123Berita – 09 April 2026 | Indonesia kini menghadapi peningkatan signifikan kasus campak yang menyebar sejak awal tahun 2024. Lonjakan ini menimbulkan keprihatinan mendalam bagi para pembuat kebijakan, tenaga medis, serta masyarakat luas. Menurut Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI, penyebaran penyakit ini harus dijadikan momentum untuk meningkatkan kesadaran kolektif dalam menerapkan pola hidup sehat, dimulai dari lingkungan keluarga, sebagai bagian penting dari sistem kesehatan nasional yang kuat.
Pada Rabu, 8 April 2024, forum daring yang bertajuk “Bahaya Penyakit Campak di Indonesia dan Upaya Penanggulangannya” digelar di Denpasar. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Eva Kusuma Sundari, Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI, dan menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka. Di antaranya Felly Estelita Runtuwene, Ketua Komisi IX DPR RI, Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur WHO SEARO (2018-2020) sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, serta Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Para pembicara menekankan bahwa peningkatan kasus campak bukan sekadar masalah epidemiologis, melainkan cerminan lemahnya imunisasi rutin dan kurangnya edukasi kesehatan di kalangan masyarakat. Siti Nadia Tarmizi mengingatkan bahwa Indonesia masih belum mencapai tingkat kekebalan kelompok (herd immunity) yang memadai untuk menahan penyebaran virus campak. Tanpa tercapainya ambang batas tersebut, virus dapat dengan mudah berpindah antar individu, terutama anak-anak usia balita yang belum mendapat vaksin lengkap.
Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama menambahkan bahwa faktor geografis dan disparitas akses layanan kesehatan memperparah situasi. Daerah-daerah terpencil sering kali mengalami keterbatasan pasokan vaksin, serta kurangnya tenaga medis yang terlatih untuk melakukan kampanye imunisasi. Ia mengusulkan pendekatan terintegrasi yang melibatkan pemerintah daerah, lembaga non‑pemerintah, dan komunitas lokal untuk memastikan distribusi vaksin yang merata.
Dr. Piprim Basarah Yanuarso menyoroti peran penting orang tua dalam melindungi anak dari risiko campak. Ia menyarankan agar orang tua memeriksa kartu imunisasi secara berkala, serta memastikan bahwa anak menerima dua dosis vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) sesuai jadwal. Selain itu, ia menekankan pentingnya deteksi dini gejala campak, seperti demam tinggi, ruam kulit, dan batuk, sehingga penanganan medis dapat dilakukan secepat mungkin.
Felly Estelita Runtuwene menekankan perlunya kebijakan yang lebih tegas terkait wajib vaksinasi bagi anak usia sekolah. Ia mengusulkan regulasi yang mengaitkan kehadiran anak di sekolah dengan bukti imunisasi lengkap, serupa dengan kebijakan yang telah diterapkan di beberapa negara maju. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan tingkat kepatuhan orang tua terhadap program imunisasi nasional.
Selain upaya vaksinasi, para pakar sepakat bahwa edukasi mengenai pola hidup sehat harus menjadi bagian integral dari strategi penanggulangan. Lestari Moerdijat menekankan bahwa kesadaran kolektif akan pentingnya kebersihan pribadi, ventilasi ruangan yang baik, serta pola makan bergizi dapat menurunkan kerentanan individu terhadap infeksi menular. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, mulai dari rumah tangga hingga institusi publik.
Menanggapi situasi ini, Kementerian Kesehatan RI telah mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan perlunya percepatan program imunisasi kampanye, terutama di provinsi dengan tingkat kasus tertinggi. Pemerintah juga berkomitmen meningkatkan kapasitas laboratorium untuk diagnosis cepat serta memperluas jaringan posyandu yang mampu memberikan layanan vaksinasi gratis.
Secara keseluruhan, peningkatan kasus campak di Indonesia menjadi sinyal peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi lintas sektoral, penegakan kebijakan imunisasi yang lebih ketat, serta peningkatan literasi kesehatan masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan penyebaran penyakit ini. Dengan langkah konkret dan komitmen bersama, diharapkan Indonesia dapat kembali menggapai kekebalan kelompok yang cukup, melindungi generasi mendatang dari ancaman campak, dan memperkuat sistem kesehatan nasional.