yang dulu relatif stabil kini berubah menjadi “rusak dan tidak dapat diperbaiki” setelah serangkaian insiden yang melibatkan kritik publik Trump terhadap Inggris, terutama terkait kebijakan pertahanan, isu-isu perdagangan, dan pernyataan pribadi yang menyinggung tokoh politik Britania. “Saya merasa bahwa upaya diplomatik yang biasa kami lakukan kini harus berhadapan dengan retorika yang menghalangi dialog konstruktif,” ujar Starmer di depan media internasional.

Bacaan Lainnya

Berbagai contoh nyata dari ketegangan ini muncul sejak awal masa kepresidenan Trump. Salah satunya, komentar Trump yang menyebut kapal induk Inggris sebagai “tua dan rusak” memicu kemarahan di kalangan militer dan politisi Britania. Kritik tersebut tidak hanya menyentuh kebanggaan militer, tetapi juga menyoroti masalah modernisasi angkatan laut Inggris yang selama ini menjadi bahan perdebatan domestik. Starmer menambahkan, “Serangan pribadi semacam itu memperlemah posisi kami dalam negosiasi pertahanan bersama, karena kepercayaan merupakan fondasi utama dalam kerjasama militer.”

  • Trump menyebut kapal induk Inggris sebagai “old, broken”.
  • Starmer menilai komentar tersebut memperburuk kepercayaan bilateral.
  • Isu modernisasi angkatan laut Inggris menjadi sorotan publik.

Selain masalah pertahanan, hubungan ekonomi juga mengalami tekanan. Trump secara terbuka menentang kesepakatan perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa (BREXIT) serta menolak melakukan kesepakatan dagang bilateral yang menguntungkan kedua negara. Ketegangan ini memperparah kekhawatiran sektor bisnis di kedua negara, terutama dalam bidang energi dan manufaktur. Starmer menilai bahwa tanpa adanya kemauan politik yang kuat di kedua belah pihak, peluang untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan menjadi semakin tipis.

Dalam konteks politik domestik, pernyataan Starstar mengenai hubungan yang “beyond repair” ini juga memiliki implikasi internal. Partai Buruh sedang berusaha menggalang dukungan menjelang pemilihan umum berikutnya, dan kritik terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat menjadi salah satu poin yang dapat meningkatkan popularitas partai di mata pemilih yang mengutamakan kedaulatan nasional. Namun, Starmer juga mengingatkan bahwa terlepas dari perbedaan dengan Trump, Inggris tetap membutuhkan hubungan kerja sama dengan Amerika Serikat dalam isu-isu global seperti keamanan siber, perubahan iklim, dan penanggulangan terorisme.

Para analis politik menilai bahwa pernyataan Starmer mencerminkan perubahan strategi diplomatik Inggris. Alih-alih mencoba menyesuaikan diri dengan retorika Trump, pemerintah Inggris tampaknya memilih untuk menegaskan posisi mereka secara tegas, sekaligus mencari alternatif kemitraan dengan sekutu lain, seperti Uni Eropa, Kanada, dan Jepang. “Kita tidak bisa mengorbankan kepentingan nasional demi mempertahankan hubungan yang sudah rusak,” kata seorang pakar hubungan internasional yang meminta agar namanya tidak disebutkan.

Kesimpulannya, pernyataan Keir Starmer menandai titik balik penting dalam hubungan Inggris-Amerika di era Trump. Ketegangan yang muncul bukan sekadar perbedaan kebijakan, melainkan mencerminkan krisis kepercayaan yang memerlukan upaya diplomatik jangka panjang untuk pulih. Dengan hubungan yang dinyatakan “beyond repair”, Inggris diprediksi akan memperkuat aliansi multilateralnya dan mengurangi ketergantungan pada satu negara sahabat yang kini tampak tidak dapat dijamin kestabilannya.

Pos terkait