123Berita – 09 April 2026 | Peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengumumkan pencapaian penting dalam upaya diversifikasi energi nasional dengan meluncurkan “Benwit“, sebuah bensin yang diproduksi dari minyak sawit. Inovasi ini diklaim mampu menurunkan emisi karbon secara signifikan sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar minyak (BBM) fosil, yang selama ini menjadi tulang punggung transportasi negara.
Proyek Benwit dibawa oleh tim riset lintas disiplin yang dipimpin oleh Dr. Ahmad Fauzi, seorang ahli kimia proses dengan pengalaman lebih dua dekade di industri energi. Menurut beliau, proses sintesis Benwit melibatkan konversi trigliserida dalam minyak sawit menjadi hidrokarbon yang memiliki sifat kimia mirip dengan bensin konvensional. Teknologi ini memanfaatkan katalis heterogen berbasis nikel‑molybdenum yang memungkinkan reaksi dehidrogenasi dan cracking terjadi pada suhu relatif lebih rendah, sehingga konsumsi energi pada tahap produksi dapat ditekan.
Keunggulan utama Benwit terletak pada profil emisi yang lebih bersih. Uji laboratorium yang dilakukan di laboratorium kimia ITS menunjukkan bahwa pembakaran Benwit menghasilkan emisi CO2 sekitar 15% lebih rendah dibandingkan bensin standar. Selain itu, kandungan sulfur dan partikel PM2,5 juga berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal). Hasil ini memberikan harapan bagi pemerintah untuk memenuhi komitmen pengurangan emisi dalam Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN‑GRK).
Di sisi lain, pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku bensin membuka peluang baru bagi sektor agrikultur Indonesia. Dengan nilai produksi sawit yang terus meningkat, para petani dapat memperoleh pasar tambahan selain minyak goreng tradisional. Pemerintah Kementerian Pertanian menilai bahwa diversifikasi nilai tambah ini dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi volatilitas harga komoditas global.
- Proses produksi: ekstraksi minyak sawit → filtrasi → katalisis dehidrogenasi → cracking → distilasi menjadi bensin.
- Katalis utama: nikel‑molybdenum pada dukungan alumina.
- Emisi CO2: penurunan 15% dibandingkan bensin fosil.
- Kualitas bahan bakar: oktan rating 92, sesuai standar SPBU nasional.
Implementasi skala industri masih memerlukan investasi signifikan, terutama pada fasilitas pengolahan yang harus memenuhi standar keamanan dan lingkungan. Untuk itu, ITS telah menjalin kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) serta beberapa perusahaan petrokimia lokal guna menguji kelayakan komersial Benwit di beberapa SPBU pilot di Jawa Timur. Program uji coba ini dijadwalkan berlangsung selama enam bulan, dengan target pengukuran performa kendaraan, konsumsi bahan bakar, serta dampak lingkungan jangka panjang.
Para ahli energi menilai bahwa Benwit bukan sekadar alternatif bahan bakar, melainkan langkah strategis menuju ekonomi berbasis bioenergi. “Kita harus melihat Benwit sebagai bagian dari portfolio energi terbarukan, yang meliputi bioetanol, biodiesel, serta energi listrik dari sumber terbarukan,” ujar Prof. Rina Wulandari, pakar kebijakan energi dari Universitas Indonesia. Ia menambahkan bahwa kebijakan fiskal yang mendukung, seperti insentif pajak untuk bahan bakar bio, akan mempercepat adopsi teknologi ini di pasar.
Namun, tidak semua pihak menyambut baik inisiatif ini tanpa kritik. Beberapa organisasi lingkungan mengingatkan bahwa perlu ada regulasi ketat untuk memastikan penanaman sawit tidak memperparah deforestasi. Mereka menekankan pentingnya sertifikasi berkelanjutan serta penggunaan lahan marginal untuk produksi sawit biofuel, sehingga tidak mengorbankan hutan tropis yang menjadi penyerap karbon utama.
Dalam konteks geopolitik energi, Benwit juga dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen energi mandiri di Asia Tenggara. Ketika krisis energi global mengakibatkan fluktuasi harga minyak mentah, memiliki sumber bahan bakar domestik yang dapat diproduksi secara berkelanjutan akan memberikan stabilitas ekonomi serta mengurangi tekanan pada neraca perdagangan.
Kesimpulannya, Benwit menandai langkah penting dalam transformasi energi Indonesia. Dengan menggabungkan keahlian riset akademik, dukungan industri, dan potensi agrikultur nasional, inovasi ini berpotensi menurunkan emisi karbon, meningkatkan ketahanan energi, dan membuka peluang ekonomi baru bagi petani sawit. Keberhasilan fase uji coba dan adopsi kebijakan yang mendukung akan menjadi penentu utama apakah Benwit dapat beralih dari laboratorium ke jaringan distribusi bahan bakar nasional.