123Berita – 04 April 2026 | Direktur Utama Perum BULOG, Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, melakukan kunjungan kerja ke PT Gendhis Multi Manis (GMM) di Blora, Jawa Tengah, pada Jumat, 3 April 2024. Kunjungan tersebut menandai langkah konkret pemerintah dalam menstabilkan pasar gula nasional melalui skema serap tebu petani dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Dalam pertemuan yang dihadiri oleh pimpinan GMM serta perwakilan petani lokal, Dr. Ahmad menegaskan komitmen BULOK untuk membeli seluruh produksi tebu petani Blora yang memenuhi kriteria kualitas, dengan harga yang sesuai dengan kebijakan pemerintah. “Kami bertekad memastikan petani tidak dirugikan oleh fluktuasi harga pasar internasional. Dengan harga pemerintah, petani dapat merencanakan produksi secara lebih pasti,” ujarnya.
PT GMM, sebagai perusahaan pengolahan gula terbesar di wilayah tersebut, berperan sebagai perantara antara petani dan BULOG. Kepala Operasional GMM, Budi Santoso, menjelaskan bahwa kerja sama ini akan memfasilitasi penyaluran tebu secara efisien, mengingat GMM telah memiliki infrastruktur penyimpanan dan transportasi yang memadai.
Berikut poin-poin penting yang disepakati dalam rapat kerja tersebut:
- Serap tebu petani Blora akan dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari musim panen 2024/2025.
- Harga tebu yang akan dibayarkan mengikuti ketentuan Harga Pemerintah (HP) yang diumumkan oleh Kementerian Pertanian.
- Volume target awal mencapai 150.000 ton tebu, dengan kemungkinan peningkatan tergantung pada hasil panen dan kualitas.
- BULOG akan menyalurkan pembayaran secara langsung kepada petani melalui sistem transfer digital, meminimalisir penundaan.
- GMM akan menyediakan layanan teknis bagi petani untuk meningkatkan kualitas hasil tebu, termasuk pelatihan pemupukan dan manajemen kebun.
Kesepakatan ini tidak hanya memberi kepastian pendapatan bagi petani, tetapi juga mendukung stabilitas harga gula di pasar domestik. Selama beberapa tahun terakhir, volatilitas harga gula dunia berdampak pada fluktuasi harga gula di dalam negeri, menimbulkan tekanan pada konsumen dan produsen. Dengan adanya penyerapan tebu oleh BULOG, diharapkan pasokan gula dalam negeri dapat terpenuhi tanpa tergantung pada impor yang mahal.
Petani tebu di Blora, yang mayoritas berukuran kecil, menyambut baik kebijakan ini. “Selama ini kami sering terpaksa menjual tebu dengan harga di bawah biaya produksi karena pasar tidak menampung semua hasil panen. Kini, dengan harga pemerintah yang dijamin, kami bisa mengelola kebun lebih baik dan meningkatkan kesejahteraan keluarga,” kata Siti Nurjanah, seorang petani yang mewakili kelompok tani setempat.
Selain manfaat ekonomi, kerja sama ini diharapkan dapat menstimulus pengembangan agribisnis di wilayah Blora. Dengan adanya kepastian pasar, petani dapat berinvestasi pada teknologi pertanian modern, seperti penggunaan bibit unggul, irigasi tetes, dan mekanisasi. Hal ini selaras dengan program pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian nasional hingga 4,5% per tahun.
Pemerintah menegaskan bahwa penetapan Harga Pemerintah merupakan upaya strategis untuk melindungi petani dari spekulasi harga serta menjaga daya beli konsumen. Harga tersebut ditetapkan setelah mempertimbangkan biaya produksi, margin wirausaha, dan kebutuhan stok strategis negara. Dengan BULOK sebagai penyalur utama, mekanisme distribusi menjadi lebih terkontrol dan transparan.
Kerja sama ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha lain di sektor gula untuk menyesuaikan strategi mereka. GMM, sebagai pemain utama di regional, akan meningkatkan kapasitas pengolahan untuk mengakomodasi volume tebu yang lebih besar. Pada sisi lain, BULOK berencana memperluas jaringan penyerapan ke kabupaten tetangga, mengoptimalkan jaringan logistik yang sudah ada.
Secara keseluruhan, sinergi antara BULOK, GMM, dan petani Blora menandai langkah penting dalam rangka menstabilkan pasar gula domestik sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan kebijakan harga yang adil, dukungan infrastruktur, dan komitmen bersama, diharapkan sektor gula Indonesia dapat kembali kompetitif di tingkat global.
Ke depan, pihak terkait berkomitmen untuk terus memantau pelaksanaan program, mengidentifikasi hambatan, dan melakukan penyesuaian kebijakan bila diperlukan. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi tebu, tetapi juga memberi contoh model kolaboratif yang dapat diterapkan di daerah agraris lain di Indonesia.





