123Berita – 09 April 2026 | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan kembali pentingnya prioritas pasokan minyak bagi kilang domestik melalui koordinasi dengan Komite Kebijakan Strategis (K3S). Permintaan tersebut muncul di tengah peningkatan signifikan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional yang mencapai 5,88 juta kiloliter pada Februari 2026.
Data terbaru menunjukkan bahwa konsumsi BBM didominasi oleh varian Pertalite atau RON 90, yang tercatat menembus 28,19 juta kiloliter. Angka ini menandakan pergeseran preferensi konsumen ke produk yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis, sekaligus menambah beban pada sistem distribusi minyak dalam negeri.
ESDM menyoroti bahwa ketahanan energi menjadi agenda utama pemerintah, terutama setelah beberapa tahun terakhir diwarnai oleh fluktuasi harga minyak dunia dan tantangan logistik. Oleh karena itu, kementerian meminta K3S untuk menempatkan pasokan minyak sebagai prioritas utama dalam alur distribusi, agar kilang domestik dapat beroperasi optimal dan memenuhi kebutuhan pasar domestik.
K3S, sebagai forum kebijakan strategis, diharapkan menyusun rencana aksi yang meliputi optimalisasi jaringan transportasi, peningkatan kapasitas penyimpanan, serta penyesuaian prioritas alokasi minyak untuk kilang. Forum tersebut juga diminta untuk berkoordinasi dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BP2HMG) serta PT Pertamina (Persero) dalam mengefektifkan mekanisme distribusi.
Dalam konteks kebijakan energi, prioritas pasokan minyak untuk kilang domestik sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi beban impor. Pemerintah telah mengalokasikan dana tambahan untuk pengembangan infrastruktur pelabuhan, jalur pipa, dan terminal penyimpanan, yang diharapkan dapat memperlancar aliran minyak mentah ke fasilitas pengolahan.
Pengamat industri energi menilai bahwa kebijakan ini akan memberi dampak positif terhadap stabilitas harga BBM di dalam negeri. Dengan pasokan yang lebih terjamin, kilang dapat mengoperasikan unit produksi secara maksimal, sehingga dapat menurunkan biaya produksi dan pada gilirannya menurunkan harga jual di tingkat eceran.
Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait dengan kapasitas penyimpanan yang masih terbatas di beberapa wilayah strategis. Selain itu, kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau menuntut adanya jaringan distribusi yang luas dan efisien. Oleh karena itu, sinergi antara kementerian, K3S, dan pelaku industri menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan ini.
Ke depan, ESDM berencana melakukan evaluasi rutin terhadap efektivitas alokasi pasokan minyak, dengan menyiapkan indikator kinerja utama (KPI) yang mencakup tingkat ketersediaan BBM, stabilitas harga, serta tingkat pemanfaatan kapasitas kilang domestik. Hasil evaluasi akan menjadi bahan pertimbangan untuk penyesuaian kebijakan selanjutnya.
Dengan fokus pada prioritas pasokan minyak bagi kilang domestik, pemerintah berharap dapat memperkuat ketahanan energi nasional, menurunkan ketergantungan pada impor, serta memberikan manfaat ekonomi bagi konsumen melalui harga BBM yang lebih stabil dan terjangkau.