Jalur KRL Baru Akan Melintasi Kota Tua dan Menyambungkan ke JIS, Ungkap Pramono

123Berita – 10 April 2026 | Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), Pramono, mengungkapkan rencana ambisius pengembangan jaringan KRL (Kereta Rel Listrik) yang akan menembus kawasan bersejarah Kota Tua dan berakhir di JIS (Jakarta International Stadium). Pengumuman ini menandai langkah strategis untuk meningkatkan mobilitas warga serta memperkuat integrasi transportasi publik di ibu kota.

Rencana teknis menyebutkan bahwa jalur KRL baru akan memanfaatkan koridor yang telah ada sebagian, namun dengan penambahan rel baru yang menghubungkan stasiun terdekat di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa hingga stasiun JIS di kawasan Tanjung Priok. Estimasi panjang jalur mencapai sekitar 12 kilometer, dengan total delapan stasiun baru yang dirancang modern namun tetap selaras dengan estetika lingkungan sekitar.

Bacaan Lainnya

Berikut beberapa poin utama yang diuraikan oleh Pramono:

  • Integrasi Multimoda: Jalur baru akan terhubung dengan jaringan bus TransJakarta, LRT, dan MRT, memungkinkan perpindahan penumpang yang mulus tanpa harus menunggu lama.
  • Pengurangan Kemacetan: Dengan memberikan alternatif transportasi yang cepat dan tepat waktu, diharapkan beban lalu lintas di Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, dan Jalan Jenderal Sudirman dapat berkurang signifikan.
  • Peningkatan Pariwisata: Akses langsung ke Kota Tua akan mempermudah wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menjelajahi situs-situs bersejarah tanpa harus mengandalkan kendaraan pribadi.
  • Stimulus Ekonomi Lokal: Pembangunan stasiun dan fasilitas pendukung di sekitar Kota Tua diproyeksikan menciptakan ribuan lapangan kerja, baik selama fase konstruksi maupun operasional.

Pramono menegaskan bahwa proyek ini telah masuk tahap perencanaan detail dan akan segera melewati proses evaluasi lingkungan serta konsultasi publik. “Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap langkah pembangunan tidak mengganggu kelestarian warisan budaya Kota Tua. Sebaliknya, kami ingin menjadikan jaringan KRL sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan Jakarta,” tegasnya.

Dalam rapat koordinasi yang dihadiri perwakilan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), dan pihak swasta terkait, disepakati bahwa pendanaan proyek akan menggabungkan dana pemerintah pusat, anggaran daerah, serta investasi swasta melalui skema Public-Private Partnership (PPP). Model pembiayaan ini diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek tanpa menambah beban fiskal yang signifikan.

Selain itu, Pramono menyoroti pentingnya penerapan teknologi terkini dalam operasional KRL baru. Sistem sinyal berbasis komunikasi digital (CBTC) akan diimplementasikan untuk meningkatkan keamanan serta kapasitas jalur. Stasiun-stasiun baru juga akan dilengkapi dengan fasilitas ramah difabel, ruang komersial, serta area hijau yang mendukung konsep kota berkelanjutan.

Para pakar transportasi menyambut baik rencana ini, dengan catatan bahwa keberhasilan implementasi sangat bergantung pada koordinasi lintas sektoral serta kejelasan regulasi lahan. Dr. Ir. Budi Santoso, pakar transportasi dari Universitas Indonesia, menilai bahwa jalur KRL yang menembus Kota Tua dapat menjadi katalisator perubahan pola perjalanan masyarakat, terutama bagi pekerja yang tinggal di wilayah pinggiran dan membutuhkan akses cepat ke pusat ekonomi kota.

Namun, tantangan tidak dapat diabaikan. Salah satunya adalah potensi gangguan pada struktur bangunan bersejarah selama proses konstruksi. Untuk itu, tim teknis telah menyiapkan rencana mitigasi, termasuk penggunaan metode pengerjaan non-invasif dan monitoring ketat terhadap getaran serta perubahan struktural.

Jika semua fase berjalan sesuai rencana, jalur KRL baru diproyeksikan dapat beroperasi pada akhir 2028. Peluncuran resmi akan disertai dengan serangkaian acara publik, termasuk tur terbuka stasiun pertama dan demonstrasi kapasitas kereta terbaru.

Dengan menghubungkan dua titik penting — kawasan warisan Kota Tua dan fasilitas olahraga internasional JIS — proyek ini diharapkan tidak hanya memperkuat jaringan transportasi publik, tetapi juga menumbuhkan rasa kebanggaan akan identitas kota yang dinamis. Keberhasilan jalur KRL baru dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mengintegrasikan pembangunan infrastruktur modern dengan pelestarian nilai budaya.

Secara keseluruhan, rencana jalur KRL baru yang akan melewati Kota Tua hingga menembus JIS menandai komitmen pemerintah dan pihak terkait untuk menghadirkan solusi mobilitas yang berkelanjutan, inklusif, dan selaras dengan perkembangan urbanisasi. Dengan dukungan semua pemangku kepentingan, proyek ini memiliki potensi besar untuk menjadi tonggak sejarah baru dalam transformasi transportasi Jakarta.

Pos terkait