Jakarta Selatan Percepat Pembangunan Sumur Resapan untuk Atasi Banjir Musim Hujan

Jakarta Selatan Percepat Pembangunan Sumur Resapan untuk Atasi Banjir Musim Hujan
Jakarta Selatan Percepat Pembangunan Sumur Resapan untuk Atasi Banjir Musim Hujan

123Berita – 05 April 2026 | Pemerintah Kota Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel) kembali menegaskan komitmennya dalam mengurangi risiko banjir dengan meluncurkan serangkaian proyek pembangunan sumur resapan di wilayah rawan genangan. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi mitigasi jangka pendek yang dirancang untuk menanggulangi peningkatan volume air hujan selama musim penghujan, terutama di zona sekitar Kali Pesanggrahan yang selama ini kerap mengalami limpahan air.

Mayorita daerah yang terdampak banjir di Jakarta Selatan terletak pada wilayah pinggiran sungai dan kanal, di mana kapasitas penyerapan tanah telah berkurang akibat urbanisasi intensif dan penurunan area hijau. Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) telah menyusun peta prioritas pembangunan sumur resapan, yang meliputi lebih dari dua puluh titik strategis mulai dari kawasan Cipete, Cilandak, hingga Pondok Labu.

Bacaan Lainnya
  • Lokasi utama: sekitar Kali Pesanggrahan, Jalan Cipete Raya, dan Jalan Cilandak.
  • Target kapasitas penyerapan: 500 – 1.200 meter kubik per sumur, tergantung pada kondisi topografi.
  • Anggaran: Rp 45 miliar dialokasikan untuk fase pertama, mencakup desain, pengadaan material, dan pelaksanaan.
  • Jadwal: Pekerjaan diharapkan selesai dalam enam bulan, dengan target operasional pada awal musim hujan tahun 2027.

Anggaran yang dialokasikan untuk proyek ini merupakan bagian dari program “Jakarta Tangguh Banjir” yang dikelola secara terintegrasi antara Pemkot, Dinas Lingkungan Hidup, serta stakeholder swasta. Dana tersebut diperoleh melalui APBD serta kontribusi dana CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Jakarta Selatan.

Mayor Jakarta Selatan, Prasetyo Edi, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. “Kami mengajak warga untuk berpartisipasi aktif, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan hingga tidak menutup saluran resapan dengan sampah. Tanpa dukungan masyarakat, infrastruktur yang kami bangun tidak akan optimal,” ujarnya dalam konferensi pers yang diadakan di Balai Kota Jakarta Selatan.

Selain sumur resapan, Pemkot juga melakukan perbaikan pada jaringan drainase, penambahan kanal tambahan, serta penanaman vegetasi di daerah aliran sungai (DAS). Kombinasi antara solusi struktural dan non-struktural ini diharapkan dapat menurunkan tingkat genangan air hingga 30 persen pada musim hujan berikutnya.

Para pakar lingkungan menilai inisiatif sumur resapan sebagai langkah tepat dalam mengembalikan fungsi ekosistem alami. Dr. Maya Sari, dosen Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa sumur resapan dapat meningkatkan infiltrasi air tanah, mengurangi beban pada sistem drainase, serta membantu mengisi kembali cadangan air tanah yang telah menipis akibat over-extraction.

Namun, tantangan tetap ada. Salah satu kendala utama adalah kepadatan penduduk yang menyebabkan lahan terbatas untuk pembangunan sumur resapan. Oleh karena itu, Pemkot mengoptimalkan penggunaan lahan vertikal, seperti sumur resapan yang ditempatkan di bawah taman kota, area parkir, dan bahkan di ruang publik yang dapat berfungsi ganda sebagai area rekreasi.

Data awal dari BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan bahwa curah hujan tahunan di Jakarta Selatan meningkat rata-rata 12% dalam satu dekade terakhir, menandakan urgensi peningkatan kapasitas penyerapan air. Dengan demikian, proyek sumur resapan bukan sekadar respons temporer, melainkan bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim jangka panjang.

Selama fase konstruksi, Dinas PUPR mengimplementasikan prosedur pengawasan ketat untuk menjamin kualitas material dan standar teknis. Setiap sumur resapan dilengkapi dengan sistem pemantauan sensor kelembaban tanah yang terhubung ke pusat data kota, memungkinkan pihak berwenang melakukan evaluasi performa secara real-time.

Secara keseluruhan, upaya pembangunan sumur resapan di Jakarta Selatan diharapkan menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan mengintegrasikan teknologi, partisipasi publik, dan kebijakan fiskal yang mendukung, Pemkot berambisi menjadikan wilayahnya lebih tahan banjir, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan hidup bagi warganya.

Jika proyek berjalan sesuai rencana, warga Jakarta Selatan dapat merasakan penurunan signifikan pada frekuensi dan intensitas banjir, terutama di kawasan pesisir sungai. Keberhasilan inisiatif ini akan menambah portofolio kebijakan inovatif dalam rangka mewujudkan kota yang lebih hijau, berkelanjutan, dan aman dari ancaman banjir.

Pos terkait