123Berita – 04 April 2026 | NASA siap meluncurkan misi bersejarah Artemis II yang akan menandai kembali era penerbangan berawak ke sekitar Bulan setelah hampir lima dekade. Misi ini dirancang untuk menguji kemampuan sistem pendaratan, navigasi, dan keselamatan selama perjalanan 10 hari, tanpa melakukan pendaratan di permukaan Bulan. Berikut rangkaian jadwal terperinci yang mencakup setiap fase kritis, mulai dari peluncuran hingga kembali ke Bumi.
Artemis II akan mengangkat empat astronot terpilih, termasuk wanita pertama yang akan menginjak orbit Bulan dalam program Artemis. Kapal ruang angkasa Orion, yang diluncurkan menggunakan roket Space Launch System (SLS) generasi terbaru, akan melakukan serangkaian manuver orbit yang menuntut koordinasi tinggi antara tim bumi dan awak kapal.
| Hari | Kegiatan Utama | Catatan |
|---|---|---|
| Hari 0 | Peluncuran dari Kennedy Space Center, Florida | Roket SLS menyalurkan Orion ke orbit Bumi pada pukul 07.00 UTC |
| Hari 1 | Orbit Bumi dan pemeriksaan sistem | Pengujian sistem komunikasi, navigasi, dan dukungan kehidupan selama 24 jam pertama |
| Hari 2 | Trans-Lunar Injection (TLI) | Orion melakukan pembakaran utama untuk memasuki lintasan menuju Bulan |
| Hari 3‑4 | Transit menuju Bulan | Awak melakukan latihan prosedur darurat dan eksperimen mikrogravitasi |
| Hari 5 | Masuk orbit Bulan (Lunar Orbit Insertion) | Orion menggelinding ke orbit elips sekitar 100 km di atas permukaan Bulan |
| Hari 6‑7 | Orbit Bulan dan observasi | Manuver orbit untuk menguji sistem pendaratan simulasi dan pengumpulan data ilmiah |
| Hari 8 | Persiapan kembali ke Bumi (Trans-Earth Injection) | Pembakaran utama kembali mengarahkan Orion ke lintasan kembali ke Bumi |
| Hari 9‑10 | Re-entry dan pendaratan | Orion memasuki atmosfer Bumi, mengerem dengan parasut dan mengakhiri misi dengan pendaratan di pad laut |
Selama fase orbit Bulan, tim misi akan memanfaatkan instrumen ilmiah onboard Orion untuk memetakan medan magnet, mengamati radiasi kosmik, dan melakukan pengukuran suhu serta tekanan di sekitar lingkungan lunar. Data tersebut diharapkan memperkaya pengetahuan tentang kondisi yang akan dihadapi pada misi pendaratan berawak berikutnya, Artemis III.
Berbeda dengan misi Apollo yang berfokus pada pendaratan, Artemis II menekankan pada validasi keseluruhan sistem transportasi manusia ke luar angkasa. Keberhasilan manuver Trans-Lunar Injection, Lunar Orbit Insertion, dan Trans-Earth Injection menjadi tolok ukur utama. Setiap tahap dilengkapi dengan prosedur redundansi untuk mengantisipasi kegagalan teknis, termasuk sistem propulsi cadangan dan modul layanan darurat.
Para astronot yang terlibat dalam Artemis II, antara lain Jessica Watkins (NASA), Christina H. Koch (NASA), Victor Glover (NASA), dan Jeremy Hansen (CSA, Kanada), akan menjalani latihan intensif selama lebih dari dua tahun. Latihan mencakup simulasi kebocoran oksigen, kegagalan daya, serta skenario evakuasi di luar angkasa. Penekanan khusus diberikan pada kerja tim, komunikasi lintas bahasa, dan prosedur medis darurat.
Selain aspek teknis, misi ini juga memiliki implikasi geopolitik. Artemis II menandai kolaborasi internasional yang melibatkan Badan Antariksa Kanada (CSA) dan European Space Agency (ESA) melalui kontribusi modul layanan dan sistem navigasi. Keberhasilan misi ini diharapkan membuka jalan bagi partisipasi lebih luas negara-negara berkembang dalam eksplorasi luar angkasa.
NASA memperkirakan biaya total Artemis II berada di kisaran US$4,1 miliar, yang sebagian besar dibiayai melalui anggaran pertahanan dan sipil. Investasi ini mencerminkan komitmen jangka panjang Amerika Serikat untuk kembali menjadi pemimpin dalam eksplorasi luar angkasa, terutama di tengah persaingan dengan program lunar Tiongkok dan India.
Jadwal yang ketat menuntut koordinasi yang mulus antara pusat kontrol misi di Houston, fasilitas peluncuran di Florida, serta stasiun pelacakan global. Setiap perubahan kecil pada lintasan atau kecepatan dapat berimbas pada keseluruhan durasi misi, sehingga tim navigasi menggunakan model dinamika orbital berbasis AI untuk mengoptimalkan rute dan mengurangi konsumsi bahan bakar.
Secara keseluruhan, Artemis II tidak hanya menjadi batu loncatan teknis, tetapi juga simbol aspirasi umat manusia untuk menjelajahi kembali Bulan dan menyiapkan pondasi bagi misi ke Mars. Keberhasilan 10‑hari perjalanan ini akan mengukuhkan kesiapan Orion dan SLS sebagai kendaraan andalan untuk misi-misi berawak selanjutnya, sekaligus menegaskan kembali tekad global untuk memperluas kehadiran manusia di luar Bumi.
Dengan jadwal yang telah ditetapkan dan persiapan matang, mata dunia kini menanti peluncuran Artemis II yang dijadwalkan pada akhir tahun ini. Keberhasilan misi ini akan menandai babak baru dalam era penjelajahan luar angkasa, menegaskan kembali pentingnya kerja sama internasional, inovasi teknologi, dan semangat penjelajahan yang tak pernah padam.





