Kedelai Mahal di Jakarta, DKI Dorong Urban Farming sebagai Solusi Harga Pangan Naik

Kedelai Mahal di Jakarta, DKI Dorong Urban Farming sebagai Solusi Harga Pangan Naik
Kedelai Mahal di Jakarta, DKI Dorong Urban Farming sebagai Solusi Harga Pangan Naik

123Berita – 08 April 2026 | Harga kedelai di Jakarta mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa minggu terakhir, memengaruhi biaya produksi tahu dan tempe serta harga jual di pasar tradisional. Kenaikan ini dirasakan langsung oleh para pengrajin, pedagang pasar, serta konsumen yang mengandalkan protein nabati sebagai bagian penting dalam pola makan sehari-hari.

Data pasar menunjukkan bahwa harga kedelai mentah naik sekitar 15-20 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Dampaknya terasa pada harga jual tahu yang naik rata-rata Rp1.500 per potong dan tempe yang naik Rp1.200 per pak. Pedagang pasar melaporkan penurunan volume penjualan karena konsumen menunda pembelian atau beralih ke alternatif lain yang lebih terjangkau.

Bacaan Lainnya

Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan program percepatan urban farming sebagai upaya jangka panjang untuk menurunkan ketergantungan pada pasokan kedelai eksternal. Gubernur DKI, Anies Baswedan, menekankan pentingnya memanfaatkan lahan terbatas di kota untuk menumbuhkan tanaman pangan, termasuk kedelai, secara mandiri.

“Urban farming bukan sekadar tren, melainkan strategi ketahanan pangan yang harus diimplementasikan secara sistematis,” kata Anies dalam konferensi pers pada hari Senin. “Kami akan memberikan insentif bagi petani kota, menyediakan lahan mikro, serta memfasilitasi pelatihan teknik pertanian modern yang ramah lingkungan,” tambahnya.

Program tersebut mencakup beberapa inisiatif utama:

  • Lahan mikro dan rooftop farming: Pemerintah akan mengidentifikasi lahan kosong, atap gedung, serta area publik yang dapat diubah menjadi kebun kota. Setiap lahan mikro akan dilengkapi dengan sistem irigasi sederhana dan pupuk organik.
  • Pelatihan dan pendampingan: Dinas Pertanian DKI Jakarta bekerja sama dengan universitas dan LSM pertanian untuk menyelenggarakan workshop tentang teknik penanaman kedelai, pemupukan, serta pengendalian hama secara biologis.
  • Insentif finansial: Petani kota yang berhasil menanam kedelai secara berkelanjutan akan menerima subsidi bibit, serta akses kredit mikro dengan bunga rendah.
  • Penguatan rantai distribusi lokal: Hasil panen dari urban farming akan dipasarkan langsung ke pasar tradisional, koperasi, maupun melalui platform digital yang dikelola pemerintah, sehingga mengurangi perantara dan menurunkan harga akhir bagi konsumen.

Para ahli ekonomi pangan menilai langkah ini dapat memberikan dampak positif tidak hanya pada stabilitas harga kedelai, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja di sektor pertanian perkotaan. “Jika dikelola dengan baik, urban farming dapat menambah pasokan kedelai lokal hingga 10-15 persen dari total konsumsi Jakarta,” ujar Dr. Siti Nurhaliza, dosen Fakultas Pertanian Universitas Indonesia.

Namun, tantangan tetap ada. Ketersediaan lahan di kawasan padat penduduk masih terbatas, dan kebutuhan investasi awal untuk infrastruktur pertanian perkotaan masih cukup tinggi. Selain itu, pengetahuan teknis mengenai budidaya kedelai di lingkungan urban masih minim, sehingga program pelatihan harus bersifat intensif dan berkelanjutan.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, Pemerintah Provinsi DKI berencana menggandeng sektor swasta, khususnya perusahaan agritech, yang dapat menyediakan teknologi pertanian berbasis IoT (Internet of Things) untuk memantau kelembaban tanah, suhu, dan nutrisi secara real time. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi dan menurunkan risiko kegagalan panen.

Pengguna akhir, yaitu konsumen, diharapkan dapat merasakan manfaat dalam jangka menengah. Dengan pasokan kedelai yang lebih stabil dan terjangkau, harga tahu dan tempe di pasar tradisional diproyeksikan dapat turun kembali ke level sebelum kenaikan harga mentah. Hal ini tidak hanya membantu keluarga berpenghasilan menengah ke bawah, tetapi juga mendukung program gizi nasional yang menekankan konsumsi protein nabati.

Secara keseluruhan, upaya DKI Jakarta untuk mempromosikan urban farming sebagai solusi atas kenaikan harga kedelai mencerminkan strategi adaptasi kota terhadap tekanan pangan global. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat umum.

Jika implementasi berjalan lancar, Jakarta dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mengintegrasikan pertanian perkotaan ke dalam kebijakan ketahanan pangan, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Pos terkait