123Berita – 08 April 2026 | Konflik yang baru-baru ini meletus di Iran menimbulkan goncangan ekonomi yang diperkirakan hanya setengah dari skala dampak pandemi Covid-19, namun tetap menimbulkan tekanan signifikan pada pasar energi dunia. Analisis para ahli menyoroti bahwa meskipun intensitasnya tidak sebesar krisis kesehatan global, perang ini memperparah ketidakstabilan pasokan minyak dan gas, memicu lonjakan harga, serta menambah beban pada sektor transportasi, terutama bahan bakar jet di Eropa.
Perbandingan dengan pandemi Covid-19 menjadi titik tolak penting dalam menilai besarnya guncangan. Selama puncak pandemi, permintaan energi global turun hampir 8 persen, sementara produksi minyak berkurang drastis akibat lockdown dan penurunan mobilitas. Konflik Iran, meskipun tidak menurunkan permintaan secara signifikan, menghambat pasokan utama, sehingga efeknya terasa sebagai “setengah” dari kerugian ekonomi yang dialami selama Covid-19. Dampak tersebut tercermin dalam penurunan pertumbuhan PDB di beberapa negara pengimpor minyak, terutama di Eropa dan Asia Tenggara, yang kini harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk subsidi energi.
International Energy Agency (IEA) menegaskan bahwa krisis minyak dan gas yang dipicu oleh perang Iran lebih parah dibandingkan krisis energi 1973, 1979, dan 2022 secara gabungan. IEA memperkirakan bahwa gangguan pada aliran minyak melalui Selat Hormuz dapat menambah defisit pasokan global sebesar 1,2 juta barel per hari, menimbulkan tekanan inflasi pada harga bahan bakar dan produk turunan. Dalam laporan terbarunya, IEA menyoroti tiga skenario utama: (1) konflik berlanjut dengan penurunan produksi tetap, (2) eskalasi militer yang mengakibatkan penutupan total Selat Hormuz, dan (3) de‑eskalasi dan pemulihan produksi dalam jangka menengah. Setiap skenario membawa implikasi berbeda bagi kebijakan energi nasional, termasuk kebutuhan meningkatkan cadangan strategis dan mempercepat transisi ke sumber energi terbarukan.
Pengaruh langsung konflik tersebut terlihat jelas di Selat Hormuz, jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Selat ini menjadi titik bottleneck bagi pengiriman minyak dan gas, serta berperan penting dalam mengalirkan bahan bakar jet ke bandara-bandara utama di Eropa. Penutupan sebagian atau seluruh selat dapat menimbulkan kelangkaan bahan bakar aviasi, yang pada gilirannya meningkatkan tarif tiket pesawat dan mengganggu jaringan logistik global. Beberapa analis memperkirakan bahwa gangguan pada Selat Hormuz dapat menambah biaya operasional maskapai penerbangan hingga 15 persen, menambah beban pada industri pariwisata yang masih berusaha pulih pasca‑pandemi.
Di Eropa, kekhawatiran atas krisis bahan bakar jet semakin menguat. Negara-negara seperti Jerman, Prancis, dan Inggris telah melaporkan penurunan persediaan jet fuel di bandara utama, memaksa otoritas penerbangan untuk memperketat alokasi bahan bakar dan menunda penerbangan non‑esensial. Dampak tersebut tidak hanya menurunkan pendapatan maskapai, tetapi juga menambah tekanan pada sektor logistik udara, yang menjadi tulang punggung perdagangan internasional. Pemerintah Eropa diperkirakan akan mempertimbangkan kebijakan darurat, termasuk subsidi sementara dan diversifikasi sumber bahan bakar, untuk menghindari krisis yang lebih luas.
Secara makroekonomi, konflik Iran menambah beban inflasi global. Harga energi yang naik memicu kenaikan biaya produksi barang dan jasa, yang pada akhirnya diteruskan ke konsumen. Badan Statistik Nasional beberapa negara melaporkan indeks harga konsumen (CPI) meningkat sebesar 0,6‑0,8 poin persentase dalam satu kuartal terakhir, dipicu oleh kenaikan harga bensin, diesel, dan listrik. Kebijakan moneter di banyak negara kini terpaksa menyesuaikan tingkat suku bunga untuk mengendalikan inflasi, yang berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Di tengah ketidakpastian ini, para pengamat menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi. Investasi dalam energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi yang rentan terhadap gejolak geopolitik. Selain itu, peningkatan efisiensi energi dan penggunaan bahan bakar alternatif, termasuk biofuel untuk penerbangan, menjadi prioritas bagi banyak negara yang ingin menstabilkan pasokan energi dan menurunkan emisi karbon.
Kesimpulannya, meskipun guncangan ekonomi akibat perang Iran hanya setengah dari dampak Covid-19, konsekuensinya tetap signifikan bagi pasar energi global. Penurunan produksi minyak, gangguan di Selat Hormuz, dan krisis bahan bakar jet di Eropa menambah tekanan pada inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan energi nasional. Respons yang tepat meliputi peningkatan cadangan strategis, diversifikasi sumber energi, serta kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif untuk menahan dampak jangka pendek sambil mempercepat transisi ke energi bersih.