123Berita – 05 April 2026 | Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, menyampaikan pesan kuat mengenai peran Gereja Katolik dalam upaya perdamaian dunia. Dalam sebuah pernyataan yang diungkapkan pada Jumat, 5 April 2026, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa doa dan sikap kepemimpinan yang menoleransi konflik tidak akan pernah menggenapi harapan umat manusia. Pernyataan tersebut dihubungkan secara langsung dengan ajaran dan aspirasi Paus Leo XIV, pemimpin tertinggi Umat Katolik yang terus menekankan pentingnya dialog, keadilan, dan perdamaian.
Pesan Kardinal Suharyo menggemakan semangat Paus Leo XIV yang sejak awal kepemimpinannya menempatkan perdamaian sebagai pilar utama misi Gereja. Paus Leo XIV, yang mengabdikan dirinya untuk menguatkan persatuan umat Katolik di seluruh dunia, menekankan bahwa kepemimpinan rohaniah harus selalu menolak kompromi dengan kekerasan. “Kita tidak dapat mengucapkan doa bagi pemimpin yang menutup mata terhadap penderitaan rakyat, karena doa itu akan kehilangan kekuatan intervensi ilahi,” kata Paus dalam salah satu encikliknya yang baru dirilis.
Kardinal Suharyo menyoroti bahwa Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim namun juga memiliki komunitas Katolik yang signifikan, memiliki peran strategis dalam mempromosikan nilai-nilai damai. “Indonesia telah menjadi contoh toleransi beragama, namun tantangan baru muncul ketika konflik berskala internasional mengancam stabilitas regional,” ungkapnya. Ia menekankan perlunya dialog lintas agama dan kerja sama antara lembaga keagamaan untuk menanggapi ancaman perang, terutama di wilayah Asia Tenggara yang rentan terhadap ketegangan geopolitik.
Dalam konteks global, Kardinal Suharyo menilai bahwa Gereja Katolik harus memanfaatkan jaringan internasionalnya untuk mengadvokasi resolusi damai melalui lembaga-lembaga multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa. “Kita dapat menyuarakan keprihatinan moral melalui diplomasi agama, mengingat Gereja memiliki jaringan luas di lebih dari 190 negara,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa tindakan konkret, seperti penyediaan bantuan kemanusiaan, mediasi antara pihak berseteru, dan kampanye edukasi perdamaian, menjadi wujud nyata dari panggilan doa yang tidak hanya bersifat simbolik.
- Menolak Legitimasi Perang: Gereja harus menolak setiap upaya pembenaran moral terhadap konflik bersenjata.
- Dialog Interfaith: Memperkuat kerja sama lintas agama untuk mengatasi akar penyebab konflik.
- Peran Diplomasi Agama: Menggunakan jaringan Gereja Katolik untuk mempengaruhi kebijakan internasional.
- Bantuan Kemanusiaan: Menyediakan bantuan langsung kepada korban perang sebagai bentuk nyata solidaritas.
Selain menekankan dimensi spiritual, Kardinal Suharyo juga menyinggung peran pendidikan dalam menumbuhkan budaya damai. Ia mengajak institusi pendidikan Katolik di Indonesia untuk memasukkan kurikulum tentang resolusi konflik, hak asasi manusia, dan etika kepemimpinan. “Generasi muda harus dibekali dengan pemahaman yang kritis tentang bahaya perang dan nilai-nilai perdamaian,” tegasnya. Pendekatan ini, menurutnya, akan memperkuat fondasi moral masyarakat yang dapat menolak kepemimpinan yang memaklumi konflik.
Paus Leo XIV, dalam serangkaian pertemuan dengan para pemimpin agama, menegaskan bahwa doa tidak boleh menjadi sekadar ritual kosong. Ia menekankan pentingnya aksi konkret yang selaras dengan nilai-nilai Kristus, seperti kasih, keadilan, dan perdamaian. “Doa yang bersatu dengan tindakan akan menjadi kekuatan yang mampu mengubah realitas kerasnya dunia,” tulis Paus dalam surat pastoralnya yang ditujukan kepada para uskup di seluruh dunia.
Kardinal Suharyo menutup pernyataannya dengan panggilan kepada seluruh umat Katolik di Indonesia untuk menjadi agen perdamaian. Ia mengingatkan bahwa setiap doa yang diiringi dengan komitmen nyata dapat menjadi suara yang menembus keheningan konflik, menginspirasi perubahan, dan meneguhkan harapan akan dunia yang lebih damai. “Marilah kita, bersama Paus Leo XIV, menolak doa yang tidak didukung tindakan, dan mengukir sejarah baru di mana perdamaian menjadi realitas yang dapat dirasakan oleh setiap manusia,” tutupnya.
Dengan menegaskan kembali komitmen Gereja Katolik Indonesia terhadap perdamaian, Kardinal Suharyo mengirimkan pesan kuat bahwa kepemimpinan rohaniah tidak dapat berdiri diam di hadapan perang. Sebagai cermin ajaran Paus Leo XIV, Gereja diharapkan terus menjadi suara moral yang menolak segala bentuk legitimasi konflik, sekaligus menjadi pelopor solusi damai yang berlandaskan kasih dan keadilan.