Indonesia Hadapi Krisis SDM Keamanan Siber, Defi Nofitra Tekankan Kesiapan Manusia sebagai Kunci

Indonesia Hadapi Krisis SDM Keamanan Siber, Defi Nofitra Tekankan Kesiapan Manusia sebagai Kunci
Indonesia Hadapi Krisis SDM Keamanan Siber, Defi Nofitra Tekankan Kesiapan Manusia sebagai Kunci

123Berita – 09 April 2026 | Indonesia kini berada di ambang krisis sumber daya manusia (SDM) dalam bidang keamanan siber. Penilaian ini datang dari Defi Nofitra, Country Manager Kaspersky Indonesia, yang menyoroti betapa pentingnya kesiapan tenaga kerja terampil untuk membangun sistem pertahanan digital yang andal.

“Kesiapan sumber daya manusia menjadi poin krusial bagi Indonesia untuk memiliki ekosistem keamanan siber yang tangguh. Tanpa tenaga ahli yang memadai, investasi pada perangkat lunak atau hardware akan kehilangan efektivitasnya,” ujar Defi Nofitra dalam sebuah wawancara dengan media digital.

Bacaan Lainnya

Beberapa indikator yang diidentifikasi sebagai tanda darurat meliputi:

  • Kekurangan profesional bersertifikasi internasional seperti CISSP, CISM, atau CEH.
  • Rasio rendah antara jumlah insiden siber dan tim respons yang tersedia.
  • Kurangnya program pelatihan berkelanjutan di sektor publik dan swasta.

Data internal Kaspersky menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi menengah dalam peringkat kesiapan siber regional, namun terdapat kesenjangan besar pada aspek manusia. Sebuah survei independen pada akhir 2023 mengindikasikan bahwa hanya sekitar 15% perusahaan di Indonesia yang memiliki tim keamanan siber internal yang memadai, sementara sisanya masih bergantung pada layanan eksternal atau tidak memiliki tim khusus sama sekali.

Pemerintah telah meluncurkan beberapa inisiatif, termasuk program beasiswa untuk studi keamanan siber di luar negeri dan pembentukan pusat pelatihan nasional. Namun, Nofitra menilai langkah tersebut masih belum sejalan dengan kebutuhan yang mendesak. “Kebijakan memang ada, tetapi implementasinya masih lambat. Kami butuh sinergi antara regulator, industri, dan akademisi untuk mempercepat produksi talenta,” jelasnya.

Di sisi lain, sektor swasta menunjukkan respons yang lebih proaktif. Beberapa perusahaan teknologi besar mulai membuka jalur rekrutmen khusus untuk analis ancaman siber, serta menggandeng lembaga pendidikan untuk merancang kurikulum yang relevan dengan tantangan dunia maya saat ini. Namun, kompetisi global dalam menarik talenta keamanan siber semakin ketat, sehingga Indonesia harus menawarkan insentif yang kompetitif.

Untuk mengatasi kekurangan ini, Nofitra mengusulkan beberapa langkah strategis:

  1. Pengembangan kurikulum keamanan siber terstandarisasi di perguruan tinggi dan politeknik.
  2. Peningkatan jumlah sertifikasi profesional melalui kerja sama dengan lembaga internasional.
  3. Program magang dan pelatihan on‑the‑job yang melibatkan perusahaan teknologi, lembaga pemerintah, dan institusi pendidikan.
  4. Penyediaan dana khusus bagi startup keamanan siber guna menciptakan ekosistem inovasi lokal.

Implementasi rekomendasi tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga ahli. Selain itu, kolaborasi lintas sektor dipandang sebagai kunci untuk menciptakan jaringan pertahanan siber yang holistik dan adaptif.

Secara keseluruhan, peringatan dari Kaspersky Indonesia menegaskan bahwa keamanan siber bukan sekadar soal teknologi, melainkan tentang orang-orang yang mengoperasikannya. Tanpa investasi yang memadai pada pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi, Indonesia berisiko semakin terpapar serangan digital yang dapat mengancam stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.

Dengan menempatkan pengembangan SDM keamanan siber sebagai prioritas utama, negara ini dapat memperkuat posisi tawar dalam ekosistem digital global sekaligus melindungi kepentingan warganya dari ancaman yang terus berevolusi.

Pos terkait