123Berita – 09 April 2026 | Penelitian terbaru yang dipimpin oleh tim dari University of Reading mengungkap bahwa fosil yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai gurita tertua di dunia ternyata bukanlah gurita. Analisis pencitraan tiga dimensi (CT scan) yang canggih menunjukkan bahwa struktur anatomi fosil tersebut lebih cocok dengan kelompok cephalopoda lain, menyingkirkan klaim bahwa ia merepresentasikan pengetahuan paling awal tentang gurita.
Fosil yang ditemukan di Formasi Silur, sekitar 480 juta tahun yang lalu, awalnya dipublikasikan pada tahun 2016 dan mendapat sorotan internasional karena diyakini menjadi bukti paling awal dari keberadaan gurita. Ciri-ciri yang diidentifikasi meliputi tubuh lunak yang tidak bersegmen serta jejak jejak otot yang dianggap khas gurita modern. Penemuan ini memberi harapan baru bagi ilmuwan yang ingin memahami evolusi cephalopoda, kelompok hewan yang mencakup gurita, cumi-cumi, dan nautilus.
Namun, tim peneliti dari University of Reading, yang dipimpin oleh Dr. Emily Hughes, melakukan pemindaian mikro-CT pada fosil tersebut dan menemukan detail yang sebelumnya tidak terdeteksi. Hasilnya menunjukkan adanya struktur internal yang menyerupai mantel (cangkang lunak) yang lebih tebal serta jaringan jaringan yang lebih konsisten dengan nautiloid atau belemnite, bukan gurita. Selain itu, tidak ada jejak jaringan otot berstruktur radial yang menjadi ciri khas gurita, melainkan pola otot yang lebih sederhana.
Temuan ini mendapat konfirmasi dari para ahli paleontologi lain, termasuk peneliti dari BBC dan The Independent, yang melaporkan bahwa interpretasi awal fosil tersebut mungkin terlalu optimis. Menurut mereka, fosil tersebut lebih tepat disebut sebagai “cephalopoda primitif” yang belum menunjukkan evolusi penuh ke bentuk gurita. Penelitian ini menegaskan pentingnya penggunaan teknologi pencitraan modern dalam memverifikasi fosil-fosil kuno yang bersifat ambigu.
Penelitian ini tidak hanya mengubah pandangan tentang fosil tersebut, tetapi juga menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang timeline evolusi gurita. Jika fosil ini bukan gurita, maka bukti fosil paling awal tentang gurita kini masih belum ditemukan secara konklusif. Sebagian ilmuwan berpendapat bahwa gurita mungkin muncul lebih akhir dalam periode Devonian atau bahkan Carboniferous, menunda perkiraan asal-usulnya selama puluhan juta tahun.
Selain menantang klaim tentang fosil tertua, temuan ini menyoroti kompleksitas evolusi cephalopoda. Kelompok ini dikenal dengan kemampuan beradaptasi yang luar biasa, dari nautilus dengan cangkang eksternal hingga gurita dengan tubuh lunak tanpa cangkang. Penelitian terbaru menegaskan bahwa transisi antara bentuk-bentuk ini tidak linier, melainkan melibatkan percabangan evolusi yang rumit dan beragam.
Peneliti juga menekankan bahwa penemuan ini tidak mengurangi nilai fosil tersebut dalam konteks paleontologi. Sebaliknya, fosil ini kini menjadi contoh penting tentang bagaimana interpretasi ilmiah dapat berubah seiring perkembangan teknologi. Fosil tersebut tetap menjadi contoh berharga tentang fauna laut Silur dan memberikan wawasan tentang ekosistem laut purba yang kaya akan biodiversitas.
Komunitas ilmiah menanggapi temuan ini dengan antusiasme dan sedikit skeptisisme. Beberapa ahli mengusulkan studi lanjutan dengan teknik lain, seperti analisis isotop stabil, untuk lebih memahami lingkungan tempat fosil tersebut terbentuk. Sementara itu, museum-museum yang menampilkan fosil ini diharapkan akan memperbarui informasi pameran mereka untuk mencerminkan interpretasi terbaru.
Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan kembali pentingnya verifikasi ilmiah dan kolaborasi internasional dalam bidang paleontologi. Dengan menggunakan teknologi pencitraan canggih, para peneliti dapat menilai kembali fosil-fosil lama dan memperbaiki narasi evolusi yang sebelumnya dianggap pasti. Meskipun judul “gurita tertua” harus dicabut, penemuan ini membuka peluang bagi penelitian selanjutnya yang mungkin akhirnya menemukan bukti paling awal tentang gurita yang sejati.
Kesimpulannya, fosil yang selama ini dipandang sebagai bukti paling awal keberadaan gurita kini telah diidentifikasi kembali sebagai anggota cephalopoda primitif yang bukan gurita. Penelitian ini menyoroti dinamika evolusi laut purba dan menegaskan perlunya pendekatan teknologi tinggi dalam mempelajari jejak masa lalu. Dengan demikian, ilmu pengetahuan terus bergerak maju, menyempurnakan pemahaman kita tentang sejarah kehidupan di bumi.





