123Berita – 07 April 2026 | Samsung kembali mengguncang pasar menengah menengah‑atas Indonesia dengan meluncurkan Galaxy A57 5G, penerus langsung dari Galaxy A56. Kedua perangkat berada dalam segmen yang sama, namun perbedaan tipis pada dimensi, tenaga pemrosesan, dan kecanggihan fitur AI menimbulkan pertanyaan penting bagi konsumen: apakah peningkatan tersebut layak menjadi alasan untuk beralih? Artikel ini menyajikan analisis komprehensif, mengupas setiap aspek utama mulai dari desain fisik hingga kemampuan perangkat lunak, sehingga pembaca dapat membuat keputusan yang terinformasi.
Secara visual, Galaxy A57 menampilkan bodi yang lebih ramping dibandingkan pendahulunya. Ketebalan A57 tercatat 7,9 mm, sedangkan A56 masih berada di angka 8,2 mm. Selisih 0,3 mm memang terkesan kecil, namun terasa signifikan ketika digenggam, memberikan kesan lebih elegan dan ringan. Kedua model tetap mempertahankan material plastik berkualitas tinggi yang dipadukan dengan panel depan berlapis Gorilla Glass 5, sehingga tidak mengorbankan daya tahan meski mengutamakan kehalusan siluet.
Di balik tampilan, perbedaan terbesar terletak pada chipset. Galaxy A57 dibekali dengan MediaTek Dimensity 7200, prosesor octa‑core dengan arsitektur 6 nm yang menjanjikan performa gaming dan multitasking lebih responsif. Sementara itu, Galaxy A56 masih mengandalkan MediaTek Helio G99, yang meskipun cukup tangguh untuk penggunaan sehari‑hari, tidak mampu bersaing pada beban berat. Kombinasi CPU‑GPU pada Dimensity 7200 menawarkan peningkatan frame rate sekitar 20‑30 % dalam game populer, serta waktu loading aplikasi yang lebih singkat.
RAM dan opsi penyimpanan juga mengalami penyempurnaan. A57 hadir dalam varian 6 GB RAM + 128 GB internal, serta pilihan 8 GB + 256 GB untuk pengguna yang menginginkan ruang ekstra. Galaxy A56, di sisi lain, hanya tersedia dalam konfigurasi 4 GB + 128 GB. Kenaikan kapasitas RAM pada A57 tidak hanya mempercepat peralihan antar aplikasi, tetapi juga meningkatkan performa AI yang lebih intensif.
Fitur AI menjadi titik fokus utama Samsung pada seri ini. Galaxy A57 mengintegrasikan Samsung AI Engine yang beroperasi pada level sistem, memungkinkan optimasi baterai, peningkatan kualitas foto, serta penyesuaian UI secara adaptif berdasarkan pola penggunaan. Misalnya, mode “Smart Capture” secara otomatis menyesuaikan eksposur dan warna pada foto portrait, sementara “Battery AI” belajar kebiasaan pengguna untuk memperpanjang masa pakai hingga 15 % lebih lama dibandingkan A56.
Berbicara tentang kamera, kedua model menggunakan susunan tiga lensa pada bagian belakang, tetapi sensor utama A57 berukuran 50 MP dengan aperture f/1.8, naik dari 48 MP f/2.0 pada A56. Sensor tambahan 8 MP ultra‑wide pada A57 menawarkan sudut pandang 123 derajat, sedangkan pada A56 hanya 5 MP dengan sudut 115 derajat. Hasilnya, foto lanskap dan grup lebih tajam serta memiliki detail warna yang lebih alami. Kamera depan A57 beresolusi 13 MP, naik dari 13 MP pada A56 tetapi dengan peningkatan software AI portrait yang menghasilkan bokeh lebih halus.
Baterai menjadi pertimbangan penting bagi kelas menengah. Kedua perangkat mengusung baterai 5000 mAh, namun A57 mendukung pengisian cepat 25 W, sementara A56 hanya 15 W. Pada pengujian standar, A57 mengisi penuh dalam waktu sekitar 45 menit, mempercepat pemulihan daya saat pengguna berada dalam mobilitas tinggi.
Untuk pengalaman visual, layar Super AMOLED 6,5 inci pada A57 menawarkan resolusi Full HD+ (1080 × 2400 piksel) dengan refresh rate 120 Hz, menjanjikan tampilan yang halus saat scrolling atau bermain game. Galaxy A56, meski memiliki ukuran yang sama, masih menggunakan panel LCD dengan refresh rate 90 Hz. Perbedaan ini terasa pada transisi animasi dan responsivitas sentuhan, terutama pada game kompetitif.
Berikut rangkuman perbandingan teknis dalam bentuk tabel:
| Fitur | Galaxy A57 5G | Galaxy A56 |
|---|---|---|
| Ketebalan | 7,9 mm | 8,2 mm |
| Chipset | MediaTek Dimensity 7200 | MediaTek Helio G99 |
| RAM / Penyimpanan | 6 GB + 128 GB / 8 GB + 256 GB | 4 GB + 128 GB |
| Kamera Utama | 50 MP (f/1.8) + 8 MP ultra‑wide | 48 MP (f/2.0) + 5 MP ultra‑wide |
| Kamera Depan | 13 MP dengan AI portrait | 13 MP |
| Layar | Super AMOLED 6,5″ Full HD+ 120 Hz | LCD 6,5″ Full HD+ 90 Hz |
| Baterai | 5000 mAh, Fast Charge 25 W | 5000 mAh, Fast Charge 15 W |
| Fitur AI | Samsung AI Engine (Smart Capture, Battery AI) | AI standar |
Harga resmi di pasar Indonesia menempatkan Galaxy A57 pada kisaran Rp 3,699.000 untuk varian 6 GB/128 GB, sedangkan Galaxy A56 masih diperdagangkan sekitar Rp 2,899.000. Selisih harga sekitar 800 ribu rupiah dapat dipertimbangkan mengingat peningkatan performa, layar, dan kecepatan pengisian.
Dari perspektif konsumen, keputusan upgrade tergantung pada prioritas penggunaan. Pengguna yang mengutamakan gaming, fotografi, atau kecepatan respons UI akan merasakan manfaat nyata dari chipset Dimensity 7200, layar 120 Hz, dan kamera AI yang lebih matang. Sebaliknya, bagi pengguna yang hanya membutuhkan fungsi dasar seperti media sosial, perambilan pesan, dan streaming video, Galaxy A56 tetap menjadi pilihan ekonomis yang kompetitif.
Kesimpulannya, Galaxy A57 5G menawarkan peningkatan yang signifikan pada hampir setiap aspek kritis, meskipun perbedaan fisik tampak tipis. Dengan desain yang lebih ramping, prosesor lebih kuat, layar yang lebih halus, serta kecanggihan AI yang terintegrasi, perangkat ini layak dipertimbangkan sebagai pilihan premium dalam segmen menengah. Bagi yang menginginkan kinerja optimal dan siap menginvestasikan sedikit lebih banyak, A57 merupakan langkah upgrade yang masuk akal. Namun, bagi konsumen dengan anggaran terbatas atau kebutuhan dasar, Galaxy A56 masih tetap relevan dan mampu memenuhi ekspektasi harian.





