123Berita – 08 April 2026 | Ketegangan yang memuncak antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran di Timur Tengah menimbulkan dampak langsung maupun tidak langsung bagi perekonomian Indonesia. Konflik berskala geopolitik ini tidak hanya mempengaruhi harga komoditas energi, melainkan juga menimbulkan ketidakpastian pada arus perdagangan, nilai tukar, dan aliran investasi asing.
Sejak awal tahun, harga minyak mentah dunia berada pada level tertinggi dalam lima tahun terakhir, dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan dari Teluk Persia. Harga Brent yang semula berada di kisaran US$78 per barel melesat hingga melewati US$95 per barel pada puncak ketegangan. Bagi Indonesia, yang merupakan importir minyak bersih, kenaikan ini berarti beban tambahan pada defisit neraca perdagangan dan tekanan inflasi. Pemerintah harus menambah subsidi atau menyesuaikan kebijakan energi untuk menahan lonjakan biaya produksi dan transportasi.
Rupiah pun merasakan dampak volatilitas global. Dalam rentang tiga bulan terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar bergerak antara Rp14.300 hingga Rp15.200 per USD. Fluktuasi ini memperburuk biaya impor bahan baku, terutama bahan baku industri yang dipasok dari luar negeri, seperti bahan kimia, baja, dan mesin. Di sisi lain, ekspor komoditas non‑migas seperti kelapa sawit, karet, dan kopi tetap kuat, namun nilai ekspor bersih tertekan karena harga impor yang lebih tinggi.
Pasar modal juga tidak luput dari efek goncangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sekitar 3,5% sejak konflik memuncak, didorong oleh penjualan saham perusahaan yang berisiko tinggi pada sektor energi dan pertambangan. Investor institusional menahan aliran dana asing (FDI), sementara sektor manufaktur menghadapi kenaikan biaya energi yang dapat menurunkan margin keuntungan.
Namun, tidak semua aspek ekonomi tergerus. Sektor pertanian dan industri makanan menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Karena Indonesia masih mengandalkan produksi dalam negeri untuk kebutuhan pangan, inflasi makanan tetap terkendali pada kisaran 2,8% – 3,2% dibandingkan inflasi keseluruhan yang berada di atas 4,5% akibat kenaikan bahan bakar.
Pemerintah telah mengeluarkan serangkaian kebijakan mitigasi. Salah satunya adalah penyesuaian tarif listrik bagi industri dengan penggunaan energi terbarukan, guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya tidak menentu. Selain itu, Bank Indonesia meningkatkan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan rupiah, sementara Kementerian Keuangan memperkuat cadangan devisa guna menahan tekanan eksternal.
Strategi diversifikasi pasar ekspor menjadi prioritas. Dengan menambah volume ekspor ke negara‑negara Asia Tenggara dan Afrika, Indonesia berupaya mengurangi eksposur pada pasar Barat yang lebih sensitif terhadap fluktuasi geopolitik. Pemerintah juga mempercepat proyek infrastruktur energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya dan angin, yang diharapkan dapat menurunkan beban impor minyak dalam jangka menengah.
Dampak sosial ekonomi tidak dapat diabaikan. Kenaikan harga bahan bakar memicu protes di beberapa daerah, terutama di wilayah yang bergantung pada transportasi darat untuk distribusi barang. Pemerintah daerah diminta untuk meningkatkan subsidi transportasi publik dan mempercepat program kendaraan listrik guna menurunkan beban rumah tangga.
Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia berada pada posisi yang rapuh namun tidak tanpa peluang. Ketahanan fiskal yang kuat, cadangan devisa yang memadai, serta kebijakan diversifikasi energi memberikan ruang bernapas bagi negara di tengah gejolak geopolitik. Kunci keberhasilan terletak pada koordinasi antar lembaga, percepatan reformasi struktural, serta kemampuan adaptasi sektor swasta terhadap perubahan harga komoditas global.
Kesimpulannya, konflik antara AS‑Israel dan Iran menimbulkan tekanan signifikan pada inflasi, nilai tukar, dan pasar modal Indonesia. Meskipun demikian, dengan langkah kebijakan yang tepat, diversifikasi ekonomi, dan fokus pada energi terbarukan, Indonesia dapat mempertahankan stabilitas makroekonomi dan menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.