123Berita – 04 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Industri perfilman Indonesia kembali menyuguhkan karya yang menggugah hati sekaligus mengangkat perdebatan sosial yang belum lama ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Film berjudul Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, ya? yang disutradarai oleh Kuntz Agus menapaki tema fatherless atau ketidakhadiran sosok ayah dalam kehidupan anak-anak, sekaligus menelusuri dampak psikologis dan emosional yang ditimbulkannya.
Berbeda dengan sekadar drama keluarga konvensional, film ini menyajikan narasi yang berlapis, memadukan unsur realisme sosial dengan sentuhan estetika sinematik yang khas. Karya ini mengisahkan dua tokoh utama, Dira (diperankan oleh aktris muda berbakat) dan Darin (pemeran utama laki-laki), yang masing-masing bergulat dengan konsekuensi dari ketidakhadiran figur ayah dalam hidup mereka. Dira, seorang perempuan berusia pertengahan dua puluhan, tumbuh dalam bayang-bayang rasa kehilangan yang menjeratnya dalam siklus pencarian identitas, sementara Darin, remaja berusia 17 tahun, merasakan tekanan sosial dan rasa tidak percaya diri yang dipicu oleh kekosongan peran ayah.
Alur film dimulai dengan adegan pembuka yang menampilkan Dira duduk di bangku taman, memandang ke langit sambil menulis di buku hariannya. Narasi suara internalnya menyiratkan keraguan dan kerinduan yang dalam, menyiapkan penonton untuk memahami latar psikologis karakter utama. Seiring berjalannya cerita, penonton dibawa menelusuri masa kecil Dira, ketika ia masih menunggu janji-janji yang tak pernah terealisasi dari ayahnya yang meninggalkan keluarga sejak dini. Pada titik inilah Kuntz Agus menonjolkan teknik sinematik melalui flashback yang halus, memperkuat kontras antara harapan masa kecil dengan realitas pahit yang harus dihadapi.
Di sisi lain, Darin digambarkan sebagai remaja yang hidup di lingkungan perkotaan yang keras, di mana tekanan teman sebaya dan ekspektasi sekolah menambah beban emosionalnya. Tanpa figur ayah yang memberi contoh, Darin terpaksa mencari peran ayah dalam sosok lain, seperti guru dan pelatih olahraga. Namun, pencarian itu tidak selalu berujung pada kepuasan; ia justru menimbulkan konflik internal yang semakin memperdalam rasa keterasingan.
Film ini tidak hanya menyajikan kisah pribadi Dira dan Darin, melainkan juga menampilkan perspektif orang tua tunggal, keluarga besar, dan masyarakat luas yang berperan dalam menanggapi isu fatherless. Salah satu adegan kunci menampilkan pertemuan komunitas di sebuah pusat kegiatan sosial, di mana para peserta berbagi cerita tentang bagaimana mereka mengatasi ketidakhadiran ayah. Dialog yang ditulis cermat memperlihatkan keberagaman cara coping, mulai dari dukungan spiritual hingga pencarian mentor di luar lingkungan keluarga.
Keberhasilan film dalam menyampaikan pesan sosial terletak pada pendekatan visual dan naratifnya. Kuntz Agus memanfaatkan pencahayaan kontras, memadukan warna-warna hangat pada momen kebersamaan dan warna dingin pada adegan-adegan penuh konflik, sehingga menekankan pergeseran emosional para tokoh. Musik latar yang dipilih, menggabungkan instrumen tradisional dan modern, menambah dimensi keintiman serta menegaskan nuansa kontemporer.
Selain nilai artistik, Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, ya? juga mengundang diskusi tentang kebijakan sosial terkait dukungan bagi anak-anak yang tumbuh tanpa ayah. Beberapa pakar psikologi anak yang dihadirkan dalam film menyuarakan pentingnya program mentoring, konseling, dan jaringan sosial yang kuat untuk mengurangi risiko perilaku negatif pada remaja. Film ini secara implisit menyoroti peran pemerintah dan lembaga non‑profit dalam menyediakan sumber daya yang memadai.
Respons kritis dari penonton dan kritikus film pun beragam. Sebagian memuji keberanian sutradara mengangkat tema yang masih dianggap tabu dalam budaya Indonesia, sementara yang lain mengkritik pacing film yang terkadang terasa lambat pada bagian tengah. Namun, secara keseluruhan, film ini mendapatkan apresiasi tinggi karena keotentikan cerita dan kedalaman karakter.
Penayangan perdana pada 9 April 2026 di beberapa bioskop utama di Jakarta, Bandung, dan Surabaya menarik antusiasme besar, dengan antrian panjang di loket tiket. Angka penonton pada minggu pertama melampaui 150.000 penonton, menandakan bahwa topik fatherless berhasil menarik minat luas, tidak hanya kalangan dewasa tetapi juga generasi milenial yang tengah mencari makna identitas diri.
Secara keseluruhan, Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, ya? tidak sekadar menjadi hiburan layar lebar, melainkan sebuah panggilan untuk refleksi kolektif. Film ini mengajak penonton menelaah kembali peran ayah dalam struktur keluarga, sekaligus mengingatkan bahwa ketiadaan figur ayah tidak harus menjadi akhir dari harapan dan pertumbuhan. Melalui narasi yang kuat, visual yang memukau, dan pesan sosial yang relevan, Kuntz Agus berhasil menyajikan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menginspirasi perubahan positif dalam masyarakat.