123Berita – 04 April 2026 | JAKARTA – Badan Urusan Logistik (BULOG) mengonfirmasi akan menyalurkan hasil panen tebu petani Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang dijadwalkan mulai Mei 2026, melalui perusahaan milik negara, PT Gula Makmur Makmur (PT GMM). Penyerapan ini akan dilakukan dengan harga yang ditetapkan pemerintah, menjamin pendapatan stabil bagi para petani di wilayah tersebut.
Pengumuman ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat rantai pasokan gula domestik serta memberikan kepastian harga kepada petani. BULOG, yang selama ini dikenal sebagai lembaga pengelola stok pangan strategis, kini memperluas perannya ke sektor perkebunan tebu, menanggapi tantangan fluktuasi harga pasar global yang dapat menurunkan daya beli petani.
Rencana penyerapan tebu ini mencakup seluruh petani yang terdaftar di program subsidi dan pendampingan pertanian daerah Blora. Dengan estimasi total produksi tebu mencapai sekitar 1,2 juta ton pada musim 2026, PT GMM diproyeksikan akan menjadi pembeli utama, mengonversi tebu menjadi gula pasir serta produk turunan lainnya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
“Kami berkomitmen menyediakan jalur pemasaran yang adil dan transparan bagi petani tebu di Blora,” ujar Kepala Divisi Pangan BULOG, Rina Susanti, dalam sebuah konferensi pers virtual pada Senin, 1 April 2026. “Melalui kemitraan dengan PT GMM, kami dapat menjamin harga yang telah ditetapkan pemerintah, sehingga petani tidak terpapar risiko penurunan harga pasar yang tidak menentu.”
PT GMM, yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah Kementerian Perindustrian, memiliki kapasitas pengolahan yang cukup untuk menampung volume tebu yang diharapkan. Direktur Utama PT GMM, Budi Hartono, menambahkan bahwa perusahaan akan menyesuaikan kapasitas produksi pabrik guna mengoptimalkan penerimaan tebu pada musim panen.
- Target produksi tebu di Blora tahun 2026: 1,2 juta ton.
- Harga pemerintah yang dijamin: Rp 1.300 per kilogram tebu basah (misalnya).
- Waktu penyerapan: mulai Mei 2026 hingga September 2026.
- Pembelian melalui PT GMM dengan dukungan logistik BULOG.
Pengaturan harga pemerintah ini diharapkan dapat menstabilkan pendapatan petani, terutama mengingat harga gula dunia yang berfluktuasi akibat faktor geopolitik dan perubahan iklim. Dengan adanya jaminan harga, petani dapat merencanakan investasi pada teknologi pertanian, penggunaan pupuk dan pestisida yang lebih efisien, serta peningkatan produktivitas lahan.
Selain manfaat ekonomi, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan sosial di Blora, sebuah kabupaten yang mayoritas penduduknya bergantung pada sektor pertanian. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, sektor pertanian menyumbang lebih dari 40% dari total PDB kabupaten, dengan tebu sebagai komoditas unggulan kedua setelah padi.
Para petani di Blora menyambut baik kebijakan ini. “Selama ini kami sering kali harus menunggu penawaran harga yang tidak menentu dari pembeli swasta,” kata Suharto, seorang petani tebu berusia 45 tahun. “Jika pemerintah menjamin harga, kami bisa lebih tenang dan fokus pada peningkatan kualitas tebu kami.”
Pemerintah juga menyiapkan program pelatihan bagi petani untuk menerapkan praktik pertanian berkelanjutan, termasuk penggunaan varietas tebu yang tahan terhadap hama dan perubahan iklim. Kementerian Pertanian menegaskan komitmennya dalam menyediakan bibit unggul, pelatihan mekanisasi, serta akses permodalan melalui lembaga keuangan mikro.
Dengan dukungan logistik BULOG, proses penjemputan tebu dijadwalkan akan dilakukan secara terkoordinasi, meminimalisir penundaan dan kerusakan pasca panen. Tim logistik akan menyiapkan truk berpendingin serta fasilitas penyimpanan sementara di titik-titik strategis di Kabupaten Blora.
Secara keseluruhan, kolaborasi antara BULOG, PT GMM, dan pemerintah menandai langkah signifikan dalam mengintegrasikan kebijakan agribisnis nasional dengan kepentingan petani lokal. Diharapkan, model ini dapat direplikasi di provinsi lain dengan produksi tebu yang tinggi, memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan daya saing industri gula Indonesia di pasar global.
Dengan jaminan harga pemerintah dan dukungan infrastruktur, petani Blora diharapkan dapat menunaikan kontrak penyerapan tebu dengan keyakinan penuh, menjadikan musim panen 2026 sebagai momentum peningkatan pendapatan dan kesejahteraan komunitas pertanian setempat.





