Harga Daging Babi China Turun Drastis, Setara Harga Sayur dalam 8 Tahun Terakhir

123Berita – 10 April 2026 | Pasar daging babi di Tiongkok mengalami penurunan harga yang belum pernah terjadi selama delapan tahun terakhir, hingga kini harganya berada pada level yang sama dengan sayuran pokok. Penurunan tajam ini memicu perbincangan luas di kalangan konsumen, pedagang, hingga analis ekonomi karena daging babi merupakan sumber protein utama bagi sebagian besar penduduk Tiongkok.

Data terbaru yang dirilis oleh lembaga statistik regional menunjukkan bahwa harga eceran daging babi di kota-kota utama seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou menurun rata-rata sekitar 30 persen dibandingkan pada awal tahun ini. Pada bulan Agustus, rata-rata harga per kilogram daging babi segar berada di kisaran 15 hingga 18 yuan, setara dengan harga sayuran hijau seperti bok choy atau sawi putih. Angka ini menandai titik terendah sejak 2016, ketika kebijakan pembatasan produksi dan wabah penyakit pada babi melanda industri ternak.

Bacaan Lainnya

Beberapa faktor utama menjadi pemicu penurunan harga tersebut:

  • Kelebihan pasokan: Pada kuartal pertama 2024, peternak babi di provinsi Hebei, Shandong, dan Henan melaporkan peningkatan produksi yang signifikan setelah berhasil mengendalikan wabah virus babi Afrika (ASF). Kelebihan stok mengalir ke pasar domestik, menurunkan tekanan pada harga.
  • Penurunan permintaan konsumen: Perubahan pola makan, khususnya peningkatan minat pada makanan nabati dan protein alternatif, mengurangi konsumsi daging babi. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar dan listrik membuat konsumen lebih berhati-hati dalam pengeluaran makanan.
  • Kebijakan pemerintah: Pemerintah pusat Tiongkok meluncurkan subsidi bagi peternak kecil dan menurunkan tarif impor daging babi dari negara-negara seperti Brasil dan Amerika Serikat untuk menstabilkan pasar. Kebijakan ini secara tidak langsung menambah pasokan dan menekan harga domestik.
  • Fluktuasi nilai tukar yuan: Penguatan yuan terhadap dolar AS pada kuartal terakhir menurunkan biaya impor pakan ternak, sehingga menurunkan biaya produksi dan pada akhirnya harga jual daging.

Penurunan harga ini tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga memengaruhi para peternak dan rantai pasokan. Banyak peternak kecil yang kini menghadapi margin keuntungan tipis, bahkan mengalami kerugian pada beberapa bulan terakhir. Menanggapi situasi ini, Asosiasi Peternak Babi Tiongkok (CBA) mengeluarkan pernyataan bahwa mereka akan menyesuaikan skala produksi dan meningkatkan efisiensi operasional, termasuk mengadopsi teknologi pemeliharaan yang lebih modern.

Di sisi lain, para pedagang pasar tradisional dan supermarket melaporkan peningkatan volume penjualan daging babi karena harga yang lebih terjangkau menarik konsumen yang sebelumnya menunda pembelian. Penjualan daging babi segar di pasar tradisional naik sekitar 12 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sementara penjualan di jaringan supermarket besar seperti Carrefour China dan Sun Art Retail naik 8 persen.

Para ekonom menilai bahwa penurunan harga ini dapat memberikan dorongan positif bagi inflasi konsumen di Tiongkok. Menurut analis dari Bank of China, penurunan harga daging babi berpotensi menurunkan indeks harga konsumen (CPI) sebesar 0,2 poin persentase pada kuartal ketiga 2024, mengingat daging babi menyumbang sekitar 7 persen dari total CPI.

Namun, terdapat juga risiko jangka panjang yang perlu diwaspadai. Jika penurunan harga berlanjut tanpa adanya penyesuaian produksi, peternak kecil dapat mengalami tekanan finansial yang berujung pada penutupan usaha, yang pada gilirannya dapat mengurangi pasokan dalam jangka menengah. Selain itu, konsumen yang terbiasa dengan harga murah mungkin akan menolak kembali ke pola konsumsi sebelumnya ketika harga kembali naik, mengubah struktur permintaan pangan di negara tersebut.

Secara regional, penurunan harga daging babi di Tiongkok juga memberi dampak pada negara-negara eksportir seperti Brazil, Amerika Serikat, dan Uni Eropa, yang sebelumnya menargetkan pasar Tiongkok sebagai pembeli utama. Menurunnya permintaan impor daging babi dapat memaksa eksportir mengalihkan fokus ke pasar lain atau menurunkan harga ekspor untuk tetap kompetitif.

Dalam menghadapi dinamika ini, pemerintah Tiongkok berjanji akan terus memantau pasar dan menyediakan dukungan bagi peternak kecil, termasuk bantuan keuangan dan pelatihan teknologi peternakan modern. Kebijakan ini diharapkan dapat menyeimbangkan antara stabilitas harga bagi konsumen dan kelangsungan usaha peternak.

Kesimpulannya, penurunan harga daging babi di China hingga menyamai harga sayur menandakan perubahan signifikan dalam pola konsumsi dan produksi pangan negara tersebut. Sementara konsumen menikmati keuntungan jangka pendek dari harga yang lebih terjangkau, tantangan bagi peternak dan implikasi bagi pasar internasional tetap menjadi fokus utama para pembuat kebijakan dan analis ekonomi.

Pos terkait