123Berita – 04 April 2026 | Pasangan ganda campuran Indonesia, Jafar Hidayatullah dan Felisha Pasaribu, menatap Kejuaraan Asia 2026 dengan harapan besar namun tetap mengedepankan realisme. Kedua atlet ini mengakui tantangan kompetisi semakin ketat, namun mereka yakin pengalaman dan persiapan matang dapat menjadi kunci untuk mempertahankan posisi medali yang diraih pada edisi sebelumnya.
Sejak berhasil menembus podium pada Kejuaraan Asia 2022, Jafar dan Felisha telah menumpuk poin penting di papan peringkat BWF. Namun, mereka tidak menganggap medali sebagai hak otomatis. “Kami fokus pada setiap babak, bukan hanya pada hasil akhir,” ujar Jafar dalam konferensi pers pra-turnamen. “Setiap pertandingan memiliki dinamika tersendiri, dan kami harus siap menghadapinya secara mental dan taktik,” tambah Felisha.
Tim pelatih Indonesia menegaskan pentingnya strategi berbasis data. Analisis lawan, pola serangan, serta kecepatan shuttle menjadi faktor utama dalam sesi latihan intensif yang dijalankan selama tiga bulan terakhir. “Kami mempelajari kebiasaan lawan Asia Timur seperti Jepang dan Korea, serta tim-tim kuat dari China. Ini membantu kami menyiapkan skema permainan yang fleksibel,” kata pelatih kepala tim ganda campuran.
Selain aspek teknis, keduanya menekankan pentingnya kebugaran fisik. Jadwal latihan kardio, beban, serta rehabilitasi otot dirancang untuk mengurangi risiko cedera. Felisha menambahkan, “Kami tidak hanya mengejar kecepatan, tapi juga stamina untuk menahan rally panjang yang biasanya muncul di level Asia.”
Realistis bukan berarti kurang ambisi. Jafar menegaskan target utama tim: mengamankan setidaknya satu medali perak atau emas. “Jika kami bisa melaju sampai semifinal, kami sudah berada di jalur yang tepat. Namun, kami tidak menutup kemungkinan untuk melaju ke final jika kondisi mendukung,” ujarnya.
- Fokus pada persiapan mental melalui sesi visualisasi dan konseling psikolog.
- Penguatan taktik dengan simulasi pertandingan melawan gaya bermain lawan utama.
- Peningkatan kebugaran melalui program interval tinggi (HIIT) dan pemulihan aktif.
Para pemain muda lainnya di tim Indonesia juga menunjukkan progres signifikan, menciptakan persaingan internal yang sehat. Kompetisi internal ini menjadi ajang uji coba taktik baru sebelum turnamen resmi. “Kami tidak segan menguji formasi baru dalam turnamen domestik, karena ini memberi gambaran jelas tentang apa yang berhasil dan apa yang harus diperbaiki,” ujar Felisha.
Media sosial dan dukungan fanbase menjadi motivasi tambahan bagi Jafar dan Felisha. Mereka menerima pesan dukungan dari seluruh pelosok Indonesia, yang meningkatkan semangat juang. “Setiap dukungan kami rasakan sebagai energi tambahan di lapangan,” kata Jafar sambil tersenyum.
Kejuaraan Asia 2026 dijadwalkan berlangsung di kota yang belum diumumkan secara resmi, namun diharapkan fasilitasnya akan memenuhi standar internasional. Penyelenggara menyiapkan arena berpendingin, pencahayaan optimal, dan lapangan dengan permukaan shuttle yang konsisten, sehingga kondisi bermain dapat meminimalisir faktor eksternal.
Secara keseluruhan, strategi Jafar dan Felisha berlandaskan keseimbangan antara ambisi tinggi dan penilaian realistis terhadap peluang. Mereka menutup pernyataan dengan harapan, “Kami berjanji akan memberikan penampilan terbaik, terlepas dari hasil akhir. Yang terpenting adalah proses dan semangat sportivitas yang kami bawa ke panggung Asia.”