123Berita – 09 April 2026 | Telah terjadi eskalasi militer yang signifikan di kawasan Timur Tengah pada pekan ini. Pasukan militer Israel mengumumkan peluncuran operasi bernama “Eternal Darkness” yang menargetkan wilayah Lebanon. Dalam rentang waktu sepuluh menit, serangan tersebut melibatkan penjatuhan sebanyak 160 bom, menandai intensitas serangan udara terbesar yang tercatat dalam konflik terbaru antara kedua negara.
Reaksi di Lebanon tidak memakan waktu lama. Pihak militer Lebanon, melalui pernyataan resmi, menegaskan bahwa serangan itu telah menimbulkan kerusakan signifikan pada infrastruktur sipil, termasuk jaringan listrik dan fasilitas kesehatan. Selain itu, mereka melaporkan adanya korban jiwa serta luka-luka pada warga sipil. Hizbullah menuduh Israel melanggar hukum humaniter internasional dan menegaskan bahwa mereka akan membalas dengan serangan balasan yang setara.
Sementara itu, di sisi lain konflik, Republik Islam Iran mengumumkan langkah balasan yang dapat memperburuk ketegangan geopolitik global. Pemerintah Iran menutup akses ke Selat Hormuz, salah satu jalur perairan tersibuk di dunia yang menyumbang sekitar empat persen volume perdagangan minyak mentah internasional. Penutupan ini diumumkan oleh Kementerian Pertahanan Iran sebagai respons langsung terhadap serangan Israel, dengan tujuan menekan Israel secara ekonomi dan mengirim pesan kuat kepada sekutu serta musuh di kawasan.
Penutupan Selat Hormuz memicu reaksi berantai di pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent melonjak tajam dalam hitungan jam setelah pernyataan Iran, menandakan kekhawatiran investor atas potensi gangguan pasokan minyak. Negara-negara produsen dan konsumen utama, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara Asia, segera mengeluarkan pernyataan yang menekankan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di selat tersebut sesuai dengan hukum internasional.
Amerika Serikat, yang memiliki kehadiran militer signifikan di Teluk Persia, mengirimkan kapal perang tambahan ke wilayah tersebut sebagai bentuk penegasan kebebasan pelayaran. Sekretaris Negara Amerika Serikat menegaskan bahwa penutupan selat tidak akan diterima dan menuntut Iran membuka kembali jalur laut secepatnya. Di sisi lain, Rusia menyatakan keprihatinannya atas eskalasi militer dan menyerukan dialog diplomatik untuk meredakan ketegangan.
Di dalam negeri masing-masing, respons politik juga mencuat. Di Israel, pemerintahan menegaskan bahwa operasi “Eternal Darkness” adalah tindakan defensif yang diperlukan untuk melindungi warga negara dari ancaman roket Hizbullah. Perdana Menteri Israel menambahkan bahwa Israel siap meningkatkan operasi militer jika diperlukan, sambil menolak segala bentuk tekanan internasional yang dianggap menghambat hak pertahanan negara.
Di Iran, para pejabat menekankan bahwa penutupan Selat Hormuz bersifat sementara dan dimaksudkan sebagai tekanan politik terhadap Israel serta sekutunya. Mereka menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen pada prinsip kedaulatan nasional dan tidak akan mundur dari tindakan yang dianggap melindungi kepentingan strategis negara.
Komunitas internasional kini dihadapkan pada tantangan berat untuk mencegah konflik meluas menjadi perang regional yang lebih luas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan darurat di markas besar mereka, dengan Sekretaris Jenderal menyerukan gencatan senjata segera dan menekankan pentingnya kembali ke meja perundingan. Namun, hingga kini, belum ada kesepakatan yang dapat menahan ketegangan yang terus memuncak.
Para pengamat militer menilai bahwa operasi Israel dan balasan Iran merupakan contoh klasik dari dinamika kekuatan regional yang saling menekan. Mereka menekankan bahwa penggunaan serangan udara massal dan penutupan jalur laut strategis dapat memperburuk situasi keamanan global, terutama mengingat ketergantungan dunia pada jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Di tengah ketidakpastian, rakyat di kedua negara dan wilayah sekitarnya menanggung beban terbesar. Warga sipil di Lebanon mengeluhkan kerusakan rumah, kehilangan akses listrik, dan gangguan layanan kesehatan akibat serangan. Di Iran, pelayaran komersial terganggu, memicu kekhawatiran atas ketersediaan bahan bakar dan kenaikan harga barang-barang penting.
Situasi ini menegaskan pentingnya dialog diplomatik yang melibatkan semua pihak terkait, termasuk peran mediator internasional untuk meredakan ketegangan. Sejauh ini, upaya diplomatik masih berada pada tahap awal, dengan banyak pihak menunggu langkah konkret dari Israel dan Iran untuk membuka jalur komunikasi.
Jika tidak ditangani dengan cepat dan bijaksana, konflik ini berpotensi meluas, mengancam stabilitas ekonomi global, serta menimbulkan dampak kemanusiaan yang lebih parah. Oleh karena itu, tekanan internasional untuk mencapai gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz menjadi prioritas utama dalam upaya mencegah eskalasi yang tidak terkendali.
Kesimpulannya, operasi militer Israel “Eternal Darkness” yang melibatkan 160 bom dalam sepuluh menit serta balasan Iran dengan menutup Selat Hormuz menandai puncak ketegangan baru di Timur Tengah. Dampak geopolitik, ekonomi, dan kemanusiaan dari tindakan ini menuntut respons cepat dari komunitas internasional untuk mengembalikan stabilitas, melindungi kepentingan perdagangan global, serta menghindari tragedi kemanusiaan yang lebih luas.





