123Berita – 09 April 2026 | PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) kembali menegaskan komitmen keberlanjutan dengan memperoleh dua penghargaan bergengsi sekaligus: peringkat PROPER Emas untuk Operasional Pabrik Peleburan (ISP) dan PROPER Hijau untuk Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA/IPP). Kedua sertifikasi ini menandai pencapaian tertinggi dalam penilaian kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
PROPER, singkatan dari Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan, menilai perusahaan berdasarkan tiga pilar utama: lingkungan, sosial, dan tata kelola. Peringkat Emas menandakan tingkat kepatuhan yang hampir sempurna, sementara peringkat Hijau menyoroti inisiatif perusahaan dalam mengoptimalkan penggunaan energi bersih dan mitigasi dampak lingkungan. Dengan meraih kedua peringkat tersebut, INALUM menjadi contoh industri aluminium pertama di Indonesia yang berhasil menyeimbangkan produksi tinggi dengan standar lingkungan yang ketat.
Operasional Pabrik Peleburan (ISP) INALUM, yang terletak di kawasan industri Asahan, Sumatera Utara, memproduksi aluminium primer melalui proses elektrolisis yang memerlukan energi listrik besar. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan mengimplementasikan teknologi ramah lingkungan, seperti penggunaan bahan baku daur ulang, optimalisasi penggunaan energi, dan pengelolaan limbah berbahaya secara terintegrasi. Hasil audit PROPER mengapresiasi upaya tersebut, mencatat penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 15 persen dibandingkan periode sebelumnya serta peningkatan efisiensi energi hingga 12 persen.
Sementara itu, PLTA/IPP yang dikelola INALUM memberikan pasokan listrik bersih bagi operasi ISP. Pembangkit tenaga air tersebut, dengan kapasitas terpasang sekitar 165 megawatt, menghasilkan listrik yang hampir sepenuhnya berasal dari sumber terbarukan. Penilaian PROPER Hijau menyoroti pengelolaan aliran air, konservasi ekosistem sungai, serta program pelibatan masyarakat sekitar dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga memperkuat posisi INALUM sebagai pelopor energi hijau di sektor industri berat.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kebijakan strategis yang dicanangkan oleh manajemen puncak INALUM. Direktur Utama, Bapak Muhammad Fadli, menegaskan bahwa ESG bukan sekadar agenda compliance, melainkan fondasi bagi pertumbuhan jangka panjang. “Kami melihat ESG sebagai nilai tambah yang dapat meningkatkan daya saing produk aluminium Indonesia di pasar global, terutama pada konsumen yang semakin menuntut jejak karbon rendah,” ujar Fadli dalam konferensi pers internal.
Langkah-langkah konkrit yang diambil meliputi:
- Penerapan sistem manajemen lingkungan ISO 14001 yang terintegrasi dengan standar internasional.
- Investasi sebesar Rp1,2 triliun dalam modernisasi fasilitas, termasuk penggantian peralatan lama dengan teknologi hemat energi.
- Program pelatihan ESG bagi lebih dari 2.500 karyawan, yang mencakup kesadaran lingkungan, keselamatan kerja, dan etika bisnis.
- Kemitraan dengan lembaga riset lokal untuk mengembangkan proses daur ulang alumunium yang lebih efisien.
Penghargaan PROPER Emas dan Hijau juga berdampak positif pada persepsi investor. Data pasar menunjukkan peningkatan minat investasi berkelanjutan (sustainable finance) terhadap perusahaan dengan rating ESG tinggi. INALUM, yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, mencatat kenaikan harga saham sebesar 8,5 persen dalam seminggu setelah pengumuman peringkat tersebut. Analyst dari bank investasi menilai bahwa peringkat ini dapat membuka akses pembiayaan dengan biaya lebih rendah, mengingat bank-bank kini menilai risiko lingkungan sebagai faktor penentu dalam keputusan kredit.
Di tingkat nasional, pencapaian INALUM menjadi sinyal penting bagi pemerintah dalam upaya mencapai target hijau 2025. Pemerintah menargetkan peningkatan kontribusi energi terbarukan dalam bauran energi nasional menjadi 23 persen pada tahun 2025. Pembangkit listrik tenaga air INALUM, yang beroperasi secara mandiri, memberikan contoh bagaimana industri berat dapat berkontribusi pada agenda tersebut tanpa mengorbankan produktivitas.
Namun, tantangan tetap ada. Industri aluminium secara global masih menghadapi tekanan regulasi terkait intensitas karbon, terutama dari Uni Eropa yang mengimplementasikan mekanisme carbon border adjustment. Untuk tetap kompetitif, INALUM harus terus menurunkan intensitas emisi per ton aluminium dan meningkatkan proporsi penggunaan bahan baku daur ulang. Rencana jangka menengah perusahaan mencakup target pengurangan intensitas karbon sebesar 30 persen pada 2030 serta eksplorasi teknologi hidrogen hijau sebagai sumber energi alternatif.
Secara keseluruhan, pencapaian PROPER Emas dan Hijau 2025 menegaskan bahwa INALUM berada pada jalur yang tepat dalam menyeimbangkan pertumbuhan industri dengan tanggung jawab lingkungan. Penghargaan ini tidak hanya mengukuhkan reputasi perusahaan di mata regulator dan pemangku kepentingan, tetapi juga menjadi pendorong inovasi berkelanjutan yang dapat dijadikan benchmark bagi sektor industri lainnya di Indonesia.
Ke depan, INALUM berkomitmen memperluas program ESG ke seluruh rantai nilai, melibatkan pemasok, distributor, dan konsumen dalam upaya pengurangan jejak karbon secara menyeluruh. Dengan strategi yang terintegrasi dan dukungan kebijakan pemerintah, perusahaan berharap dapat menjadi pelopor transformasi hijau di industri aluminium Asia Tenggara.





